Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar International Justice Desk
Map
Kolombo, Sri Lanka
Kolombo, Sri Lanka

Wartawan RNW Diancam di Sri Lanka

Diterbitkan : 21 Juli 2011 - 7:54pm | Oleh International Justice Desk (Foto(c)RNW)
Diarsip dalam:

Radio Nederland baru-baru ini mengirim dua wartawan undercover ke Sri Lanka. Mereka ingin melihat situasi pasca-konflik di bagian utara dan timur Sri Lanka setelah Macan Tamil ditaklukkan. Tapi mereka dihampiri sekelompok laki-laki dalam minibus putih, dipaksa membatalkan kunjungan dan kembali ke Belanda.

Menurut laporan baru organisasi non pemerintah International Crisis Group, "Presiden Sri Lanka, Rajapaksa, serta saudara-saudara dia yang besar pengaruhnya, terus menindas insan pers dan musuh politiknya."

Kelompok-kelompok HAM lainnya menyebut soal kasus pembunuhan serta penghilangan wartawan di sebuah negara yang polisinya menikmati kekebalan hukum.

Penculikan dan pembunuhan
Mereka juga melihat adanya kekurangan kebebasan pers. Media tidak melaporkan situasi sebenarnya. Orang takut berbicara kepada wartawan. Tekanan terhadap mereka semakin ditingkatkan. Kelompok laki-laki dengan minibus putih menculik atau membunuh wartawan.

Wartawan Radio Nederland mengalami langsung fenomena ini setelah terjebak di jalan.

Tahun-tahun belakangan hanya sedikit wartawan Barat mengunjungi bekas wilayah Macan Tamil, Sri Lanka utara dan timur. Visa wartawan sulit diperoleh.

Dua wartawan Radio Nederland berangkat dari ibukota Kolombo, bertolak ke arah timur. Semakin ke timur, semakin besar kemiskinan dan semakin banyak militer terlihat di mana-mana.

Wartawan RNW masuk bekas wilayah Macan Tamil dengan visa turis. Di sana mereka berbicara dengan penduduk lokal, membahas beragam topik seperti bisnis, olahraga dan peran PBB dalam pembangunan.

Interogasi
Pada suatu ketika, saat berada di sebuah restoran, wartawan RNW diamati. Keberadaan mereka dilaporkan kepada polisi. Dan polisi pun malam itu mendatangi hotel, tempat dua wartawan menginap, dan melakukan interogasi.

Sepuluh orang polisi, termasuk kepala polisi, mendesak wartawan meninggalkan kawasan. Pagi berikutnya, ketika melanjutkan perjalanan lewat rute turis, mereka dirampok dan diserang kelompok laki-laki dalam minibus.

Taktik intimidasi 'minibus putih' seperti sebelumnya diceritakan wartawan Sri Lanka, kini menjadi kenyataan.

“Tanggapan polisi sangat konyol, tapi sekaligus juga menunjukkan ketakutan akan semuanya," kata Sanjana Hattotuwa dari pengamat media independen Groundviews yang berpangkal di Kolombo.

“Reaksi pemerintah dapat dimengerti, karena mereka selalu berpendapat tidak dilakukan kejahatan perang oleh pihak mereka. Jadi mereka bertindak keras terhadap orang-orang yang mengatakan sebaliknya," ungkapnya.

Raisa Wickrematunge dari surat kabar kontroversial Sri Lanka The Sunday Leader percaya, serangan terhadap wartawan Barat mencapai puncaknya.

Mengejutkan
"Yang mengejutkan adalah perampokan yang dilakukan. Kasus penghilangan dan hal semacam itu sayangnya masih terjadi di sini. Jadi ini bukan untuk pertama kalinya. Tapi tetap saja sangat mengejutkan bahwa mereka melakukan ini terhadap wartawan asing, terutama kasus perampokan."

Raisa adalah keponakan mantan editor Lasantha Wickrematunge yang ditembak mati tahun 2009. Ruang redaksi The Sunday Leader penuh foto-foto Wickrematunge, tersenyum, dengan pena di tangan.

Raisa bergabung dalam surat kabar, tidak lama setelah pembunuhan Wickrematunge. Ia ingin mempertahankan kenangan dan nilai-nilai pamannya. "Tapi setelah kejadian ini, kami memutuskan tidak bisa bertindak sama kerasnya. Kenyataannya adalah bahwa di masa lampau, orang menyerang kami. Sekarang mereka membunuh kami."

Sensor
Media Sri Lanka melakukan sensor sendiri untuk melindungi diri. Editor Sunday Leader yang sekarang, Frederica Jansz menjelaskan mengapa. "Saya tidak melakukan itu. Saya rela mati untuk pekerjaan saya. Tapi saya mengerti tidak semua orang mau melakukan ini."

Menurut Raisa ketakutan itu sah-sah saja. "Banyak wartawan dibawa pergi minibus putih itu dan menghilang. Ada juga kasus-kasus di mana orang diculik dan kemudian ditinggalkan dengan kaki yang patah."

Fenomena minibus putih dikenal baik oleh kalangan diaspora Tamil. Donald Gnanakone, ketua kelompok Tamil untuk Keadilan, di Los Angeles, mengatakan kepada RNW ini adalah aksi teror oleh negara.

Didukung negara

Ada juga yang membenarkan bahwa ini adalah contoh intimidasi yang didukung negara. Seorang diplomat senior Eropa yang bekerja di Kolombo, yang tidak mau disebut namanya, berkata “Sudah dapat dipastikan otoritas mengirim pesan kepada anda."

Raisa Wickrematunge pesimis tentang prospek kebebasan berekspresi di Sri Lanka, "Jurnalisme obyektif tidak mungkin di sini. Banyak hal yang tidak bisa saya tulis. Bahkan jika anda menghubungi orang dan berkata bahwa anda dari Sunday Leader, mereka langsung takut. Orang tidak mau berbicara dengan anda. Kami harus sangat berhati-hati tentang apa yang kami ingin tulis."

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET