Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Lioe Hesseling

'Anak Jepang' Merasa Didiskriminasi

Diterbitkan : 15 Agustus 2011 - 12:48am | Oleh Lioe Hesseling (RNW)
Diarsip dalam:

Jadi anak serdadu Jepang di Indonesia bukan sesuatu yang mudah. Itulah yang dirasakan anak yang lahir hasil hubungan antara tentara Jepang dengan wanita Indo Belanda. Liputan Jean van de Kok dan Lioe Hesseling.

Setiap tanggal 15 Agustus Belanda memperingati kapitulasi Jepang. Bagi mayoritas keturunan Indo-Jepang- Belanda kapitulasi Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II tidak mengakhiri masalah yang mereka hadapi. Menyembunyikan keturunan mereka menjadi hal alamiah bagi mayoritas 'anak Jepang.'

JIN
Vereniging Japans Indische Nakomelingen, JIN, atau perkumpulan keturunan Jepang Indo Belanda memberi forum dan kesempatan untuk saling bertemu dan berbagi pengalaman bagi mereka. Kita jumpai ketuanya Silfraire Delhaye dan sekretaris Therese ter Heide.

Menurut mereka, perkumpulan ini masih dibutuhkan. Keturunan Jepang Indo Belanda merasa didiskriminasi oleh kelompok Indo Belanda. Mereka dijuluki “anak Jepang”, bukan julukan yang positif.

“Memang kelompok Indo Belanda di Indonesia saat pendudukan Jepang sangat menderita, “ demikian Silfraire Delhaye, “namun keturunan mereka tidak bisa disalahkan atas keberadaan mereka.”

Diskriminasi
Baik Silfraire maupun Therese sudah mengunjungi Jepang mencari ayah mereka, tapi gagal. Mereka merasa orang Jepang, tapi toh juga asing.

Juga kunjungan mereka ke Indonesia merupakan perkenalan kembali dengan masa silam yang diwarnai sikap negatif kelompok Indo Belanda. Kelompok Indo Belanda mendiskriminasi mereka secara terbuka, misalnya menolak duduk di samping mereka dalam bis.

Hubungan asmara
Keduanya juga menceritakan bagaimana hubungan cinta antara ayah Jepang mereka dengan ibu mereka berkembang dalam situasi perang dan permusuhan.

Ayah Jepang mereka membantu keluarga yang ditinggalkan suami ibu, orang Indo atau Belanda yang ditawan Jepang. Ibu yang kesepian dan seorang diri dibantu oleh serdadu musuh yang iba dan jatuh cinta.

 

Terkait:

Diskusi

Lohia tala'boys 16 Agustus 2011 - 4:19am / Indonesia

Wahai orang2 yg ngaku Maluku di Belanda!kalian itu kurang kerjaan yaa kerjanya tiap hari tulis2 provokator isinya itu2 melulu yg tidak jelas kebenaranya! Aku sebagai orang Maluku malu kalo kamu mengaku orang maluku,kamu khan pengkianat,ngapain kamu jelek2an Indonesia!!!Kami orang Maluku orang Indonesia Tahuuuu gaaak!?Kalian di Belanda berapa ekor sih yg mengaku-ngaku sebagai Maluku dibanding kami yang jutaaan?Kamu khan seperti bangsat yg menghisap darah di negara Belanda aja,KASIHAN RAKYAT BELANDA YG TELAH SUSAH PAYAH BAYAR PAJAK,EH DANANYA UTK HIDUPI KALIAN YG KERJANYA CUMA PROVOKATORIN ORANG DAN BINATANG!

Anonymous 16 Agustus 2011 - 3:41am / maluku

Orang maluku di belanda, apakah anda merasa orang Maluku? atau apakah anda merasa orang belanda? tidak ada yang dapat menjawab ini secara 100 persen.
namun kenyataan saat ini orang indonesia (secara keseluruhan) tidak melihat orang maluku di belanda sebagai orang maluku. mereka menganggap orang maluku di belanda sebagai penghianat.... suatu anggapan racist dan keliru.
oleh sebab itu pemerintah belanda sudah selayaknya memperjuangkan hak-hak orang maluku untuk memiliki tanah air sendiri di maluku.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET