Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Minggu 12 Februari RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Menjadi warga negara Belanda
Avatar Sandesh Bhugaloo
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Hari Ini Saya Menjadi Warga Negara Belanda

Diterbitkan : 12 September 2009 - 8:26pm | Oleh Sandesh Bhugaloo
Diarsip dalam:

Pertama kali saya berkenalan dengan Belanda, ketika saya berusia sekitar delapan tahun.

Dans le port d'Amsterdam "Di pelabuhan Amsterdam", demikian bunyi suara penuh semangat penyanyi Jacques Brel di pemutar piringan hitam tua milik ayah saya di rumah kami di tanah air Mauritius.

Ketika itu saya tidak tahu maknanya, baru 26 tahun kemudian, ketika saya berada di balaikota Amsterdam, menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Het Wilhelmus. Bersama saya berdiri sekelompok orang dari 37 warga negara lain.

Hari ini saya menjadi warga negara Belanda.

Tepat waktu
Tepat pukul 15:00, pintu besar balaikota Amsterdam buka. Teman saya dari Liberia berkata, surat undangan memohon supaya hadirin datang tepat waktu. Kalau tidak, hadirin tidak bisa menjadi orang Belanda.

Upacara ini mata butir terakhir dari serangkaian kewajiban untuk memperoleh kewarganegaraan Belanda. Salah satu kewajiban mengikuti 'inburgeringscursus' atau kursus integrasi.

Saat berusia 32 tahun, saya harus sekolah empat hari per minggu, belajar bahasa, budaya, sejarah dan adat-istiadat Belanda. Di satu pihak ini sempat menimbulkan frustrasi, karena mengganggu kehidupan sehari-hari.

Tapi di sisi lain saya memperoleh teman baru. Mereka membantu saya memahami orang Belanda serta adat-istiadat mereka.

Jatuh cinta
Proses menjadi seorang warga negara Belanda bermula lima tahun lalu ketika jatuh cinta pada Ellen, isteri saya sekarang. Setelah bermalam-malam tak dapat tidur, cemas apakah berhasil datang ke Belanda untuk bisa bersama dengannya, dan setelah banyak mengurus surat, saya akhirnya diberikan izin tinggal.

Alunan piano menyejukkan, bernada lagu rakyat Belanda menyambut saya serta calon-calon warga negara Belanda lain. Layar lebar menayangkan rekaman film hitam-putih, menggambarkan Amsterdam zaman dulu. Rasa gembira terasa di ruangan itu.

Bendera Belanda kini terpampang. Satu per satu kami dipanggil untuk datang ke panggung. Kami diminta berjanji dengan sepenuh hati menghargai dan mentaati konstitusi Belanda, salah satu kewajiban lain.

Diskriminasi
Pengalaman saya tidak seberat dibandingkan kisah-kisah lain yang saya dengar, di antaranya kondisi hidup berat di pusat penampungan pemohon suaka, birokrasi tak kunjung selesai, diskriminasi dan setelah mengungsi dari negara asal, bertahun-tahun hidup tanpa masa depan jelas.

Rasa bahagia dan lega mulai tampak di wajah beberapa hadirin upacara. "Dalam hidup ini, anda harus sabar. Jika sabar, segalanya bisa terjadi," kata Raphael dari Kongo-Brazzaville kepada saya, penuh emosi. Ia datang ke sini sebagai pengungsi, delapan tahun silam.

Kini giliran saya naik panggung. Pembawa acara bercanda dan meminta saya mengatakan dalam bahasa ibu "Saya jadi warga negara Belanda. Pejabat pemkot itu, Bapak Adema, laki-laki ramah.

Dalam pidatonya, ia menjelaskan pentingnya berintegrasi dan menghargai budaya Belanda. Tapi ia juga menasehatkan tetap jujur pada diri sendiri sehingga orang Belanda juga dapat belajar dari kami.

Abad Emas
Jabatan tangan hangat, ijazah dan sebuah hadiah, yaitu buku sejarah. Saya membaca tentang masa Abad Emas di mana pedagang Belanda berlayar keliling dunia, mengumpulkan kekayaan untuk membangun pusat bersejarah Amsterdam yang sangat indah.

Sekali lagi tanpa menyebut peran perbudakan di zaman itu. Entah bagaimana, 'sumbangan' Afrika kepada kekayaan itu tetap diabaikan.

Di tram, dalam perjalanan pulang, saya memandang anak saya berusia tiga minggu di kereta bayi. Saya bertanya kepada diri saya "Bisakah kita benar-benar menjadi orang Belanda di sini?"

Saya meragukannya ketika beberapa politisi tengah berdebat berapa besar biaya yang dikeluarkan pemerintah Belanda untuk pendatang ... berpaspor Belanda!

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Pecandu Narkoba Polandia Balik ke Negaranya
Orang Polandia di Belanda yang kecanduan alkohol dan narkoba, akan...
Amsterdam, Taman Ria bagi Wisatawan
Penduduk Amsterdam menghadapi pilihan berat. Warga yang tinggal di pusat...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET