Presiden Amerika Serikat Barack Obama berencana berkunjung ke Indonesia Maret mendatang. Kelihatannya baik pemerintah dan masyarakat Indonesia menyambut positif rencana tersebut.
Indonesia seakan sudah terkena 'Obamania'. Bahkan para ulama pun menyambut positif kedatangan sang presiden yang pernah beberapa tahun tinggal di Indonesia ini. Radio Nederland menanyakan kepada Habib Muchsin Ahmad Alatas, Ketua Dewan Syuro FPI:
Tidak sambut gembira
FPI mempersilahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk datang. Tetapi, berlainan dengan yang diberitakan media Indonesia, tidak menyatakan menyambut gembira kedatangan Obama. Yang penting tidak membawa satu agenda neo-liberalisme ke Indonesia.
Yang dimaksud dengan neo-liberalisme adalah bentuk imperialisme baru di bumi. Amerika dengan keadi-dayaannya menjadikan Negara-negara Dunia Ketiga sebagai suatu objek yang dikuasai secara ekonomi, budaya, politik. Sebagai bentuk untuk melawan kekuatan lain seperti Cina.
Habib Muchsin yakin, bahwa Amerika di dalam ekpansinya dalam memberlakukan imperialisme baru, memang harus mengambil sikap ini.
Obamania
Menurutnya, tidak semua orang Indonesia 'Obamania'. Itu hanya lapisan politik dan lapisan tertentu saja, Tidak secara keseluruhan.
Menurutnya masyarakat Indonesia secara umumnya tidak faham politik. Sementara masyarakat elit, masyarakat terdidik, terbagi dua. Yang keagamaan kuat, mencari 'bargaining position' dengan Barat secara sejajar dan tidak mau direndahkan. Tapi yang 'American minded' siap melakukan apa saja, yang penting seperti Amerika.
Atau dengan kata lain siap menjadi kaki tangan Amerika di Indonesia.
Ikuti penjelasan lebih lanjut Habib Muchsin Ahmad Alatas dengan mengklik tanda panah di bawah ini:












