Jakarta baru saja mendapat patung baru, kali ini patung presiden Amerika Serikat Barack Obama semasa kecilnya.
Keberadaan patung ini mengundang diskusi pro dan kontra. Ada yang berpendapat Obama tidak berjasa untuk Indonesia jadi buat apa mendirikan patung? Nasionalisme picik, itulah jawaban mereka yang setuju, misalnya sejarawan dan pengamat Jakarta Universitas Indonesia JJ Rizal. Lalu mengapa Jakarta perlu patung presiden Amerika Serikat?
Patung ini ditempatkan di kawasan Menteng, di mana Barack Obama dulu bersekolah, yang meresmikannya ibu walikota Jakarta Pusat. Para penentang patung ini diberitakan ribuan dan mereka berunjuk rasa. Namun, menurut sejarawan JJ Rizal, tidak perlu diributkan, karena keberadaan patung ini ada segi positifnya.
Ikon
Patung ini adalah semacam ikon untuk Jakarta, bagian dari budaya pop, seperti gambar Che Guevara, revolusioner Kuba yang menjadi hiasan di t-shirt anak-anak muda. Orang perlu teladan, tapi di Republik Indonesia saat ini sedikit sekali orang yang bisa diteladani. Obama bagi masyarakat Jakarta adalah bagian dari Jakarta yang beragam dan secara tidak langsung bisa memberi inspirasi tentang pluralisme.
Mereka yang memprotes patung ini beralasan keberadaannya melanggar nasionalisme, karena Obama bukan bagian dari sejarah Indonesia. Namun justru mereka ini kurang tahu apa yang dimaksud dengan nasionalisme oleh misalnya tokoh nasionalisme terpenting, Soekarno. Ia berpendapat nasionalisme tumbuh di taman sari internasionalisme.
Klik tanda panah untuk mendengarkan wawancara lengkap dengan J.J. Rizal
Sekarang setelah Orde Baru semua yang berkaitan dengan dunia internsional diganti, ada perkembangan dalam nasionalisme yang anti dunia luar. Yang mencolok, kelompok anti patung Obama ini bukan dari Jakarta namun dari Bandung. Ini bukan nasionalisme tapi chauvinisme, nasionalisme sempit. Demikian sejarawan J.J. Rizal.
Seluruh masyarakat Indonesia termasuk elitenya tidak membaca sejarah Indonesia, tambah J.J. Rizal. Obama punya jejak historis pendek di Indonesia. Menurutnya, Obama selalu menunjuk pada masa kecilnya di Indonesia, ia bisa merasakan kehidupan di tingkat rakyat kecil misalnya dengan menunjuk pada makanan nasi goreng atau bakso.
Itu memorinya Obama tentang Indonesia, inilah sebabnya ia bisa hidup di hati rakyat kecil Jakarta, walaupun patungnya ada di kawasan elite Menteng. Sekian J.J. Rizal, pengamat Jakarta dan sejarawan Universitas Indonesia.





















dari pada pasang patung obama, jauh kemana-mana lebih baik diriin patung prita mulyasari, yang jelas2 sebagai simbol perlawanan kaum perempuan atas ketidakadailn hukum di negeri ini
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.