2 Maret 2010 adalah 190 tahun Eduard Douwes Dekker alias Multatuli, sang penulis buku Max Havelaar, yang mengisahkan sikap kolonial Belanda di Indonesia abad ke-19.
123 tahun setelah wafatnya Multatuli (19 Februari 1887), idenya masih tetap abadi. Max Havelaar bahkan menjadi lambang bahan pangan yang dihasilkan dan dijual guna membantu perekonomian produsen kecil.
Multatuli Genootschap yang mengelola Multatuli Museum, Amsterdam, bertujuan meningkatkan pengetahuan soal Multatuli dan menggarisbawahi kepentingannya.
[media:video_id: (bbvms ID: 1077290)]


















[RARE BOOK - ONLY 15 BOOKS]
Judul : Max Havelaar
Penulis : Multatuli (Eduard Douwes Dekker)
Alih Bahasa : Andi Tenri W.
Penerbit : Narasi, 2008
Jlh Hal: 396 halaman.
Harga: Rp 70.000 (nett)
info, ask, order, req:
pm/ inbox FB
0821.3382.2284 (yudi)
0899.4545.573 (Arief)
0852.4074.7117 (Eva)
Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru.
Novel ini terbit dalam bahasa Belanda dengan judul asli "Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij" (bahasa Indonesia: "Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda")
Roman ini hanya ditulis oleh Multatuli dalam tempo sebulan pada tahun 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1860 roman itu terbit untuk pertama kalinya.
Daftar isi
Di Indonesia, karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.
Hermann Hesse dalam bukunya berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Belanda.
HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa Belanda aslinya ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1972. Tahun 1973 buku tersebut dicetak ulang.
Pada tahun 1973 Jassin mendapat penghargaan dari Yayasan Prins Bernhard. Dia diundang untuk tinggal di Belanda selama satu tahun.
Seandainya ada kelas membaca dalam kurikulum sekolah negeri, maka Max Havelaar harus ada dalam literatur wajib! Multatuli juga mewariskan semangat untuk menulis dengan kata-kata: "Ya, saya ingin dibaca! Ya, saya akan dibaca!"
ask-order-request-buy. send ur message to our FB or 0821.3382-2284 - 0899.4545.573
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.