Dipandu Joss Wibisono, Simpang Amsterdam kali ini membahas pro-kontra rumah lansia di Indonesia.
Hambali Maksum pendiri Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME) mendukung pembangunan rumah-rumah lansia di Indonesia. Memang menitipkan orang tua di rumah lansia dipandang sebagai suatu hal yang baru, jadi butuh sosialisasi yang makan waktu lama. Ditambah lagi pengaruh agama Islam yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia, rumah lansia ini pada prinsipnya seolah-olah bertentangan dengan Islam.
Namun Hambali mengatakan, bisa dilaksanakan asal ada penyesuaian dengan tradisi dan budaya. Dengan mempercayakan orang tua ke rumah lansia, ini bukan berarti membuang, tapi justru menunjukkan bakti kepada orang tua, selama hubungan silaturahminya dijaga erat.
Sementara Purbo Hadinoto (dosen terbang UGM yang menetap di Belanda) mengatakan tidak bisa membayangkan mengirim orang tuanya ke rumah lansia. Lagipula kondisi rumah lansia di Indonesia memprihatinkan. Purbo mengutip tulisan dosen IAIN Banda Aceh Yulianto Msi yang mengatakan hal tersebut haram hukumnya. Juga bagi umat Kristen, dalam 10 perintah Tuhan, ada hukum yang menyebut tentang menghormati orang tua. Menitipkan orang tua ke rumah lansia seakan membuang orang tua, dengan alasan kesibukan dan tempat tinggal yang kecil.
Dibandingkan dengan di Eropa, terutama di Belanda, rumah lansia ini justru sangat berhasil. Hambali menekankan, yang penting tidak boleh ada pemaksaan. Bahkan ada jenisnya, seperti misalnya mantelzorg, di mana keluarga yang merawat para lansia, atau rumah lansia yang khusus untuk orang-orang Indisch, dll. Di rumah-rumah lansia ini, para warga lanjut usia justru lebih produktif dan hidupnya berwarna karena mendapat perawatan yang layak dan bisa berkumpul dengan orang-orang seusia.
Ingin dengar lebih lanjut? Klik di sini:













dulu ketika masih bayi.... ibu merawat kita dengan penuh kasih dan cinta, ayah mencari nafkah. tapi mengapa setelah mereka berusia senja... kita menitipkannya ke panti jompo. Durhaka ! kita harus membalas jasa kedua orang tua dengan hidup berdampingan dengan kita,membahagiakan mereka dengan berkumpul bersama cucu . saya tidap sepaham dengan penitipan panti untuk lansia. ! terlalu....
Pengalaman keluarga kami saat menitipkan kakak laki-laki (anak ke 4) di salah satu Panti di Jakarta. Kakak saya (sebut saja "abang") usia 72 tahun, duda setelah bercerai dari isterinya, dengan seorang anak laki-laki usia 35 tahun yang tinggal bersama ibunya. Abang tidak punya penghasilan, dan menderita dementia.
Pihak Panti tidak akan bersedia menerima abang apabila alasannya adalah untuk sekedar membuang abang dari keluarga. Untuk itu Panti melakukan semacam test guna memastikan tiadanya niat tersebut. Mereka datang dan melakukan wawancara intensif dengan semua saudara abang, dengan mendatangi saudara tertua, dan kami sesaudara berkumpul di sana.
Bayangan keadaan Panti yang menyedihkan adalah suatu hal yang keliru. Justru kami bersyukur bahwa selama lk 5 tahun abang tinggal di sana mendapat perlakuan yang mungkin tidak bisa kami sesaudara lakukan atau berikan kalau saja abang tinggal bersama kami.
Semoga pengalaman kami sesaudara memberi tambahan wawasan bagi kita semua.
Pak Tony Ashar, kalau boleh tolong info kan nama panti, alamat dan no tel nya. Saya sedang mencari panti yang bisa membantu saudara sy yg menderita dementia juga.
Terima kasih sebelumnya.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.