Penggundulan hutan di Sumatra menjadi penyumbang besar emisi gas rumah kaca di dunia. Ini terkait dengan pohon-pohon yang tumbuh di atas lapisan tanah gambut. Greenpeace melangsungkan aksi menjelang KTT Iklim di Kopenhagen Desember.
Para aktivis merantai diri ke mesin-mesin penggali. 'Obama, Anda bisa hentikan ini', demikian tertulis pada spanduk merah menyala. Dengan aksi itu, mereka menghendaki perhatian terhadap penggundulan hutan di Sumatra. Mereka berharap KTT Iklim di Kopenhagen bisa menghentikannya.
Menurut Yvo Boer dari biro iklim PBB, penebangan hutan hanya akan berhenti apabila ada alternatif ekonomi yang bisa ditawarkan. Penduduk tidak mendapat keuntungan ekonomi dari hutan tersebut saat ini. Menurutnya, mereka baru bisa dibujuk untuk tetap membiarkan hutan apabila mendapat uang.


















masalah kerusakan hutan tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada masyarakat sekitar hutan. seperti kasus-kasus kerusakan hutan yang ada di pulau sumatera lebih disebabkan karena keberadaan perusahaan-perusahaan besar yang diberi ijin HPH tanpa adanya kontrol yang bagus dari pemberi ijin. masyarakat seolah-olah menjadi obyek karena mereka dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan "eksploitasi" hutan dalam usahanya untuk mendapatkan upah. salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas hutan baik dari segi fungsi dan manfaat untuk masyarakat adalah meningkatkan/ memacu kesadaran akan pentingnya hutan baik bagi masyarakat sekitar hutan maupun perusahaan yang diberi wewenang untuk "mengeksploitasi" hutan. setiap orang tentu sadar apabila hutan rusak sudah bisa dipastikan akan mempengaruhi lingkungan sekitar, akan tetapi pemahaman untuk menyadari tentang hal ini belum dimiliki untuk setiap individu-individu yang punya ketergantungan dengan hutan baik langsung mapun tidak langsung. dan semua itu akan cepat terlaksana jika kita mulai dari diri sendiri untuk bersikap ramah dengan lingkungan. -untuk bumi sejuk&hijau-
kenapa harus menyalahkan masyerakat lokal? justru masyerakat lokal lah yang lebih paham mengenai hakikat hutan tersebut bagi kepentingan manusia. tanggung jawab terbesar ada pada korporasi besar yang "masuk" kedalam hutan tersebut. tidak adanya komitmen nyata diikuti dengan pengawasan yang ketat seperti inilah kemudian masalah hutan muncul. Konferensi iklim di kopenhagen sendiri sampai saat ini tidak menemui titik temu, akibat adanya "influence" dari koorperasi besar dengan tujuan profit besar yang ikut memainkan "interest" disana.
hutan dan mayerkat lokal didalamnya adalah korban dari orientasi keuntungan besar yang ingin diraih oleh korporasi besar yang tidak diimbangin tanggung jawab serta pengawasan yang ketat dari pemerintah.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.