Hari-hari terakhir KTT Iklim atau COP 15 di Kopenhagen diwarnai dengan ketidakpuasan para pengamat atas jalannya perundingan.
Indonesia dinilai lemah dalam memperjuangkan kepentingan negara berkembang. Selain itu, para wakil lembaga non-profit Indonesia juga mengkritik keras Denmark sebagai panitia penyelenggara karena dianggap gagal menjadi tuan rumah yang baik. Laporan Bram Hendrawan dari Kopenhagen.
Negosiasi
Peserta COP 15 tidak hanya terdiri dari utusan pemerintah yang melakukan negosiasi politik dan teknis untuk mencapai target pengurangan pemanasan bumi.
Para pengamat yang terdiri dari berbagai utusan lembaga non-pemerintah, seperti LSM ataupun lembaga penelitian, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari KTT. Mereka mengamati jalannya perundingan dan memainkan peran penting dalam pembahasan agenda KTT. Memasuki hari-hari terakhir KTT, para pengamat merasa tidak puas dengan jalannya konferensi.
Indonesia lemah
Beberapa pengamat dari LSM menganggap Indonesia gagal mengambil peran dalam perundingan, terutama dalam pembahasan REDD, salah satu agenda utama KTT tentang mekanisme perdagangan karbon untuk mengurangi emisi CO2 akibat pembabatan hutan.
Menurut Teguh Surya, Kepala Advokasi dan Jaringan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Walhi, Indonesia terlalu 'jual murah'.
Kacau
Para pengamat juga mengeritik Denmark sebagai panitia penyelenggara karena kurang bisa mengantisipasi membludaknya jumlah peserta. Kapasitas gedung hanya bisa menampung 15 ribu orang, padahal jumlah peserta yang hadir lebih dari 30 ribu.
Para peserta harus antri, bahkan ada yang sampai berjam-jam untuk bisa masuk gedung konferensi. Jana Supriyatna Direktur Eksekutif LSM Conservation International Indonesia, tidak puas dengan penyelenggaraan KTT.
Jana Supriyatna: "Karena kapasitas gedung yang tidak bisa menampung semua peserta maka panitia menetapkan pembatasan jumlah peserta yang bisa memasuki gedung pertemuan."
Pembatasan
Menurut Stibniati Atmadja dari Lembaga Penelitian CIFOR, berbagai pembatasan ini mengakibatkan sulitnya para pengamat untuk bisa memantau jalannya perundingan.
COP 15 Kopenhagen juga diwarnai dengan berbagai penangkapan para demonstran. Menurut Teguh Surya ini adalah bukti pengekangan hak berpendapat.
Agenda utama dua hari terakhir KTT adalah pertemuan para pemimpin dunia. Lebih dari 100 kepala negara akan hadir. Presiden SBY akan berpidato Kamis (17/12) siang waktu setempat. Walau tidak puas dengan pencapaian perundingan sampai saat ini, para pengamat dari LSM tetap berharap akan dicapai kesepakatan yang akan membawa perubahan dalam kebijakan iklim dunia.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.