Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Sabtu 25 Mei  

Siaran Berita Belanda Gaya Baru

Diterbitkan : 29 Mei 2012 - 1:33pm | Oleh Marco Hochgemuth (Foto © NOS)

Dalam upaya memikat lebih banyak pemirsa remaja, lembaga pemberitaan utama televisi Belanda, het NOS Journaal, menerapkan strategi 'new look & feel'. Konkrit antara lain menampilkan lebih banyak tayangan gambar. Dan pembaca berita, tidak lagi hanya duduk, tapi berjalan ke sana ke mari.



Perubahan ini pasti akan memancing banyak kecaman. Namun, apa sebenarnya pemirsa Belanda memang patut melontarkan keluhan? Berikut perbandingan gaya penyajian siaran berita di Venezuela, Indonesia, Afrika Selatan dan Cina.

Di Belanda, het NOS Journaal bisa dibilang tanpa cela. Kemandirian jurnalistiknya terjamin. Setiap malam, rata-rata, satu dari tiga warga Belanda menyimak siaran berita utama. Para pemirsa merasa perlu untuk menyimaknya, dan menganggap pemberitaannya bisa dipercaya. Namun, gaya ini juga dianggap terlalu menjaga jarak dan terlalu santun. Dan dengan demikian sama sekali tidak menarik bagi kalangan remaja.

Layar Monitor Besar
Karena itu pula het NOS Journaal gaya baru akan dibuat lebih terbuka. Berita akan disertai  lebih banyak tayangan gambar dalam ukuran layar lebar. Peran pembaca berita juga lebih menonjol. Di studio sang pembaca berita akan berjalan ke sana ke mari, dan menjelaskan lebih lanjut topik berita. Tempo siaran akan makin cepat serta pilihan jurnalistiknya pun akan berubah.

"Kami akan berusaha memenuhi minat pemirsa," kata pemimpin redaksi NOS Nieuws, Marcel Gelauf. "Ini bukan berarti kami akan memenuhi semua permintaan mereka. Kami akan berusaha menjawab pertanyaan publik yang menyangkut topik berita."

Siaran Berita Cina
Bagaimana situasi di berbagai negeri lain mengenai hal-hal seperti ini? Siaran berita China Central Television (CCTV) merupakan corong bicara utama penguasa. Jajaran pimpinan Partai Komunis dan Pemerintah Cina, sesuai dengan hirarki jabatan mereka tampil bergiliran dalam siaran memaparkan apa yang mereka kerjakan hari itu. Demikian penuturan Marije Vlaskamp, koresponden RNW di Cina.

"Seandainya hari ini pecah Perang Dunia III, CCTV tetap akan membuka siaran dengan pemberitaan mengenai kegiatan pimpinan politbiro partai. Propaganda jauh lebih penting ketimbang berita aktual. Masyarakat lebih banyak berfungsi sebagai latar belakang, untuk menunjukkan keberhasilan penguasa.

Dalam pemberitaan mengenai musibah bencana alam misalnya, pemirsa akan mendapat tayangan ungkapan rasa terima-kasih para korban atas bantuan pemerintah. Dan berita mengenai kebijakan pertanian akan disertai dengan tayangan gembira para petani, sehubungan sukses panen mereka."

Hidup Revolusi
Di Venezuela, siaran berita televisi negara, Venezolana de Television (VTV), tampil keren dan pernuh variasi, sebagaimana het NOS Journaal di Belanda. Tapi, kandungannya sama sekali berbeda, kata koresponden Edwin Koopman.

"Jasa Presiden Hugo Chávez bagi rakyat Venezuela dan hasil-hasil yang telah dicapai selama revolusi selalu menjadi pembuka berita. Dan disampaikan secara gegap gempita. Krisis hanya ada di negara-negara kapitalis. Sementara korupsi hanya terjadi di departemen yang dikuasai kalangan oposisi."

Kejar Sensasi
Indonesia saat ini memiliki empatbelas pemancar televisi. Dan semua pemancar mengaku membuat acara 'siaran berita' terbaik. Tiga pemancar yang paling populer adalah Metro TV, TV-One dan Trans TV. Dan di sini, orang mungkin terlalu banyak mengikuti selera pemirsa.

"Di Indonesia, yang paling penting adalah angka banyaknya jumlah pemirsa. Dan untuk itu, pedoman 'bisa dipercaya' boleh dikesampingkan," jelas koresponden RNW di Indonesia, Aboeprijadi Santoso. Sementara aspek sensasi juga merupakan bagian penting siaran berita.

Jangan tanya soal kemandirian. "Di Indonesia, banyak setasiun televisi merupakan milik konglomerat media, yang juga bersangkut paut dengan berbagai partai politik. Misalnya, TV One adalah milik salah seorang capres.

Karena itu TV One tidak pernah menyiarkan berita kritis mengenai bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Bencana ini memaksa ribuan orang mengungsi. Dan penyebab bencana adalah kegiatan penambangan yang dilakukan oleh salah satu perusahaan kepunyaan pemilik TV One."

Tidak Obyektif
Siaran berita paling bergengsi di Afrika Selatan adalah SABC News. Mungkin bukan lembaga pemberitaan yang benar-benar obyektif. Paling tidak, jika kita bertolok-ukur pada guyonan populer, untuk mengganti nama SABC menjadi SANC. Merujuk pada pengaruh partai penguasa ANC pada stasiun pemancar televisi milik negara ini.

Pemberitaan mengenai topik politik merupakan hal sangat peka. Dalam heboh mengenai lukisan pemimpin Afrika Selatan, Jacob Zuma, yang menampilkan alat kelamin sang presiden, SABC hanya menampilkan pernyataan orang-orang yang menentang publikasi ini. Sebagaimana Jacob Suma, mereka semua menilai lukisan tersebut sebuah penghinaan.

Topik Peka
Bagi siaran berita di Belanda sendiri, satu-satunya topik yang dianggap peka adalah hal-hal yang menyangkut keluarga kerajaan. Pemberitaan mengenai hal ini selalu hati-hati dan penuh hormat. Tapi, kritik dianggap normal.

Di Indonesia, masalah yang dianggap peka adalah korupsi. Aboeprijadi Santoso: "Sekarang ini, televisi Indonesia banyak menayangkan pemberitaan mengenai berbagai skandal korupsi di kalangan pemerintahan dan parlemen. Secara historis, ini tentu saja suatu kemajuan. Tapi, pemberitaannya bukan tidak memihak." Homoseksualitas juga peka. Pemberitaan mengenai hal ini sering disatukan dengan tayangan yang menyangkut berbagai kasus kriminalitas.

Kesehatan Hugo Chávez
Dalam siaran televisi Venezuela sama sekali tidak ada berita mengenai berbagai kekerasan yang dilakukan presiden Suriah Bashar al Assad, sahabat presiden Chavez. Juga tidak ada berita mengenai kasus korupsi di beberapa departemen tertentu. Apalagi mengenai topik paling peka, penyakit kanker yang menggerogoti kesehatan Hugo Chávez, lapor Edwin Koopman.

"Sang presiden terus menerus berada di Kuba untuk menjalani terapi. Namun, VTV tetap melaporkan, Hugo Chávez dalam keadaan segar bugar. Dan propaganda ini sukses. Di Venezuela tidak ada orang yang tahu, Hugo Chávez mengidap kanker jenis apa. Atau bagaimana peluang penyembuhan dan kelangsungan hidupnya. Bukan informasi tidak penting, mengenai orang yang kembali menyatakan siap menjadi capres."

Sementara itu, orang di Belanda sibuk membicarakan apakah pembaca berita harus duduk atau berdiri. Mengenai musik pembuka acara siaran berita. Atau mengenai jumlah pemirsa usia remaja. Dibandingkan dengan keadaan di banyak negeri lain, sejatinya, tidak ada lasan bagi warga Belanda untuk mengeluh mengenai het NOS Jurnaal.

Tulisan ini disusun dengan kontribusi dari Elles van Gelder, Marije Vlaskamp, Edwin Koopman dan Aboeprijadi Santoso.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...