Karya seni Indonesia-Belanda, telah berhubungan intim sejak abad ke 17. Pameran Beyond the Dutch memperlihatkan koleksi dari tahun 1900 sampai sekarang.
Buat saya, yang buta soal seni, suguhan di Museum Centraal Utrecht tersebut membuka pemikiran: ternyata seniman-seniman Indonesia hebat -nggak kalah- sama seniman Eropa, khususnya Belanda. Beberapa lukisan, seperti dijelaskan ahlinya, memperlihatkan guratan-guratan Indonesia. Demikian sebaliknya, beberapa karya, menunjukkan sentuhan-sentuhan Belanda dan Eropa.
Beyond the Dutch menyajikan tiga tema besar. Karya pada masa penjajahan, masa revolusi kemerdekaan dan masa kini. Puluhan artis dilibatkan dalam pameran yang menyita dua pertiga ruang museum.
Begitu masuk, sajian "prajurit kraton" menyambut. Suara tambur terdengar, menggoda pengunjung mencari tahu.
Karya Jompet Kuswidananto nampaknya memang pas sebagai awal. Latar film hitam putih seorang lelaki bermain kuda lumping di pabrik(gula?) ditambah instalasi sepatu bot, genderang, topi joki kuda, bedil dan lambang kraton Yogyakarta, plus audio, kompak menghipnotis.
Tentu saja masih banyak karya lain memukau. Video tak mampu mencerminkan isi Beyond the Dutch, dan jelas, tak bisa mewakili maha pesan karya-karya di sana. Artis di tayangan kecil ini saja hanya tiga, dari delapan orang yang hadir saat saya meliput.
Kalau ingin menikmati secara lengkap, tak lain, harus datang sendiri. Beyond the Dutch digelar dari tanggal 16 Oktober 2009 sampai 10 Januari 2010.

















Kirim komentar