Pada kunjungan ke ibukota Bosnia Sarajevo Kepala Penuntut Serge Brammertz dari tribunal PBB di Den Haag menyatakan barang bukti serangan Serbia di Srebrenica dimusnahkan oleh Pengadilan.
Brammertz menerangkan, hal ini adalah prosedur normal jika barang bukti tak lagi dibutuhkan di pengadilan dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan rakyat.
Menurut anggota pertemuan yang berdiskusi dengan Brammertz ribuan barang bukti tersebut berupa kartu identitas, foto, dan pakaian. Tapi juru bicara Jaksa Kepala menampik kisah tersebut keesokan harinya: Brammertz hanya berbicara tentang prosedur, bukan tentang jumlah dan lokasi:
"Pernyataannya sangat umum, cuma tentang prosedur di ICTY di mana barang-barang yang sudah tidak dibutuhkan dalam pengadilan bisa dimusnahkan jika berisiko besar untuk kebersihan dan kesehatan. Pada kasus-kasus macam itu catatan detail juga termasuk jenis benda."
Untuk keluarga korban tewas hal ini adalah pernyataan menyakitkan. Menurus ahli sejarah Selma Leijdesdorff benda pribadi para korban adalah harta tak ternilai bagi keluarga yang ditinggalkan.
Leijdesdorff menulis sebuah buku tentang pengalaman para perempuan di Srebrenica selama kejatuhan wilayah tersebut.
"Ya, penting sekali untuk memiliki kenang-kenangan kecil, peninggalan kecil yang menemani para lelaki itu dalam perjalanan mereka. Ya, saya punya banyak contohnya."
Menurut Leijdesdorff, para ahli waris sangat marah. Mereka menilai mustahil dan tidak bisa dibayangkan, barang-barang milik para lelaki yang dibunuh orang Serbia itu, dimusnahkan.
Untuk memusnahkan barang bukti tidak ada aturan umum. Tribunal Yugoslavia bisa menentukan sendiri bagaimana memperlakukannya. Tentu saja harus berunding dulu dengan pihak pengacara. Mungkin saja barang bukti itu memberatkan bagi salah seorang tersangka.
Pengacara pidana internasional Axel Hagedorn heran melihat apa yang terjadi. Ia mewakili para ibu Srebrenica menuntut ganti rugi di Belanda. Menurut Hagedorn, barang-barang yang dimusnahkan itu bisa saja mengandung data DNA.
Pada 11 Juli 1995 sekitar 8000 warga pria Muslim diangkut dari Sebrenica. 600 tentara PBB dari Belanda hanya bisa menyaksikan.
Atas perintah Jendral Serbia Ratko Mladic semua pria tersebut dibunuh. Pembunuhan masal ini dianggap sebagai genosida terparah di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.
Tribunal Yugoslavia di Den Haag mengadili para tersangka perang Balkan. Jendral Mladic masih jadi buronan.

















Kirim komentar