Visi Eropa untuk menjadi pelopor dalam pemberantasan perubahan iklim dikecam habis-habisan Jumat lalu dalam perselisihan negara-negara anggota Uni Eropa, atas siapa yang harus membayar biayanya.
Para pemimpin Uni Eropa menemui jalan buntu mengenai berapa banyak yang harus dibayar untuk membantu negara-negara berkembang di dunia setelah negara-negara Eropa Timur, dipimpin Polandia, menjelaskan tidak ingin dibebani pembayaran selama resesi.
"Tidak ada kejelasan tentang bagaimana pembagian biaya antara negara-negara Uni Eropa," kata seorang diplomat Polandia, yang menambahkan akan sulit dicapai suatu terobosan.
Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende sangat frustasi. Belanda pendukung keras kesepakatan bagi negara-negara miskin dengan harapan bisa menjadikan Eropa pemimpin dalam diskusi iklim.
Jalan buntu
Jalan buntu ini bisa menjadi persoalan besar menjelang konferensi iklim di Kopenhagen Desember mendatang, karena negara-negara berkembang menyatakan tidak akan mau memerangi perubahan iklim tanpa cukup dana dari negara-negara kaya.
Menurut negara-negara berkembang pemanasan bumi adalah fenomena disebabkan terutama negara-negara maju.
Namun, beberapa negara telah mencoba melihat sisi positif hasil pertemuan, menunjukkan bahwa Uni Eropa telah menyetujui untuk membayar antara 20 hingga 50 milyar euro per tahun sebagai bentuk bantuan untuk negara-negara miskin pada tahun 2020.
Ini adalah bagian dari paket bantuan lebih besar, yakni milyaran euro yang diberikan negara-negara maju seperti telah disepakati menjelang konperensi di Kopenhagen.
Tak mampu
"Bantuan itu untuk membantu negara-negara berkembang memenuhi target perubahan iklim dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Tanpa bantuan itu mereka tak akan mampu melakukannya," kata Perdana Menteri Inggris Gordon Brown.
Namun kelompok-kelompok lingkungan hidup khawatir target minimum yang ditetapkan kurang bisa membawa perubahan. Mereka mengecam Jerman karena kurang berambisi.
Citra Kanselir Jerman Angela Merkel sebagai pejuang lingkungan, hancur sudah karena menolak mengeluarkan dana.
"Jerman memainkan permainan yang memalukan," kata organisasi lingkungan hidup Greenpeace di Berlin. "Mereka tidak menjadi penggerak, namun justru menghalangi kemajuan."
Isu ini kemungkinan dibahas kembali dalam KTT Uni Eropa bulan ini.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.