Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Minggu 27 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Enter a description of the photo here
Avatar Joss Wibisono
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Amerikanisasi Dunia Arsitektur Indonesia

Diterbitkan : 14 Oktober 2009 - 4:22pm | Oleh Joss Wibisono (Pauline van Roosmalen)
Diarsip dalam:

Setelah Indonesia merdeka, terjadi pergeseran pada dunia arsitektur Nusantara. Kalau pada zaman Belanda corak arsitekturnya lebih memperhatikan alam Indonesia, maka ketika arsitek Belanda hengkang, kaidah ini tidak lagi dianut.

 

Ke mana tata kota Indonesia bergeser? Berikut bincang-bincang bagian kedua rekan Joss Wibisono dengan Pauline van Roosmalen, pakar sejarah tata kota Indonesia.

Unduh
Ogah baca? Dengar/unduh versi audionya dengan mengklik ujung tanda panah berikut:

Maclaine Pont dan Karsten
Peletak dasar perencanaan kota di Indonesia tidak lain adalah para arsitek Belanda. Nama-nama seperti Henri Maclaine Pont (1885-1971) dan Thomas Karsten (1884-1945) adalah tokoh-tokoh yang berada di balik pembangunan wilayah Candi Baru di Semarang kemudian Darmo di Surabaya. Tapi bilangan-bilangan Menteng dan Gondangdia Baru di Jakarta serta pelbagai wilayah pemukiman lain di Badung, Bogor dan Malang juga merupakan rancangan arsitektur Belanda. Memang perencanaan mereka dipusatkan di Jawa, walau begitu kota-kota seperti Medan, Padang, Palembang, Banjarmasin dan Menado juga sempat disentuh oleh rancangan arsitek Belanda. Sesudah Maclaine Pont dan Karsten masih ada beberapa tokoh lain, seperti Vincent van Romondt, Jacobus Thijsse dan Soesilo yang adalah rekan-rekan Karsten.

Rancangan para arsitek Belanda ini selalu memperhatikan keadaan alam Indonesia, sebagai negara tropis. Bukan saja bahan bangunan, tetapi terutama juga model bangunannya, bagaimana bangunan itu harus akrab dengan udara tropis. Misalnya dengan atap tinggi untuk menghindari panas, atau dengan banyak jendela dan seterusnya.

Semula, ketika Indonesia merdeka dan Belanda mengakui kemerdekaan itu pada bulan Desember 1949, para arsitek Belanda tadi berniat tetap tinggal di Indonesia, melanjutkan pekerjaan mereka. Salah satu hasil rancangan mereka pada periode itu adalah bilangan Kebayoran Baru di Jakarta Selatan. Tetapi ketika hubungan Indonesia Belanda memburuk akibat masalah Irian, pada akhir tahun 1950an, orang Belanda diusir dari Indonesia. Pada saat itu orang beranggapan arsitek Indonesia akan mengambil alih posisi arsitek Belanda.

Amerikanisasi
Tetapi yang terjadi tidaklah demikian. Sepeninggal arsitek Belanda, yang datang di Indonesia adalah arsitek-arsitek Amerika, termasuk segelintir arsitek dari Jerman dan Austria. Tak lama kemudian berdatanganlah dosen arsitek dari dua universitas Amerika, Harvard dan Kentucky. Mereka juga bertindak sebagai konsultan. Lalu mengalir pula beasiswa dari Amerika, para mahasiswa Indonesia melanjutkan studi arsitektur di Amerika. Pada saat itulah muncul apa yang disebut Amerikanisasi dunia arsitektur dan perencanaan kota Indonesia. Kota-kota Indonesia dirancang lain sekali, standarnya adalah mobil pribadi, bangunan pencakar langit dan mesin penyejuk udara atau AC.

Pergeseran rancangan tata kota ini, dari tata kota Belanda yang lebih memperhatikan iklim Indonesia ke tata kota Amerika yang cuek dengan cuaca, diamati oleh Pauline van Roosmalen, pakar sejarah perencanaan kota dan arsitektur. Ia sempat mengadakan penelitian di Indonesia ketika menulis disertasi doktornya. Percakapan kedua dengan Van Roosmalen yang berlangsung di Institut Tropen KIT, dimulai dengan upaya kota Semarang merenovasi Pasar Johar, pasar karya arsitek Belanda Thomas Karsten. Bagaimana dia menilai upaya renovasi itu?

Pauline van Roosmalen [PvR]: Ya, saya berfikir paling penting mereka harus bicara dengan orang yang kerja di sana. Apa yang mereka perlukan? Kalau misalnya mereka perlu banyak colokan listrik atau yang lainnya, maka itu perlu didengar, asal jangan sampai mereka mau AC. Merekalah pemakai gedung ini. Ya, tentu saja ada masalah konservasi, teknis. Itu penting juga. Tapi paling penting mencoba mempertahankan gedung aslinya.

Radio Nederland [RNW]: Di bagian terakhir ringkasan disertasi anda, anda mengatakan setelah arsitek Belanda pergi, datang orang-orang Amerika, terjadi Amerikanisasi dunia arsitek Indonesia. Dan itu memang bisa dilihat di mana-mana. Di Surabaya misalnya di Kompleks Graha Famili semua jelas Amerika. Jadi tidak pernah ada kesempatan bagi arsitek-arsitek Indonesia sendiri untuk mengembangkan karya-karya mereka. Bagaimana menurut anda dominasi Amerika dalam dunia arsitek di Indonesia?

PvR: Terjadi di seluruh dunia ya Amerikanisasi ini. Tapi saya tahu juga bahwa ada banyak arsitek di Indonesia sekarang mencoba cari arsitektur gaya Indonesia. Tapi itu susah sekali karena apa sebenarnya arsitektur Indonesia? Ada Sumatra, terus di Sumatra ada Aceh, ada Sumatra Utara. Di Jawa sama. Jadi arsitektur Indonesia sebagai konsep sudah sangat susah.

Tapi ada yang mencoba dan ada yang berhasil juga. Walaupun saya tahu bahwa susah juga. Karena lebih gampang bikin tiruan bangunan-bangunan luar negeri, dan paling banyak Amerika. Tapi cuaca di Amerika beda sekali daripada di Indonesia. Jadi bagaimana kalau hanya bikin gedung pakai gelas, gimana di Indonesia yang beriklim tropis? Berarti perlu AC dari Januari sampai Desember. Gila sekali.

Syukur sekarang ada beberapa arsitek yang mencoba cari arsitektur Indonesia. Pakai bahan-bahan dari Indonesia. Misalnya bambu, misalnya kayu. Tapi saya tahu bahwa susah juga buat mereka. Tapi ada yang mencoba.

Bukan arsitektur
RNW: Bisa diberi contoh. Kalau saya kenal Romo Mangunwijaya, sekarang sudah meninggal. Beliau membangun rumah gaya Indonesia. Dan ada saya lihat satu rumah di Salatiga yang dibangun seperti itu. Ada penerusnya di Indonesia, menurut anda?

PvR: Ya, saya tahu. Tapi, kebanyakan hotel-hotel di Bali. Saya tahu tahu beberapa contoh di Bali. Arsitek ini misalnya pakai semen, tapi pakai bambu juga dan semua terbuka, sehingga ada angin, ACnya angin. Ya, ada juga.

RNW: Di Surabaya, di Kompleks Graha, ada pertokoan yang pakai patung-patung Romawi, bagaimana menurut anda, ini kan jelas pengaruh Amerika ya? Sepertinya Indonesia tidak punya patung. Bagaimana menurut anda pengaruh Amerika yang semacam itu?

PvR: Ya, kalau begitu hanya seperti lunarpark ya. Hahaha. Itu bukan arsitektur. Ada banyak bangunan di Indonesia tapi tidak berarti bahwa ada banyak arsitektur. Ya, saya memang benci. Kalau ada misalnya Tuscan Florida Style villa di Indonesia. Toscane itu daerah di Italia, sesudah mampir Florida lalu masuk Indonesia. Macam-macam. Tapi buat saya itu enggak bagus dan bukan arsitektur.

RNW: Mengapa menurut anda gaya-gaya seperti ini masuk Indonesia? Karena memang ada permintaannya ya?

PvR: Ada permintaan di Belanda juga. Hahaha. Dan di Belanda tidak ada arsitektur juga, kalau begitu. Itu bukan arsitektur. Nah, apakah memang ada arsitektur, itu pertanyaan susah juga. Seperti pertanyaan apa itu arsitektur Indonesia. Itu pertanyaan susah sekali. Tapi kalau hanya arsitektur, misalnya harus ada fungsinya, bahan-bahan sesuai dengan cuaca/iklim setempat. Ya, kalau ada Tuscan Style dari Florida di Indonesia, sesuai dengan apa? Dengan Italia? Atau dengan Florida? Atau dengan Indonesia?

Tapi perancang gedung ini seringkali bukan arsitek, hanya anemer, kontraktor saja. Berarti bahwa seringkali pemilik rumah ini bicara sama kontraktornya, saya mau ini dari gedung ini. Saya mau jendela seperti ini, saya mau tembok seperti ini, dan kalau ini semua bersama seperti jigsaw. Tapi itu bukan arsitektur.

Perjuangan
RNW: Bagaimana menurut anda kita bisa memerangi apa yang disebut arsitek tidak ada itu, selera murahan itu, bagaimana itu bisa diperangi?

PvR: Ya susah sekali, karena di Belanda ada UU bahwa hanya arsitek yang boleh bikin rancangan bangunan. Boleh dengan kontraktor juga, tetapi ada UU. Saya tahu bahwa di Indonesia ada juga. Ya, menurut saya, karena banyak arsitek di Indonesia, ada Ikatan Arsitek Indonesia, bukan?

Nah, semua anggota IAI ini arsitek yang bener. Ini perjuangan mereka, perjuangan yang susah sekali. Karena ada banyak kontraktor juga. Saya tidak tahu persis keadaan di Indonesia. Tetapi saya tahu bahwa ada organisasi IAI yang mencoba memperjuangkan supaya hanya arsitek yang bener yang membuat rancangan bangunan. Tapi saya tahu, mungkin terlalu banyak bangunan, ada beberapa alasan kenapa seseorang tidak mau pakai arsitek.

RNW: Jadi memang masalahnya agak kompleks untuk Indonesia ya, dari segi bangunan ini.

PvR: Ya, susah, kompleks di Belanda juga. Jadi mungkin hanya perlu waktu. Saya tidak tahu persis. IAI ini mulai di tahun 1950an. Di Belanda sudah 100 tahun sebelumnya. Jadi mungkin perlu waktu. Tapi susah dan kalau bangsa Indonesia berfikir bahwa arsitektur adalah satu hal penting, maka mungkin perjuangan para arsitek Indonesia menjadi lebih gampang. Tapi ya, ada banyak hal yang lebih penting lagi di Indonesia, kan? Jadi, susah.

  • © Pauline van Roosmalen
  • © Pauline van Roosmalen
  • © Pauline van Roosmalen

Terkait:

Diskusi

Anonymous 17 Mei 2011 - 10:56am / Indonesia

1 Bahwa para arsitek sekolahan dari Belanda meletakkan dasar rencana (bagian) kota-kota di Indonesia memang tidak bisa disangkal. Dokumennya ada. Mereka merencanakan pengembangan lahan yang masih kosong atau mendesak bagian yang telah menjadi permukiman masyarakat-masyarakat tertentu yang telah menempatinya lebih dahulu. Lalu pertanyaannya, sebelum para arsitek tsb ada, apakah tidak ada tata kota, taruhlah di Jawa? Bila ditarik yang tidak usah jauh-jauh, Majapahit. Fisik kotanya bisa saja musna, tetapi tradisi menatanya kan tidak lenyap begitu saja? Bukankah kerajaan-kerajaan pesisir yang bertumbuh kembang pada abad ke-15 tidak mustahil dibangun dengan acuan Majapahit (tentu saja tidak mustahil ada pengaruh dari luar selain Belanda (karena belum hadir di sini)? Saya berpendapat, mungkin perlu dicermati bahwa kota-kota Jawa plus beberapa kota besar/bandar di pulau lain tidak mutlak direncanakan oleh Belanda. Ada bagian yang lebih dahulu sudah ada, meskipun kemudian saecara administratif dan politis dikendalikan Belanda.

2. Mungkin konsep yang lebih tepat adalah arsitektur dengan gaya setempat, mengingat begitu beragamnya "gaya" arsitektur di Indonesia. Ke depan yang perlu ditekankan adalah kesetempatan ini.

user avatar
Joss Wibisono 25 Mei 2011 - 9:13am / Belanda

Gagasan yang menarik, sayang tidak diungkapkan jati diri Anda. Saya kira memang harus dilakukan penelitian terhadap tata kota kita sebelum penjajahan Belanda. Djangan beranjak dari apa yang dilakukan Belanda saja. Soal pembedaan ras, menurut seorang peneliti Australia ternyata memang ulah Belanda. Sebelum Belanda, tidak ada pembedaan ras. Kalau ada pembedaan, maka itu adalah pembedaan pangkat atau agama. Jadi penelitian tata kota kita pra penjajahan Beland sangat mendesak. Silahkan mengawalinya. Salam dari Hilversum.

herawati sikumbang 15 Oktober 2009 - 3:18am
Padahal kalau kita kembali pada arsitektur bangunan asli Indonesia yang tradisional maka kita akan berdecak kagum kalau nenek moyang kita adalah orang-orang yang pintar. Mereka membangun dengan memahami konsep alam. Jika kita perhatikan bangunan tradisional dibangun dengan konsep tahan gempa contohnya rumah adat suku badui, rumah gadang, dll. Sedangkan untuk bahan yang digunakan juga adalah kayu atau bambu, kedua bahan ini juga lebih lentur untuk menghadapi gempa.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET