Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET

Simpang Amsterdam - Masih Terhiburkah Anda Menonton Topeng Monyet?

On air: 6 Februari 2012 13:45 - 12 Februari 2012 13:45 (Foto: nimadesriandini)

Diarsip dalam:

Topeng monyet punya sejarah panjang, dan mulai marak di Jakarta sejak tahun 1890. Jika Anda berkunjung ke Amsterdam, foto-fotonya bisa dilihat di Tropenmuseum. Ketika itu topeng monyet merupakan sirkus atau teater mini, bisa disaksikan antara lain monyet mengenakan kostum wayang.

Di masa sekarang, banyak yang memprotes atraksi ini dengan alasan penyiksaan binatang. Namun mereka yang mendukung mengatakan, topeng monyet adalah tradisi yang harus dilestarikan.

Dua tamu Simpang Amsterdam kali ini punya pendapat yang agak berbeda. Andro Buwono, mahasiswa jurusan Bisnis di Hogeschool InHolland mendukung topeng monyet di negara-negara berkembang seperti Indonesia, karena menurutnya hal ini tidak bisa dihindari.

Sementara Femke den Haas aktivis Jakarta Animal Aid Network, sangat anti, menurutnya topeng monyet sangat kejam.

Andro menuturkan, dia menghargai niatan orang-orang tertentu untuk bertahan hidup dengan cara apapun juga. Di Indonesia, terutama di ibukota, lapangan pekerjaan sangat sulit didapat, sementara pemerintah tidak bisa memberi solusi agar orang-orang ini bekerja di bidang lain.

Femke berargumen, sejak 2009 bukan lagi budaya atau tradisi, melainkan sudah jadi semcam kegiatan mafia yang dikoordinir bos-bos besar (di Jakarta cuma ada tiga). Atraksi ini juga melibatkan eksploitasi anak, bukan hanya monyet. Mereka harus menyewa monyet dan menyerahkan setoran. Jika setoran kurang, berarti mereka berhutang. Belum lagi monyetnya yang berada dalam kondisi mengenaskan, diikat, dipaksa bekerja, diberi makan sembarangan, dll.

Andro menyergah, kalau masalah antara monyet dan manusia, jika manusianya belum sejahtera, apakah realistis jika mendahulukan nasib monyet?

Simak lanjutan debat panas pedas cerdas yang dipandu Junito Drias kali ini.

Diskusi

Marzuki Alim 17 Februari 2012 - 12:57am / Indonesia

Untuk memudahkan saudara melihat fakta nyata tentang TOPENG MONYET, maka ada yang lebih hebat dan menarik lagi, bila aku mengajak semua saudara melihat "Wajah asli dibalik Topeng Agama" itu bisa melalui GOOGLE lalu tulis www.ambon.com no. 56837 dan 56367 dan 56854. dan saksikanlah. Dan disinilah kita bisa melihat bahwa, siapa sesungguhnya itu monyet? Indonesia atau Jawa?

demos 16 Februari 2012 - 6:25am

Bagaimana kalo diganti jadi Topeng Manusia saja? monyetnya yang jadi majikan, manusianya yang dirantai dan jingkrak-jingkrak, akan lebih adil saya kira

Ridhal ( Bagian ke dua ) 8 Februari 2012 - 11:17am

Kembali ke topeng monyet, sebaiknya dibiarkan saja, spy menjadi budaya Indonesia, ( dan kita ga perlu khawatir akan diklaim pihak malaysia ). Hanya sedikit diperlukan penertiban dan pendataan, caranya ? ,tukang topeng monyet diwajibkan untuk memiliki Ijin, Semacam SIM mobil, yg ini namanya Surat Ijin Topeng Monyet .
Cara mendapatkannya diatur mudah saja, syaratnya hanya dgn merantai lehernya sendiri, lalu ditengah terik matahati berjumpalitan dijalan, naik motor2an sekencang2nya ditengah padatnya perempatan, terus jedot2in kepala ke jalan sambil nungging2 dan untuk variasi lain, boleh bergaya pake bedil2an dll, lakukan itu selama 8 jam tanpa henti, 7 hari seminggu ,…dan jangan lupa ujung rante lehernya harus dipegang oleh seekor monyet kecil dan kalau sudah dilakukan 1tahun berturut2 , Ijin akan terbit.
Semoga masukan saya bermanfaat.

Ridhal ( Bagian ke satu ) 8 Februari 2012 - 11:16am

Topeng monyet? biarkan saja , toh bangsa kita sudah terbiasa mengexploitasi binatang untuk kepentingan perutnya, coba beda apa dengan kuda yg tiap hari dibebani overload ,tanpa ada batasan jam kerja, diwaktu hujan maupun panas saisnya tidak perlu peduli, dan jika sudah tua dan tidak berguna lagi, tinggal masuk jagal.Sangat menguntungkan bukan ?.

Ooo ya, keuntungan lain,binatang tidak pernah mengeluh dan dijamin tidak akan demo sampai menutup jalan tol segala. Penanganan binatang itu sangat mudah, misalnya kalau ada kuda jatuh kelelahan , cambuk saja sekeras2nya sampai dia terbangun kembali karena kesakitan, bagaimana kalau jalannya naik curam ? gampang juga...cambuk saja sekeras kerasnya...ekonomis dan sangat mudah bukan?

ninie t 8 Februari 2012 - 5:36am / indonesia

Dari awal sy tdk pernah setuju !
Dimanapun sy bertemu dgn TM,pasti sy tegur mrk..kalo liat mata dr monyetnya,keliatan mrk tersiksa,dan itu menyakitkan hati sy !

Shaylen Snarski 7 Februari 2012 - 9:39pm / USA

This is TERRIBLE and SAVAGE!!!!!!!!!!!! This is a sick act of cruelty and shows the quality of a country, it shows the IMMENSE IGNORANCE OF A COUNTRY!!!!!!!!!!!!!!!!! It is BARBARIC and PRIMITIVE!!!!!!!!!! STOP THIS HORRIBLE ACT OF CRUELTY!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Shaylen Snarski 7 Februari 2012 - 9:38pm / United States of America

This is HORRIBLE and SAVAGE!!!!!!!!!!!! This is a sick act of cruelty and shows the quality of a country, it shows the IMMENSE IGNORANCE OF A COUNTRY!!!!!!!!!!!!!!!!! It is BARBARIC and PRIMITIVE!!!!!!!!!! STOP THIS HORRIBLE ACT OF CRUELTY!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Elfina Mutia 7 Februari 2012 - 3:51pm / Netherland

Topeng monyet ini bukan tradisi tapi diawal dr hiburan/iseng2 dari puluhan tahun yang lalu yang mana pada masa2 itu kita semua masih sangat minim sekali pendidikan dan peradabannya.tapi apakah TOPENG MONYET ini masih pantas atau sehat,jika hiburan seperti ini yang kita berikan/tunjukkan kepada anak2kita diabad 21 ini? Beginikah cara dan tradisi kita orang2 Indonesia yang mana terkenal dengan keramah tamahan dan selalu berteriak2 menjunjung tinggi ADAT dan NORMA2 bangsa? Inikah caranya kita meberikan informasi ke anak2 kita dgn menunjukan bahwa kita bisa mengunakan binatang utk mencari uang atau utk kepuasan pribadi?Tidak adakah cara lain utk mencari uang selain mengunakan binatang, apalagi dgn menyiksa binatang seperti ini?Tradisi inikah yg mau kita pertahankan dan lestarikan? Suatu bangsa bisa kita lihat dari cara bagaimana bangsa tersebut memperlakukan binatang(MAHKLUK2 HIDUP LAINYA).Jika mereka bisa sesadis/sekejam ini memperlakukan maklhluk hidup(binatang) maka tidak segan2nya mereka2 akan gampang juga memperlakukanya ke manusia!Contohnya sudah byk kita lihat disekeliling kita diIndo,bagaimana mereka2 memperlakukan manusia2nya,kan?Kegiatan topeng monyet ini memang susah utk di stop tapi kita hrs memberhentikanya!Tidak ada satupun kegunaanya dan bukan contoh yg baik utk generasi2 muda Indonesia!Ini penyiksaan dan melanggar hak hak makhluk hidup! Dengan bantuan pemerintah dan penduduk Indo kita hrs memberhentikanya!Tradisi matador/bull fihgting di SPANYOL aja sudah BISA KITA stop kenapa TOPENG MONYET diIndonesia tidak?Pasti kita JUGA bisa menghapus TOPENG MONYET ini!Dan pemerintah Indo HARUS cari sulusinya bagaimana bisa membantu dan memakmurkan rakyatnya dan semua MAKHLUK HIDUP yg ada di Indonesia ini!

mbahpur 6 Februari 2012 - 9:54pm / Indonesia

Ibu Femke den Haas aktivis Jakarta Animal Aid Network yang budiman, weh.. weh penguasaan bahasa Indonesia Ibu melebihi (jutaan) orang2 Indonesia sendiri!! Hebat Bu.. Bahasa gaul anak2 muda Indonesia rupa2nya juga Ibu kuasai.
Di Jawa Tengah topeng monyet terkenal dengan sebuat "ledhek ketèk" benar? Di bidang penelitian ilmu2 kedokteran dan farmasi obat2an, "penyiksaan" dari segala jenis binatang juga masih sering terjadi (metoda in vivo). Juga dengan manusia. Argumen pro kontra juga sama2 kuatnya...Konflik yang tak habis2nya..
Topeng Monyet, dihapus susah, diteruskan juga tidak mudah efek moral nya.
Kompromi : bagaimana kalau cara cara melatih monyetnya untuk waktu y.a.d. dibuat yang memenuhi "perikebinatangan"? Apakah bos bos PengNyet bersedia?

demian 6 Februari 2012 - 3:12pm / indonesia

sungguh tragis nasib binatang ini karena ulah manusia.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET