LUXEMBURG, (Reuters) – Senin (23/04) Uni Eropa menyetujui sanksi-sanksi baru terhadap Suriah, karena pertumpahan darah masih tetap terjadi di sana,walaupun sudah diberlakukan pencatan senjata 10 hari. Demikian diumumkan dewan kementerian luar negeri Uni Eropa.
Sanksi baru yang diumumkan para menteri yang mewakili pemerintah Uni Eropa, mencakup pembatasan expor dua jenis barang ke Suriah: produk-produk mewah dan barng-barang tertentu yang bisa digunakan untuk menindas.
Kelompok kecil pengamat tak bersenjata sudah aktif di Suriah selama seminggu. Gencatan senjata sedikit mengurangi kekerasan, tapi tidak bisa menghentikannya. Serdadu Suriah menyerbu kota di sebelah timur kota Damaskus Ahad (22/04) dan pemberontak membom iring-iringan militer di bagian utara negara.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Sabtu (21/04) setuju meningkatkan jumlah anggota misi tim pengamat menjadi 300 orang.
Tim ini adalah bagian dari gagasan utusan internasional khusus Kofi Annan, guna menghentikan pembunuhan dan meluncurkan dialog politik antara Presiden Bashar al-Assad dan kalangan oposisi yang ingin menggulingkannya.
Annan mengatakan keputusan Dewan Keamanan adalah "momentum yang sangat penting dalam menstabilisasikan negara " setelah negeri itu dilanda kerusuhan yang menewaskan lebih dari 90 ribu orang.












