Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Mirjam van den Berg
Map
Johannesburg, Afrika Selatan
Johannesburg, Afrika Selatan

Warisan Piala Dunia 2010: Stadion Mahal, Bola Kondom dan Perasaan Campur Aduk

Diterbitkan : 6 Januari 2011 - 3:36pm | Oleh Mirjam van den Berg (Foto: RNW)
Diarsip dalam:

Piala Dunia 2010 seharusnya bisa membawa kemajuan ekonomi dan sosial untuk Afrika. Enam bulan setelah kejuaraan berakhir, apa warisan sebenarnya dari 4 minggu kegilaan sepak bola tersebut? Laporan Mirjam van den Berg.

Pekerja sosial Giosiame Masiki dari Soweto menceritakan apa yang ditinggalkan Piala Dunia: "Kami mengharapkan bertambahnya jumlah turis, lapangan pekerjaan dan masa depan yang lebih cerah. Tapi yang kami miliki saat ini adalah stadion-stadion megah, infrakstruktur yang lebih baik, rasa persatuan yang kuat dan dalam sejumlah kasus, teman-teman baru di seluruh dunia."

Soweto, paling tidak citranya, berubah karena Piala Dunia, demikian Lebo Malepa. Dia pemilik satu-satunya hostel backpacker (turis beransel, red) di pinggiran kota. "Beberapa waktu lalu, agen perjalanan dan majalah wisata tidak akan menyarankan kunjungan ke Soweto, apalagi sampai menginap. Sejak Piala Dunia, sudah banyak liputan bagus tentang Soweto dan industri wisata di sini membaik."

Wirausahawan Berhutang
Banyak wirausahawan Afrika Selatan mengubah rumah mereka menjadi losmen, untuk mengantisipasi ledakan jumlah wisatawan. Grace Pilane dari pinggiran kota Alexandra, yang di setiap kesempatan masih mengenakan kaus tim Bafana Bafana mengatakan, "Beberapa teman saya mengambil pinjaman bank untuk menambah kamar di rumah mereka. Kami menanti-nanti kedatangan para turis, seperti yang sudah dikatakan orang-orang."

Dengan kawasan elit Johannesburg dan Fan Park Fifa yang jaraknya hanya 15 menit berkendara, serta stadion Ellis Park dan Soccer City di sekitarnya, masyarakat Alexandra sangat berharap Piala Dunia bisa membawa kesempatan bisnis baru. Tapi ketika pertandingan final semakin dekat dan tempat tidur-tempat tidur ekstra masih banyak yang kosong, mereka sadar, turnamen sepak bola tersebut tidak akan mengubah hidup mereka secara drastis.

Kenyataan Pahit
"Yah stadion Soccer City memang terlihat indah," kata Pilane. "Tapi itu tidak bisa dimakan, toh? Tiga dari empat anak saya pengangguran. Uang pensiun saya cuma cukup untuk makan dan asuransi kesehatan. Jika saya memikirkan tentang 440 juta dolar yang dihabiskan untuk membangun stadion, saya bisa membuat daftar panjang tentang apa saja yang benar-benar bisa membuat perubahan. Bahkan masyarakat Alexandra yang bekerja suka rela sebagai penerima tamu di stadion selama Piala Dunia pun, sekarang sudah balik lagi kerja paruh waktu di supermarket. Bagaimana bisa membiayai keluarga dengan itu?"

Tanggapan Joseph Rambau yang ditemui sedang berpatroli di stasiun Gautrain lebih positif. Beberapa waktu sebelum Piala Dunia dimulai, dia mendapat pekerjaan sebagai kepala keamanan di sebuah proyek infrastruktur besar. "Jika bukan karena Piala Dunia, pembangunan stasiun Gautrain ini tidak akan selesai. Kami menyediakan sistem transportasi cepat, aman dan trandal bagi ribuan orang. Saya ketemu banyak orang dari seluruh dunia yang ingin tahu lebih dalam soal Afrika Selatan. Saya sih senang sekali bekerja di sini."

Gajah Putih
Direktur utama stadion Green Point Cape Town semasa Piala Dunia, Purshoth Chetty memuji keberhasilan turnamen yang disebutnya membawa pembangunan urban dan sosial. Menurutnya, stadium senilai 600 juta dolar itu memang tidak dimaksudkan untuk menjadi seekor gajah putih (sesuatu yang mewah dan sukar pemeliharaannya, red). Namun kenyataannya, stadion cuma jadi tuan rumah kurang dari selusin kegiatan sejak Piala Dunia berakhir.

"Stadion Green Point dan taman serta tempat bermain di sekitarnya bisa diakses semua orang. Pemandangan sekitar Table Mountain dan Robben Island sangat indah. Tapi yang lebih penting adalah: Piala Dunia kali ini sudah menanamkan harapan baru bagi jutaan rakyat Afrika Selatan. Kita harus menyimpan dan memupuk harapan tersebut dalam hati, supaya anak-anak kita punya masa depan yang lebih baik," tandas Chetty.

Bola Kondom
Tapi di Crossroads, daerah kumuh pinggiran kota di sisi lain Table Mountain, Sinoxolo Petele (13 tahun) harus memutar otak mencari jawaban apakah Piala Dunia sudah membuat hidupnya lebih baik. Ya, dia memang bersorak-sorak mendukung Bafana Bafana dan kemudian Belanda, dan ya, dia pernah mengunjungi stadion Green Point dalam perjalanan wisata sekolah, tapi cuma itu. Menurutnya, tidak ada lagi yang spesial.

"Hari ini saya bisa main bagus, karena ada yang membawa bola sungguhan. Tapi di hari-hari lain, kita tidak punya bola sepak untuk dimainkan. Untungnya, sejumlah toko dekat sini jualan kondom. Kadang mereka memberi kita beberapa. Kondom itu kita tiup, lalu kita mainkan sebagai bola. Tapi ya, tidak bisa menendang keras-keras, kalau tidak, bisa meledak. " kata Sinoxolo yang ditemui saat istirahat bermain bola di lapangan Cruyff Court setempat.

Catatan:
Wisata Piala Dunia
Dari 1,401,725 turis asing yang tiba di Afrika Selatan Juni dan Juli tahun lalu, 309,554-nya mengatakan mereka datang untuk Piala Dunia. Satu dari tiga turis mengatakan berencana kembali ke Afrika Selatan dalam waktu dekat untuk liburan.

Stasiun Gautrain
Gautrain menghubungkan bandara internasional Johannesburg ke Sandton. Stasiun ini berencana  menambah jalur 42 menit antara Johannesburg dan Pretoria tahun ini. Awalnya disediakan anggaran pembangunan senilai 600 juta dolar, namun hingga saat ini pembangunan stasiun sudah makan biaya hingga 4 milyar dolar.

  • © Foto: RNW
  • © Foto: RNW

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET