Situasi di tukang cukur rambut pria ini panas dan berisik. Dentuman musik Afrika bercampur dengan desingan pencukur rambut dan obrolan para pria. Di sebelah, seorang Kongo berpakaian jubah katun berwarna cerah sedang belanja ubi dan pisang raja di kios setempat dan ngobrol di bawah sinar matahari.
"Ini mengingatkan saya akan Kinshasa," kata seorang penduduk selagi menunggu giliran potong rambut. "Semuanya di sini sangat familiar. Dari semua tempat di Eropa, saya cuma mau tinggal di sini. Tapi, saya kangen Kinshasa yang sebenarnya."
Komunitas Afrika
Dinamai seperti kawasan perdagangan di Kinshasa, Matonge di Brussels cuma sepelemparan batu jaraknya dari markas besar Uni Eropa yang muram dan anonim. Tapi rasanya seperti berada di benua lain.
Sebagai rumah bagi komunitas Afrika yang besar, jalanannya sangat berwarna dan riuh rendah ketika mereka bertemu di pelbagai bar Afrika, dan banyak orang bicara Lingala, sebuah dialek Kongo. Ada pusat perbelanjaan yang sepenuhnya menjual produk rambut Afrika dan puluhan agen menawarkan jasa pengiriman wesel dan penerbangan ke Republik Demokratik Kongo, bekas koloni Belgia.
Selama beberapa dekade Matonge sudah jadi rumah orang Afrika, yang sebagian besar lari dari kekerasan, kemiskinan atau ketidakstabilan politik.
"Saya tidak punya pilihan lain selain hengkang," kata Durane, seorang ahli komputer, mantan anggota partai Presiden Mobutu. "Saya bakal tewas jika tetap tinggal. Dan itu cerita yang sama bagi sebagian besar kami. Makanya susah sekali untuk kembali, walaupun kami kepingin. "
Mimpi Rumah
Walaupun sudah mapan, seluruh penduduk Matonge punya mimpi yang sama, kata Cecile, pemilik toko makanan Kongo, yaitu: pulang. Sambil memegang ikan kering yang tampak seperti belut raksasa, dia tersenyum dan berkata, "Ini ikan dari sungai Kongo, bisa hidup di dalam dan di luar air. Kami juga merasa seperti ikan yang hidup tanpa air."
"Memang benar banyak dari kami sudah tinggal di sini puluhan tahun. Kami punya pengalaman bekerja dan punya bisnis sendiri, tapi kami semua mengerjakannya dengan pemikiran suatu hari akan pulang. Kami ingin bawa seluruh pengetahuan yang kami punya untuk membantu membangun negara kami. Rumah adalah tempat di mana kami merasa paling nyaman."
Tapi kenyataannya, mereka mungkin tidak akan pernah pulang. Bagi sebagian, resikonya terlalu besar, sementara yang lain, takut akan kemiskinan atau korupsi. Dekat toko Cecile ada Maison Africaine, rumah bagi 80 mahasiswa dari Kongo. Direktur Thierry van Pevenage berkata, "Idenya memberi mahasiswa beasiswa sehingga mereka bisa belajar dan membawa pulang kemampuan yang dibutuhkan. Tapi banyak dari mereka merasa sulit untuk kembali. Dan ini berlaku juga untuk banyak orang Matonge. Mereka sama-sama rindu Kongo, tapi pada kenyataannya, memang sulit."
Matonge sendiri juga bukan tanpa ancaman: harga rumah naik dan bisnis Afrika terancam pailit. Eric Nobles, seorang pemandu wisata Brussels mengatakan, "Ini perjuangan untuk tetap hidup. Bisa saja suatu hari, kawasan Afrika tidak akan ada lagi."
Sangat Unik
Tapi penduduk Matonge menolak mengakui ini. Arnaud, pemilik salon megnatakan, "Tempat ini sangat unik. Orang Afrika tetap akan kepingin datang kemari, sama seperti waktu itu saya ingin datang kemari. Kalau kamu kangen rumah, tempat ini penawarnya."


















Hampir semua warga negara sedang berkembang merasakan apa yang dirasakan warga Kongo, sebenarnya selalu lebih nyaman di negeri sendiri, tapi yaitu tadi, mereka terpaksa meninggalkan negerinya, terutama para warga mudanya, meskipun nyaman tetapi selalu dihantui kekerasan/pembunuhan gara-gara politik/perbedaan pendapat/sepele akan menimpa mereka, juga kemiskinan yang melilit serta korupsi.
Sebenarnya, negara-negara maju, apalagi negara-negara bekas penjajah mereka, sangat dibutuhkan keterlibatan mereka secara nyata dalam membangun negeri-negeri bekas jajahan dalam arti membangun negeri-negeri bekas jajahan mereka (tidak hanya dengan uang, tetapi juga dengan sikap yang tegas, misalnya tidak mendukung samasekali dalam bentuk apa pun pada para pemimpin/elite/calon pemimpin negeri-negeri bekas jajahan mereka, yang ditengarai korup, selalu membodohi rakyatnya sendiri entah atas nama agama atau yang lainnya, yang mendiamkan saja bentuk-bentuk pelanggaran hak azasi manusia atas nama agama atau yang lainnya, walau pun secara bisnis para elite/pemimpin/calon pemimpin negeri-negeri bekas jajahan mereka itu menguntungkan mereka/Barat) menjadi negeri - negeri yang sungguh-sungguh demokratis, menghargai dengan sungguh-sungguh hak-hak azasi manusia, kesetaraan gender dll.,
Home sweet home. Tiada yg mustahil bagi Tuhan untuk menikmati kehangatan kekeluargaan di negara sendiri.. Tetap berjuang N berdoa. Sekalipun anak cucu yg akan merasakan hasilnya
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.