Pengalaman keluarga kami saat menitipkan kakak laki-laki (anak ke 4) di salah satu Panti di Jakarta. Kakak saya (sebut saja "abang") usia 72 tahun, duda setelah bercerai dari isterinya, dengan seorang anak laki-laki usia 35 tahun yang tinggal bersama ibunya. Abang tidak punya penghasilan, dan menderita dementia.
Pihak Panti tidak akan bersedia menerima abang apabila alasannya adalah untuk sekedar membuang abang dari keluarga. Untuk itu Panti melakukan semacam test guna memastikan tiadanya niat tersebut. Mereka datang dan melakukan wawancara intensif dengan semua saudara abang, dengan mendatangi saudara tertua, dan kami sesaudara berkumpul di sana.
Bayangan keadaan Panti yang menyedihkan adalah suatu hal yang keliru. Justru kami bersyukur bahwa selama lk 5 tahun abang tinggal di sana mendapat perlakuan yang mungkin tidak bisa kami sesaudara lakukan atau berikan kalau saja abang tinggal bersama kami.
Semoga pengalaman kami sesaudara memberi tambahan wawasan bagi kita semua.
Pengalaman keluarga kami saat menitipkan kakak laki-laki (anak ke 4) di salah satu Panti di Jakarta. Kakak saya (sebut saja "abang") usia 72 tahun, duda setelah bercerai dari isterinya, dengan seorang anak laki-laki usia 35 tahun yang tinggal bersama ibunya. Abang tidak punya penghasilan, dan menderita dementia.
Pihak Panti tidak akan bersedia menerima abang apabila alasannya adalah untuk sekedar membuang abang dari keluarga. Untuk itu Panti melakukan semacam test guna memastikan tiadanya niat tersebut. Mereka datang dan melakukan wawancara intensif dengan semua saudara abang, dengan mendatangi saudara tertua, dan kami sesaudara berkumpul di sana.
Bayangan keadaan Panti yang menyedihkan adalah suatu hal yang keliru. Justru kami bersyukur bahwa selama lk 5 tahun abang tinggal di sana mendapat perlakuan yang mungkin tidak bisa kami sesaudara lakukan atau berikan kalau saja abang tinggal bersama kami.
Semoga pengalaman kami sesaudara memberi tambahan wawasan bagi kita semua.