Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Minggu 27 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Enter a description of the photo here
Avatar Fediya Andina
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Foto-Foto Terlarang dari Hindia Belanda

Diterbitkan : 7 Desember 2009 - 5:21pm | Oleh Fediya Andina
Diarsip dalam:

Selasa, 8 Desember diterbitkan buku yang berisikan foto-foto terlarang yang dibuat di Hindia-Belanda - nama Indonesia di zaman kolonial - antara tahun 1945 hingga akhir 1949.

 

Foto-foto dilarang pemerintah Batavia, karena hanya mau memberikan gambaran yang positif tentang perang ketika itu. Foto tentara yang terluka tembakan, atau penduduk yang ditangkap dan diancam laras senapan, foto-foto yang boleh dibilang kontroversial, tidak pernah muncul di media Belanda. René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers menggabungkan hampir 200 foto dalam buku mereka 'Perang Kolonial 1945-1949: Dari Hindia Belanda ke Indonesia. Radio Nederland berbincang dengan Erik Somers, salah satu penulisnya.

René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers memang sudah lama menyelidiki berbagai arsip gambar dan juga fotografi mengenai Perang Dunia II. Selain itu mereka juga menyelidiki arsip-arsip foto di periode dekolonisasi Hindia-Belanda antara 1945 hingga 1949. Ketika itu banyak wartawan yang dipakai oleh pemerintah kolonial untuk membuat foto-foto perang. Para wartawan ini diwajibkan untuk menyerahkan semua foto yang dibuat kepada pemerintah Batavia untuk diseleksi, sebelum dikirim ke media di Belanda.

Disensor
Banyak foto yang tidak terseleksi karena dianggap mengandung unsur-unsur yang mengagetkan sehingga bisa meresahkan sanak keluarga serta penduduk Belanda. Foto serdadu yang terluka misalnya, atau tawanan perang, tidak pernah ditampilkan di media.

Sebenarnya periode 1945, setelah 17 Agustus dan 1949, dikenal dengan periode Bersiap, dan setelah itu dimulai aksi agresi I dan II oleh Belanda, dan berakhir dengan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda 27 Desember 1949. Istilah Belanda 'Politionele Actie' memang sengaja tidak digunakan oleh ketiga penulis. Menurut mereka istilah ini digunakan pemerintah Belanda untuk membenarkan aksi di Indonesia yaitu mengembalikan ketenangan dan pemerintahan di Hindia-Belanda, dan digunakan untuk menutup-nutupi apa yang terjadi ketika itu.

Setelah menyelidiki ratusan foto yang ditemukan, ketiganya menyimpulkan, bahwa sejak hari pertama pasukan Belanda datang ke Indonesia, dimulailah periode perang, dalam hal ini perang kolonial.

Memang saat itu banyak foto yang beredar mengenai perang. Tujuan utama buku ini adalah menerangkan kepada rakyat Belanda, bahwa pemberitaan mengenai perang ketika itu, terutama foto, telah terlebih dulu diseleksi, disensor oleh pemerintah, dinas intel dan militer Belanda. Hanya diperlihatkan foto-foto yang sesuai dengan kebijakan pemerintah, kebanyakan foto-foto yang menutup-nutupi dan tidak memperlihatkan situasi yang sebenarnya. Jadi foto-foto yang tidak membuat khawatir sanak keluarga para militer di Belanda. Ketika itu ada 120.000 tentara Belanda dikirim ke Indonesia.

Keadaan sesungguhnya
Foto-foto yang diterbitkan sekarang, justru foto yang dilarang atau ditolak oleh badan sensor, tapi oleh karena satu dan lain hal masih tetap disimpan di berbagai badan arsip. Foto-foto ini menunjukkan gambaran lain tentang perang, kekerasan, teror dan lainnya, atau gambaran perang sesungguhnya.

Rakyat Belanda tidak boleh merasa khawatir akan nasib tentara, sanak keluarga mereka yang ditugaskan ke Hindia-Belanda. Itulah tujuan utama. Setiap bentuk keresahan, apalagi tentangan terhadap perang ini membawa dampak negatif bagi pemerintah dan pimpinan militer Belanda ketika itu. Termasuk foto-foto di mana penduduk Indonesia menyambut gembira pasukan Belanda yang ketika itu dianggap sebagai 'pembebas'.

