Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Redaksi Indonesia
Map
Athena, Yunani
Athena, Yunani

Yunani Harus Reformasi

Diterbitkan : 22 September 2011 - 11:22am | Oleh Redaksi Indonesia (Foto: billandcathy/Flickr)
Diarsip dalam:

Masa depan Yunani terlihat buruk. Akibat hutang menumpuk, negara ini hampir pailit. Makin banyak kritik dari negara-negara Eropa lainnya. Yunani bukan negara pertama yang terancam bangkrut. Bisakah negara ini belajar dari pengalaman?

Laporan Hans de Vreij dan Klaas den Tek

Ketika Yunani di ambang kebangkrutan, pengalaman Amerika Latin abad lalu terlihat relevan. Waktu itu, satu per satu negara Amerika Latin pailit, mendevaluasi mata uang nasional, menjalankan kebijakan uang ketat – dan bangkit dari keterpurukan.

Kalau melihat geliat Amerika Latin tahun 80-an, bisa-bisa kita berpikir bahwa kebangkrutan nasional menguntungkan. Argentina, Paraguay, Uruguay, Venezuela – setelah menjalankan kebijakan finansial ketat, keempatnya langsung memperlihatkan angka pertumbuhan ekonomi yang sehat. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia yang tidak bisa membayar hutangnya pada 2002.

Meksiko
Menurut ekonom Belanda Sweder van Wijnbergen, situasi Yunani sangat mirip dengan Meksiko pada tahun 80-an. Meksiko tak bisa melunasi hutang-hutangnya. Sebagai ekonom Bank Dunia waktu itu, Van Wijnbergen terlibat erat dalam negosiasi dengan Meksiko. Dengan reformasi ekonomi besar-besaran dan pengurangan hutang, Meksiko akhirnya bisa bangkit.

Van Wijnbergen: “Yunani juga butuh program reformasi massal untuk menyelamatkan negara. Namun mulainya dari mana? Itu tidak sederhana, karena semua hal, dari birokrasi sampai kebijakan ekonomi, di Yunani salah. Satu-satunya cara adalah dengan mengubah segalanya, seperti di Meksiko. Itu akan menumbuhkan kepercayaan bahwa negara bisa kembali menghadapi pasar internasional.”

Akibat
Tak lama lagi Yunani bisa pailit. Namun akibat kebangkrutan Yunani akan lebih besar ketimbang yang terjadi di Amerika Selatan dan Meksiko. Yunani adalah satu dari 17 negara zona euro, dan seperti yang terlihat di bursa saham beberapa bulan terakhir: hutang Athena bahkan bisa berakibat buruk untuk negara-negara di luar Eropa.

Lalu mengeluarkan Yunani dari zona euro? Itu tidak akan membantu, kata René Tissen, guru besar Universitas Bisnis Nyenrode, “Bisnis Eropa di Yunani besar, terutama bank-bank Prancis, Italia,dan Jerman. Pertama, Anda harus membersihkan hutang-hutang bank terlebih dahulu. Sebelumnya saya sudah mengusulkan pengurangan hutang agar negara ini bisa kembali ke situasi sehat.”

Ekonom Van Wijnbergen juga tidak melihat banyak manfaat untuk membiarkan Yunani tenggelam sendirian, “Kalau Yunani kembali ke mata uang drachme, mereka tak akan bisa bayar hutang, karena hutangnya dalam mata uang euro – yang tentu saja bernilai jauh lebih tinggi. Yunani hanya akan mampu bayar sedikit. Lagipula, tidak ada mekanisme untuk mengeluarkan negara anggota dari mata uang euro. Negara-negara tersebut harus memutuskan sendiri jika ingin keluar dari euro.”

Efek Domino
Kebangkrutan Yunani mungkin akan memiliki efek domino. Negara-negara zona euro yang lemah lainnya — seperti Portugal dan Irlandia, juga negara dengan ekonomi lebih besar seperti Italia dan Spanyol — bisa ikut bangkrut. Menurut guru besar René Tissen, di Amerika Latin tahun 80-an tidak ada “penularan.” Sebaliknya, Argentina jadi contoh yang ditiru.
 

“Argentina jadi suri tauladan. Sebagai negara ekonomi lemah, Argentina waktu itu punya jalan keluar untuk memperbaiki dan menumbuhkan ekonomi dengan cepat. Tapi sayangnya, jalan keluar itu tidak kita punya sekarang.”

Perpecahan
Pemerintah Belanda, seperti halnya Jerman, berpendapat, negara-negara Eropa kaya harus membantu yang lemah. Jika tidak, konsekuensinya akan negatif, misalnya di sektor perbankan. Namun profesor Tissen tidak optimis mengenai hal ini. “Menurut saya, akan terjadi perpecahan di Eropa, bagaimana pun juga.”

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET