Garuda bukan cuma di dada pemain tim nasional Indonesia seperti Gonzales, Irfan Bachdim, atau Boaz Solossa. Tapi Garuda juga ada di dada para pengidap HIV/AIDS, di dada korban kecanduan narkoba, di dada warga miskin, di dada semua warga yang terpinggirkan di Indonesia.
Sebagai kelompok marginal, Ginan dan kawan-kawan, kerap diperlakukan seperti kaum paria, seperti warganegara kelas dua. Kompetisi internasional Homeless World Cup ingin mengubah semua itu: Mengangkat harkat manusia lewat sepak bola.
Update: Tim Indonesia tak terkalahkan dalam putaran awal Homeless World Cup 2011. Mereka mengalahkan Irlandia, Jerman, Skotlandia, Kirgistan dan Rumania. Kini Ginan dan kawan-kawan akan memasuki babak selanjutnya.
Update 2: Tim Indonesia memasuki putaran para juara grup, kalau dalam putaran ini Indonesia mampu bertengger pada posisi satu atau dua dalam grup-nya, maka Indonesia masuk perempat final Homeless World Cup 2011. Sebuah prestasi!!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ingin letakkan video ini di situs anda? Gunakan embed code:
<script type="text/javascript" src="http://rnw.bbvms.com/p/partner/c/1166955.js"></script>
Iframe embed code:
<iframe title="Blue Billywig video" src="http://rnw.bbvms.com/p/partner/c/1166955.html" width="425" height="236" frameborder="0"></iframe>


















Terimakasih banyak telah berbagi informasi tentang perjuangan Rumah Cemara melalui wawancara ini. Terus terang saya merasa bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Rumah Cemara. Menurut saya mereka telah berhasil merubah persepsi orang banyak tentang HIV/ AIDS di Indonesia. Di level masyarakat luas, perjuangan panjang Rumah Cemara telah mulai membuahkan hasil meskipun di tataran kebijakan politik belum banyak perubahan yang terasa.
Homeless World Cup mungkin hanya satu dari sekian banyak tahapan yang telah dilalui untuk merubah perspepsi masyarakat Indonesia tentang HIV/ AIDS. Untuk beberapa orang mungkin ini hanya masalah kecil. Tapi sejauh ini saya rasa Homeless World Cup telah memberi kontribusi yang luar biasa bagi orang Indonesia, khususnya pandangan masyarakat awam tentang HIV/ AIDS. Salah satu indikatornya adalah tagar #ginan yang telah menjangkau sekitar 13,998 orang di Indonesia (as 29/08/11). Angka ini masih di bawah 1 juta dari sekitar lebih dari 200 juta orang Indonesia. Tapi menurut saya parameter ini juga memproyeksikan harapan apabila kita bandingkan dengan kondisi 10-15 tahun yang lalu.
Perspektif wawancara ini untuk saya terasa dilakukan oleh orang yang melihat Indonesia dari kejauhan. Saya harap ada wawancara yang secara jernih melihat berbagai keberhasilan yang dilakukan oleh Rumah Cemara secara fair ketimbang mempertanyakan apa yang telah mereka lakukan selama ini, khususnya melalui keterlibatan mereka di ajang Homeless World Cup. Harap diketahui, perjuangan Rumah Cemara untuk terlibat di ajang ini sangat tidak mudah. Ada banyak sekali tantangan dan kendala yang mereka hadapi hanya untuk mendapatkan dukungan agar dapat mewakili Indonesia di Paris.
Kalau mau jujur, berkat Rumah Cemara saat ini kebanyakan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di kota Bandung lebih terbuka bicara tentang HIV/ AIDS. RNW dapat membantu upaya ini dengan menyebarkan berbagai pencapaian dan pandangan positif dari orang kebanyakan tentang HIV/ AIDS di Indonesia. Kebijakan politik pemerintah dan pandangan masyarakat awam tentu perlu kita kritik dan kita koreksi bersama. Tapi bukan berarti apa yang telah berhasil dicapai kita anggap tidak ada. Sejauh ini kebanyakan media (mainstream) sepertinya lebih tertarik untuk mengeksploitasi berbagai pandangan negatif dengan dalih kritisisme. Sayang sudut pandang ini jarang disertai dengan proyeksi yang berimbang sehingga memiliki resiko untuk membentuk perspektif media yang bias dan distorsif.
Lebih jauh, imajinasi dan perspesi masyarakat di Indonesia saat ini sebetulnya secara relatif mudah dikonstruksi oleh media. Apa yang mereka lihat, baca dan dengar bisa dengan mudah membentuk pandangan dan imajinasi tentang kenyataan yang ada di sekeliling mereka. Oleh karena itu, sebaiknya RNW tidak hanya sekedar memproyeksikan pandangan kritis yang berjarak dengan kenyataan di Indonesia, tetapi ikut membantu untuk mengkonstruksi kenyataan baru yang lebih baik untuk kita semua. Saya rasa kita punya tanggung jawab bersama untuk mendorong terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk untuk persoalan HIV/ AIDS di Indonesia.
Salam,
- Gustaff
Terima kasih bung Gustaff atas komentar anda. Liputan video di atas merupakan satu di antara beberapa liputan kami tentang keikutsertaan Indonesia(tim Rumah Cemara) dalam Homeless World Cup. Yang lainnya bisa dilihat di:
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/video/selamat-idul-fitri-mamprang
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/walau-kalah-ini-sudah-luar-biasa
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pengidap-hivaids-indonesia-berjaya-di-paris
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/bangganya-berlaga-di-paris
Selain itu juga ada laporan radio berupa wawancara dengan Iqbal dari Rumah Cemara mengenai proses keikutsertaan tim Indonesia, serta talk show sepak terjang Rumah Cemara(saat Mas Iqbal mengunjungi Belanda).
Liputan video di atas mengambil sudut pandang, seberapa mungkin Homeless World Cup bisa mengubah kedudukan kaum marginal di Indonesia. Dari jawaban-jawaban Ginan, saya tak melihat adanya pendapat negatif mengenai peran Rumah Cemara. Sebaliknya jawaban Ginan menunjukkan keberhasilan Rumah Cemara sebagai organisasi pengayoman kelompok marginal.
Bagi anda, isu ini mungkin bukan hal baru, tapi sayangnya tidak bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Artinya sebagai media, kami harus mengambil liputan yang membuka ruang diskusi bagi orang awam, yang kebanyakan sinis terhadap kaum marginal. Kritis, dan tak segera puas dengan fakta, merupakan sebuah keharusan.
Seberapa jauh kampanya pengayoman atas kaum marginal sukses? Indikator apa yang harus dipakai? tentu banyak, tapi saya rasa indikator tag hash twitter bukan yang utama. Bagi saya selama anggaran pemerintah untuk kesehatan masih minim(apalagi untuk pengidap HIV/AIDS, tidak ada subsidi asuransi yang didukung pemerintah), dan masyarakat kebanyakan masih memperlakukan kelompok marginal sebagai paria, maka jelas, perjuangan masih panjang.
Seperti jawaban Ginan, berjuang sampai masuk ke lubang 2x1 meter. Sebuah jawaban menyentak kalbu, karena keluar dari mulut seorang pengidap HIV/AIDS, yang semua tahu punya keterbatasan kesehatan.
semangatmu pasti berbuah kenikmatan tiada tara yaitu KEMENANGAN.
Sayang pemerintah kita kurang memperhatikannya...keberangkatan rumah cemara saja yang membiayai Bapak.Irwan Hidyat dari SIDO MUNCUL yang memang konsen terhadap sosial" terimakasih Bapak.Irwan Hidayat semoga amal serta usaha Bapak mendapat phala yg setimpal.buat saudara2 rumah cemara terus berjuang tunjukan bahwa diri kalian mampu untuk merubah segalanya.
dan ginan pun melakukan sebuah nazar panjang agar dia bisa breangkat dan mendapat biaya ..
yaitu jalan nazar dari bandung ke jakarta'
saluuut'
yeahh!! teruslah berjuang saudaraku, berjuang dengan semangat garuda di dada, wujudkan mimpi dan harapan bahwa kalian juga mampu kepakan sayap setinggi tingginya hingga berkibarlah merah putih ditiang kebanggaan bersama,, sukses tetap semangat brothers
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.