Isu-isu mengenai vaksin flu dan obat-obatan yang manjur menyembuhkannya, sangat susah untuk diberantas. Terutama di internet cerita-cerita yang benar atau hanya isapan jempol belaka, sangat sulit dibedakan.
Dalam serial Radio Nederland mengenai isu-isu bohong dan menakutkan sekitar flu Meksiko, kali ini mengenai keraguan para bumil atau ibu hamil mengenai vaksin flu Meksiko.
Dua pertiga dari ibu hamil ternyata menolak untuk divaksinasi flu Meksiko. Demikian hasil jajak pendapat di berbagai negara Eropa. Para bumil ini meragukan keamanan vaksin tersebut. Bahkan di Belgia empat ibu hamil mengajukan gugatan ke pengadilan dengan harapan mendapat jaminan kesehatan. Sementara di Belanda semua ibu yang usia kehamilannya lebih dari 12 minggu dianggap kelompok berisiko tertular flu ini.
Kehamilan Marsha Walraven saat ini sudah memasuki minggu ke-22, dan kerna itu menurut Dewan Kesehatan Belanda termasuk kelompok yang harus diberi vaksinasi. Walaupun begitu Marsha menolak untuk divaksinasi.
"Saya pikir risiko yang saya tanggung terlalu besar. Sebenarnya tidak ada satu orang pun yang bisa menerangkan dengan jelas kepada saya, mengapa saya harus divaksinasi. Tetapi menurut saya, alasan terpenting adalah, vaksin ini tidak pernah dites pada ibu hamil".
Walraven menambahkan ia bagai makan buah simalakama, tidak ada pilihan yang aman. Di masa lalu terbukti terlalu banyak obat-obatan yang berbahaya untuk ibu-ibu hamil, begitu menurutnya. Misalnya hormon-DES, hormon buatan yang punya cara ciri-ciri sama dengan hormon ustrogennya perempuan, dan vaksin rubella, terbukti menyebabkan dampak kesehatan yang sangat besar terhadap bayi yang dikandung.
"Dari hormon-DES, anak-anak perempuan yang dilahirkan ternyata menjadi mandul atau menderita kanker." Walraven berpendapat kondisi kesehatannya cukup baik, sehingga dapat menahan flu Meksiko dan selain itu juga mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak tertular. Ditambahkan mungkin keputusannya berubah, apabila dia berada di minggu-minggu terakhir kehamilan.
Dapat dimengerti, tapi sangat disayangkan. demikian Aren van Loon, dari Persatuan Ahli Gineakologi dan Obstetri NVOG. Dia memperkirakan keraguan para ibu hamil disebabkan karena Dewan Kesehatan Belanda memberikan sejumlah advis dalam jangka waktu singkat.
Menurutnya vaksin flu yang diberikan tiap tahun oleh dokter-dokter Belanda, setiap tahunnya juga disesuaikan dan sudah pasti dites secara menyeluruh. dan dengan vaksin HiNi metode percobaan tiba-tiba dijadikan alasan untuk menolak vaksin tersebut, kata dokter kandungan ini.
"Perlahan-perlahan ini kelihatan seperti sebuah komplot. Ini sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Tidak ada satu pun vaksin yang diuji selama bertahun-tahun secara besar-besaran seperti yang dipersyaratakan sekarang. Karena tiap tahun pasti ada perubahan kecil. Sangatlah lucu apabila karena alasan ini kita mengatakan dipermainkan oleh pemerintah ".
Van Loon menasihatkan para ibu hamil untuk memvaksinasi diri. "Tanpa keraguan sama sekali." Tapi Marsha van Walraven tidak mempercayai nasihat dokter tersebut. "Saya dan suami sudah memikirkan hal ini baik-baik. Saya tidak akan divaksinasi."























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.