Kebijakan yang sama juga digunakan pemerintah Amerika Serikat dalam perang Irak. Dan juga di Afghanistan. Foto-foto yang dipublikasi sebisa mungkin tidak membuat orang bereaksi negatif. Foto-foto yang dibuat fotografer embedded, dan dibuat berdasarkan permintaan pemerintah atau militer.

Foto-foto ini bertolak belakang dengan cerita para serdadu yang kemudian kembali ke Belanda. Setibanya di tanah air mereka merasa tidak dihargai, karena gambaran publik tentang perang itu sangat positif. Tidak ada kejahatan, kekerasan, teror atau aksi berdarah.

Selain itu Belanda juga perlahan-lahan harus menerima bahwa mereka kehilangan wilayah koloni dan dari awalnya perang ini sudah dianggap gagal. Satu hal yang sudah pasti tidak menimbulkan simpati publik.

Reaksi
Banyak reaksi diterima ketiga penulis, terutama dari kalangan veteran KNIL di Belanda. dan juga dari anak-anak mereka, generasi kedua setelah perang. Buku ini, dan terutama foto-foto tersebut menjelaskan mengapa ayah mereka tidak mau berbicara tentang perang. Atau justru bercerita banyak mengenai berbagai kekerasan yang terjadi di saat perang, menjelang akhir hayat mereka. Dengan kata lain buku ini menceritakan sisi negatif dari perang.

Koloniale Oorlog: 1945-1949
René Kok, Erik Somers, Louis Zweers
Penerbit Carrera
ISBN: 978 90 488 0320 0

Terbit mulai 8 Desember 2009
 

Semua foto diambil dari buku

  • Seorang pemuda yang terluka diberi pertolongan medis oleh anggota brigade marinir Belanda.<br>&copy;
  • Operasi Quantico. Seorang serdadu marinir terlihat mengancam sekelompok warga Indonesia yang diintrogasi. <br>&copy;
  • Operasi Quantico. Seorang pemuda ditarik rambutnya agar keluar dari tempat persembunyian.<br>&copy;
  • Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati dielu-elukan oleh warga Indonesia, setelah berpidato di Yogyakarta, November 1949.<br>&copy;
  • Fotografer dan pembuat film Belanda di Batavia<br>&copy;
  • Warga Belanda di kamp internering di batavia, September 1945<br>&copy;

Diskusi

Tommy lipton 7 Mei 2012 - 10:06am

Fucking Dutch, asshole

UDIN 28 Februari 2012 - 12:18pm / INDONESIA

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXSAAAAAAAAAAACCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCC

UDIN 28 Februari 2012 - 12:17pm / G ARUT

GOBBBBBROG

udi.wardoyo 2 September 2011 - 7:59am / Indonesia

klo di perhatikan pada foto 'Operasi Quantico. Seorang serdadu marinir terlihat mengancam sekelompok warga Indonesia yang diintrogasi' kq di belakang nampak samar2 tower sutet ya? atau aq yang salah lihat???? tx.

batak 13 Juli 2011 - 10:26pm / indonesia

hmmmm,.. ini bagus untuk kemajuan pengembangan penelitian.., kenapa dulu VOC membantai etnis tiong hoa? sedangkan yang membantai etnis ambon dan makasar

Ethan Christop Crystall 29 Mei 2011 - 4:55pm / London - Singapore

Ouh No, Clark (c) !

voc 10 Maret 2011 - 1:47am / belanda depok

kowe orang inlander ngapain masang poto itu di sini...
nei... nei.. nei.. itu dilarang sama ratu eyke..

Dana 10 Februari 2011 - 3:46am / indonesia

Buku ini bisa didapatkan dimana?

irene.... 27 Oktober 2010 - 10:16pm / indonesia

kamera Leica itu camera bukan murah punya loooo..... canon aja lewaaattt

Ethan Christop Crystall 29 Mei 2011 - 4:53pm / Indoenesia - Singapore

agree for me, de Lol RAJA(c)TechNology comment !

Fandy T. 28 September 2010 - 1:31pm

eh kalian harus maklum yg namanya perang gak ada mewah kakek gue juga adalah veteran tentara KNIL dan kalian juga jangan cuma melihat dari sisi indonesia saja blum tentu pelajaran sejara yg kita pelajari semua tentang indonsia itu benar semuanya...

carot 1 September 2010 - 4:58am / Indonesia

itu gambar yang nomor 1
"Seorang pemuda yang terluka diberi pertolongan medis oleh anggota brigade marinir Belanda"

ditolong gimana???? yang ada malah ditodong pake senjata gitu!!! :mad:

AGUNG 14 Juli 2010 - 9:24am / INDONESIA

BISA MINTA DIKIRIM FOTO-FOTONYA KAH ?

Agus Yuniarso 30 Maret 2010 - 3:47pm / Indonesia

Fotografi berwarna sudah lazim dipergunakan di awal abad ke-20. Tapi mengapa ya orang Belanda di Indonesia saat itu tidak menggunakannya? Jawaban pertanyaan ini mungkin bisa menjelaskan betapa sulitnya mendapatkan dokumen foto berwarna tentang suasana di Hindia Belanda / Indonesia antara tahun 1900an hingga 1950an ...

Fred van Midde 16 Desember 2009 - 1:42am / Indonesia
Geboren in Indonesia, opgegroeid in Nederland, nu genietend van mijn pensioen, weer in mijn geboorteland. Vandaag Radio Nederland ontdekt op internet...Bagus sekali.....fantastisch... bedankt (terima kasih)........selamat Natal & Tahun baru.... een gelukkig Kerstfeest en Nieuwjaar..
batak 13 Juli 2011 - 10:31pm / indonesia

vaders had de Indiase bezetters nederlandse???

bingo 11 Desember 2009 - 2:42am / Indonesia
Seperti yang dikatakan sodara cup itu benar. Pemerhati fotografi sedikit banyak pasti mengerti tentang perjalanan teknologi-nya. Orang awam mungkin tidak sadar, Fotografi berwarna bahkan telah ada di tahun 1861 dan mulai sering dipakai saat perang dunia pertama sekitar tahun 1917. Awal mulanya, kamera warna cenderung mahal dan studio cetak warna belum banyak, itulah sebabnya kamera yang dipake saat di indonesia adalah kamera standar biasa dengan kualitas yang cukup baik meski belum mendukung multicolor. Saran saya, carilah info dulu sebelum mengutarakan pendapat. Google adalah gudang komunikasi. Terima kasih.
egoiss 12 Desember 2009 - 3:18pm / indonesia
kayaknya orang ahli dalam masalah foto nich LIKE THIS !!
cup 11 Desember 2009 - 1:44am / indonesia
gan, jaman dulu kamera juga bisa bagus kok.. pake kamera leica itu gambrnya bagus jadi mungkin aja. jgn nuduh2 dulu.. btw gimana cara dapetin nih buku?
Slamet 11 Desember 2009 - 1:39am / Indonesia
Pingin sekali dapat buku itu. Apakah akan dijual ditoko2 buku terkenal di Indonesia? Kalau tidak, bagaimana ya bisa dapat? Mempunyai buku tersebut bisa mengingatkan atau memberi gambaran yang nyata bagaimana tentara Belanda telah memperlakukan orang Belanda pada jaman itu. Sehingga kita akan bisa lebih menghargai pahlawan2 Indonesia.
bholu brandal 10 Desember 2009 - 9:10pm / indonesia
jaman dulu udah kenal seni foto grafi yah....kok foto2nya keren banget kaya jaman sekarang,beda ma yg foto bung karno itu terlihat kasar.... aslikah?
Mufti 10 Desember 2009 - 6:04pm / Indonesia
Kenapa foto2 yang awal kualitasnya bagus seperti digital? Dibandingkan dengan foto2 lain dari sumber lain. Mengingat teknologi fotografi jaman dulu masih kasar(dibandingkan sekarang). Dari wajahnya sepertinya bukan wajah indonesia(yang dipegang tentara itu..)
EKA SUBEHI 10 Desember 2009 - 3:01pm / INDONESIA
apakah buku tersebut di jual bebas dan dimana bisa mendapatkannya
indra 10 Desember 2009 - 1:36pm / indonesia
informasi dimana saya dapat mendapatkan buku dan harganya
Wong 10 Desember 2009 - 1:05pm / Indonesia
Dimana bisa dapatin buku ini yah?
rizal 10 Desember 2009 - 12:15pm / Indonesia
Dimanakah saya bisa mendapatkan buku ini ?

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET