Selain itu juga ada laporan radio berupa wawancara dengan Iqbal dari Rumah Cemara mengenai proses keikutsertaan tim Indonesia, serta talk show sepak terjang Rumah Cemara(saat Mas Iqbal mengunjungi Belanda).
Liputan video di atas mengambil sudut pandang, seberapa mungkin Homeless World Cup bisa mengubah kedudukan kaum marginal di Indonesia. Dari jawaban-jawaban Ginan, saya tak melihat adanya pendapat negatif mengenai peran Rumah Cemara. Sebaliknya jawaban Ginan menunjukkan keberhasilan Rumah Cemara sebagai organisasi pengayoman kelompok marginal.
Bagi anda, isu ini mungkin bukan hal baru, tapi sayangnya tidak bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Artinya sebagai media, kami harus mengambil liputan yang membuka ruang diskusi bagi orang awam, yang kebanyakan sinis terhadap kaum marginal. Kritis, dan tak segera puas dengan fakta, merupakan sebuah keharusan.
Seberapa jauh kampanya pengayoman atas kaum marginal sukses? Indikator apa yang harus dipakai? tentu banyak, tapi saya rasa indikator tag hash twitter bukan yang utama. Bagi saya selama anggaran pemerintah untuk kesehatan masih minim(apalagi untuk pengidap HIV/AIDS, tidak ada subsidi asuransi yang didukung pemerintah), dan masyarakat kebanyakan masih memperlakukan kelompok marginal sebagai paria, maka jelas, perjuangan masih panjang.
Seperti jawaban Ginan, berjuang sampai masuk ke lubang 2x1 meter. Sebuah jawaban menyentak kalbu, karena keluar dari mulut seorang pengidap HIV/AIDS, yang semua tahu punya keterbatasan kesehatan.
Terima kasih bung Gustaff atas komentar anda. Liputan video di atas merupakan satu di antara beberapa liputan kami tentang keikutsertaan Indonesia(tim Rumah Cemara) dalam Homeless World Cup. Yang lainnya bisa dilihat di:
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/video/selamat-idul-fitri-mamprang
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/walau-kalah-ini-sudah-luar-biasa
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pengidap-hivaids-indonesia-berjaya-di-paris
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/bangganya-berlaga-di-paris
Selain itu juga ada laporan radio berupa wawancara dengan Iqbal dari Rumah Cemara mengenai proses keikutsertaan tim Indonesia, serta talk show sepak terjang Rumah Cemara(saat Mas Iqbal mengunjungi Belanda).
Liputan video di atas mengambil sudut pandang, seberapa mungkin Homeless World Cup bisa mengubah kedudukan kaum marginal di Indonesia. Dari jawaban-jawaban Ginan, saya tak melihat adanya pendapat negatif mengenai peran Rumah Cemara. Sebaliknya jawaban Ginan menunjukkan keberhasilan Rumah Cemara sebagai organisasi pengayoman kelompok marginal.
Bagi anda, isu ini mungkin bukan hal baru, tapi sayangnya tidak bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Artinya sebagai media, kami harus mengambil liputan yang membuka ruang diskusi bagi orang awam, yang kebanyakan sinis terhadap kaum marginal. Kritis, dan tak segera puas dengan fakta, merupakan sebuah keharusan.
Seberapa jauh kampanya pengayoman atas kaum marginal sukses? Indikator apa yang harus dipakai? tentu banyak, tapi saya rasa indikator tag hash twitter bukan yang utama. Bagi saya selama anggaran pemerintah untuk kesehatan masih minim(apalagi untuk pengidap HIV/AIDS, tidak ada subsidi asuransi yang didukung pemerintah), dan masyarakat kebanyakan masih memperlakukan kelompok marginal sebagai paria, maka jelas, perjuangan masih panjang.
Seperti jawaban Ginan, berjuang sampai masuk ke lubang 2x1 meter. Sebuah jawaban menyentak kalbu, karena keluar dari mulut seorang pengidap HIV/AIDS, yang semua tahu punya keterbatasan kesehatan.