Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Kamis 23 Februari RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Enter a description of the photo here
Avatar Paddy Maguire
Map
Amstelveen, Belanda
Amstelveen, Belanda

Penggunaaan Mode dalam Memerangi Buruh Anak

Diterbitkan : 23 November 2009 - 7:22pm | Oleh Paddy Maguire
Diarsip dalam:

Para perancang dan pengusaha Belanda bergabung bersama untuk meluncurkan toko yang menjual pakaian-pakaian produksi pabrik yang bebas dari tenaga kerja anak di negara- negara berkembang.

 

Toko baru ini, CLF (Child Labour Free) dibuka di Amstelveen, pinggiran kota Amsterdam untuk mempromosikan ide tersebut. Selama sepuluh hari rak-rak pakaian toko tersebut hanya akan menyediakan pakaian produksi pabrik-pabrik yang telah benar- benar berusaha untuk memastikan bahwa tidak ada anak-anak yang terlibat dalam produksinya.
 

Aktris Caroline de Bruin dari acara opera sabun Belanda terkenal, Goede Tijden Slechte Tijden (Good Times Bad Times), hadir dalam peluncuran tersebut. de Bruin bercerita kepada Radio Nederland alasannya mengambil ikut dalam proyek tersebut. Laporan Paddy Maguire.
 

"Anda tidak mau berpikir gaun yang Anda beli untuk putri Anda dijahit oleh gadis seusianya. Ketika saya mendengar tentang sejumlah inisiatif di Belanda, dengan senang hati saya bergabung."
 

De Bruin sudah menjadi partisipan aktif dalam kelompok Kids Rights selama beberapa tahun. Dia mengatakan mendukung toko karena itu membantu menyebarkan pesan bahwa anak-anak seharusnya tidak dipaksa bekerja untuk dunia luas.
 

"Sulit untuk menilai dari sebuah gaun apakah gaun itu dibuat oleh anak-anak atau bukan. Toko ini melakukan yang terbaik untuk menjamin tidak ada pekerja anak dalam seluruh proses produksi."

 

Kenyataannya, sulit untuk yakin tidak ada pekerja anak dalam produksi, karena pelbagai bahan yang digunakan untuk membuat sepotong baju bisa jadi berasal dari berbagai tempat di dunia. Tapi toko ini bertujuan untuk bisa sepenuhnya yakin dengan menjalankan praktek bisnis secara etis. De Bruin mengatakan menurutnya para pelanggan juga merasakan hal yang sama.

"Menurut saya orang setuju 100 persen. Tidak sulit untuk mendapat persetujuan dalam hal ini. Tidak ada orang yang mau bajunya dibuat oleh anak-anak. Anda cuma perlu tahu di mana bisa membelinya. Toko itu ada di sini dan Anda bisa membeli dari sini."
 

Mencari cara mengeluarkan anak-anak dari pabrik memerlukan pendidikan, demikian Gerard Oonk, direktur Komite India untuk Belanda dan bagian dari Kampanye Stop Buruh Anak. Organisasinya mencoba mencegah seluruh bentuk buruh anak yang membuat anak tidak bisa sekolah. Dia juga percaya perusahaan bertanggungjawab menghentikan hal ini.
 

"Kami tidak mengatakan seluruh produk di sini sepenuhnya bebas tenaga buruh anak. Di belakangnya ada mata rantai persediaan yang panjang, dan hampir tidak mungkin untuk benar-benar yakin. Tapi sejumlah perusahaan diawasi secara independen dan yang lain bersedia bergabung dengan inisiatif serupa."

 

Perusahaan kuatir dengan ongkos, seringkali dengan mengorbankan kode etik, tapi Oonk mengatakan ongkos yang dibutuhkan seringkali lebih berupa usaha ketimbang uang.
 

"Tidak akan jauh lebih mahal memperkerjakan seorang dewasa ketimbang seorang anak, tapi memang membutuhkan upaya lebih. Jika Anda memproduksi di India atau Bangladesh, dan Anda memastikan pemilik perusahaan membayar upah sewajarnya serta tidak membiarkan anak-anak bekerja, ini hanya akan menambah sedikit saja ongkos. Jika mereka bersedia membayar beberapa sen ekstra, ini bisa meningkatkan upah orang dewasa dan anak-anak tidak perlu lagi bekerja."
 

Walaupun segala upaya yang dilaksanakan, buruh anak sudah sangat berakar di sebagian kawasan di dunia, dan ini membuat tugas tampak mustahil dijalankan, tapi Oonk tetap optimis.
 

"Ini hanya masalah langkah meningkat yang realistis. Di Andhra Pradesh, India, kami bekerja sama dengan sebuah organisasi yang sudah bisa mengembalikan 600.000 anak ke sekolah dengan bekerja dengan masyarakat, para guru, pemerintah setempat, orang tua dan anak-anak itu sendiri. Saat ini mereka melatih ratusan organisasi lain melakukan hal sama. Mereka bahkan melatih pejabat pemerintah untuk meraih anak-anak perempuan yang bekerja di rumah atau anak laki-laki yang bekerja di penggalian batu. Pesan ini juga disebarkan ke negara lain."
 

Para desainer dan label pakaian juga ingin terlibat. Seorang pemimpin di bidangnya adalah Peter Ingwersen, pendiri salah satu merek yang diwakili di toko CLF, Bllack Noir. MEnurutnya, ada pasar untuk pakaian bebas tenaga buruh anak, walaupun itu berarti perjuangan untuk membuka pikiran orang-orang untuk menerima hal tersebut.

 

"Susah untuk mengubah bisnis dan konsumen. Tapi kita harus berada di garis depan. Jadi, apakah panutan mode selanjutnya? Bisa jadi 'bersikap etis'. Saya percaya bersikap etis adalah semangat waktu dan konsumen dalam beberapa tahun ke depan akan mulai menuntut standar tertentu dari merek yang mereka pilih. Di samping kualitas bagus dan desain kuat, orang akan minta adanya sudut pandang etis."
 

  • ©
  • ©
  • ©

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Restoran Korea Utara Pertama di Negara Barat
Walaupun Korea Utara adalah sebuah negara terkucil, tapi dapurnya terbuka...
Tak Sudi Lihat Langsung Makam Westerling
Yayasan K.U.K.B. tengah mempersiapkan proses hukum terhadap negara Belanda...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET