Berpuasa di perantauan, di negeri orang tidak selalu mudah. Apalagi berpuasa di musim panas, seperti misalnya di Belanda, yang memberlakukan 'zomertijd', waktu musim panas, sehingga harinya terasa lebih panjang. Alhasil, waktu puasa juga lebih panjang - mulai pukul empat pagi sampai pukul setengah sepuluh malam.
Diskusi
Karena itulah, kata Maulana Gibran, ketua PPI Amsterdam, berpuasa berdasarkan ijtihad, yang mulai didiskusikan tahun lalu, kembali dibicarakan tahun ini di kalangan muslim yang tinggal di Belanda. Termasuk mereka yang berasal dari Indonesia.
Cara apa yang paling baik, tanpa membahayakan kesehatan? Haruskah muslim asal Indonesia mengikuti jadwal Indonesia, jadwal Belanda atau berpuasa berdasarkan ijtihad? Ijtihad, demikian Maulana Gibran, adalah berpuasa sesuai peraturan yang berlaku di negara Islam terdekat, dalam hal ini Turki.
Yang penting iman
Menurut Gibran, sejumlah orang muslim dari Indonesia, Pakistan, Suriah, Libia memilih berpuasa berdasarkan ijtihad. Dia sendiri tetap mengikuti jadwal yang ditentukan di Belanda. Menurutnya cara apa pun tidak menjadi soal, yang penting iman, karena semuanya baik di mata Allah.
'Kalau bisa berpuasa di Belanda, bisa berpuasa di mana-mana,' tambah Luciana Hasan, SE, BSc, rekan Gibran yang juga menunaikan ibadah puasa sesuai jadwal di Belanda.


















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.