Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Close
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Home
Sunday 12 February RNW - NEWS AND ANALYSIS FROM THE NETHERLANDS IN 10 LANGUAGES, WORLDWIDE 24/7 ON RADIO, TV AND ONLINE
Enter a description of the photo here
Johan van Slooten's picture
Map
Urk, Netherlands
Urk, Netherlands

Kenapa Warga Urk Tolak Energi Ramah Lingkungan?

Published on : 30 November 2009 - 11:44am | By Johan van Slooten
More about:

Beberapa pekan mendatang para pemimpin dunia akan berhimpun di Kopenhagen, ibukota Denmark, berupaya menyepakati rencana aksi menangani tantangan terbesar abad 21 ini - perubahan iklim.

Tujuannya adalah dunia yang sinambung dan awet dengan energi bersih yang mengambil alih bahan bakar fosil. Tetapi jalan keluar seperti ini kadang kala bertentangan dengan kehidupan sehati-hari, seperti disepakati oleh warga desa Urk, di Belanda timur. Perlawanan terhadap rencana mendirikan taman kincir angin terbesar di Eropa menjadikan mereka terasing.

Desa Urk, sekitar 90 kilometer sebelah timur laut Amsterdam, sekarang terletak di pinggir danau IJsselmeer. Tetapi sampai tahun 1940an, orang Urk menyebut desa mereka sebuah pulau, karena memang demikianlah keadaannya sebelum danau IJsselmeer dibendung. Waktu itu Belanda membuat pulau baru dari danau IJsselmeer, sehingga Urk menjadi desa yang bergabung dengan Belanda daratan lainnya. Tetapi mental pulau warga Urk tetap tidak berubah.

Pengangguran rendah
Walau demikian, dalam banyak segi, Urk juga mencerminkan kehidupan Belanda awal abad 21. Sebagian besar penganut nasrani saleh, sumber pendapatan utama warganya adalah perikanan, tingkat kelahiran Urk terbesar di Belanda, tingkat pengangguran rendah bahkan hampir tidak ada dan warga Urk juga terkenal dermawan, penderma untuk dana amal jariah desa ini terbesar di Belanda.

Warga Urk juga terkenal penuh tekat. Mereka tidak mudah menyerah. Ketika air di sekitar Urk mengering, warganya tidak mau beralih mata pencarian, mereka tetap nelayan. Mereka membuat kapal ikan yang begitu besar, bahkan sampai berani berbangga punya armada perikanan Eropa terbesar dan paling moderen.

Dikepung dua fron
Sekarang mereka punya tekad serupa dalam melawan pembangunan taman kincir angin terbesar Eropa yang direncanakan hanya beberapa kilometer dari lepas pantai Urk. Akan dibangun, begitu rencananya, hampir 100 kincir angin moderen, ketinggian mencapai 150 sampai 200 meter, dalam tiga atau empat deretan di sepanjang danau IJsselmeer. Warga Urk merasa akan dikepung kincir angin raksasa pada dua fron, fron selatan dan fron utara. Sekarang bangunan tertinggi di Urk adalah menara cahaya yang hanya mencapai 27 meter.

Tetapi perlawanan warga Urk itu laksana pendakian, karena kincir angin itu cocok dengan ambisi Belanda untuk menghasilkan energi yang sinambung dan awet dalam dekade mendatang. Maria van der Hoeven, Menteri Perekonomian Belanda, sangat menyetujui rencana ini bahkan sampai mengulurkan subsidi senilai satu milyar euro bagi siapapun ikut serta dalam proyek ini. Tampaknya rencana ini tidak bakal dibatalkan, walaupun taman kincir angin raksasa ini hanya akan memenuhi 0,1% kebutuhan energi Belanda di masa depan.

Perlawanan yang lain
Lalu, masih ada perlawanan yang lain lagi. Orang Urk merasa diri mereka melawan gagasan yang sudah diterima dan dipuji khalayak umum, gagasan energi yang sinambung. Kalau seseorang anti taman kincir angin, maka orang itu juga anti energi bersih lingkungan dan dia jelas buta terhadap perubahan iklim, begitu ada yang berpendapat. Sebagian warga desa Urk akan tidak sepakat. Masalahnya bukan lantaran mereka tidak tahu soal perubahan iklim. Masalahnya adalah melestarikan sejarah yang sudah berabad-abad usianya.

"Bayangkan saja," tulis seorang warga Urk pada koran setempat, "kalau seseorang berjalan di jalan raya pinggir pantai Urk, ingin menikmati senja di musim panas. Sekarang sih masih mungkin, karena pemandangan masih belum terhalangi. Tetapi di masa depan, yang tampak cuma secuil pemandangan danau IJsselmeer, di tengah begitu banyak kincir angin. Pemandangan macam apa itu?"

Bukan anti
Masalahnya bukanlah karena warga Urk anti energi ramah lingkungan. Krisis ekonomi juga menghantam Urk dengan berat. Banyak kapal nelayan yang butuh banyak minyak sekarang gulung tikar karena tingginya harga BBM. Para nelayan Urk sekarang mati-matian mencari cara penangkapan ikan yang lebih murah dan ramah lingkungan.

Tetapi begitu banyak kincir angin moderen setinggi 200 meter adalah pengorbanan yang terlalu berat bagi warga Urk untuk bisa memperoleh energi sinambung. Inilah kesepakatan Kopenhagen atau Kyoto dalam praktek senyatanya. Karena itu para pegiat lingkungan hidup atau partai politik juga tidak berani menentangnya.

Merasa diasingkan
Mungkin para pemimpin dunia harus istirahat sebentar dari kesibukan KTT Kopenhagen dan jalan-jalan sejenak ke Urk. Penerbangan dari Denmark paling banter cuma sejam. Begitu mereka melihat pemandangan laut yang luar biasa, mereka akan paham bahwa energi yang sinambung itu harus dibayar dengan harga kelewat mahal.

Siapkah kita semua membayar harga semahal itu? Yang jelas warga Urk tidak siap. Kembali mereka merasa diasingkan, karena tampaknya tidak ada yang mengerti perasaan kami. Keterasingan mereka tampaknya hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang hidup di pulau terpenci.

Reply

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.

More information about formatting options

Video highlights

Homs: where is the UN?
The citizens of Homs in Syria are under attack and are asking the UN for...
In from Holland
On this week's show: winter weather takes hold of the country, we find out...

RNW on Facebook

Sign up for our newsletters

Email news bulletin

What's on - Programme Preview

Press Review - of the leading Dutch newspapers every weekday

Media Network

Euro Hit 40 - Europe's No. 1 chart show

RNW - News and analysis from the Netherlands in 10 languages, worldwide 24/7 on radio, television and online