Wat een melancholische dag is het vandaag (betapa murungnya hari ini); hoeft niet (tidak perlu); mijn werk zit erop (kerjaku sudah selesai); hij is de man (dialah orangnya). Itu beberapa petikan ungkapan bahasa Belanda dalam cerpen karya Leila Chudori.
Mengapa harus ada ungkapan-ungkapan bahasa Belanda, apa perlunya hal-hal yang kebelanda-belandaan itu dalam cerpen Mencari Seikat Seruni karya Leila Chudori itu? Benarkah ia sudah mendapat semacam bekal dari orang tuanya? Kemudian bagaimana pula kota-kota Eropa, seperti Amsterdam dan Paris, bisa menjadi setting dalam cerpen-cerpen Leila? Berikut bincang-bincang lebih lanjut Joss Wibisono dengan penulis Leila Chudori:
Masuk tubuh
Leila S. Chudori [LSC]: Iya, iya. Karena beginilah, semua anak-anak yang orang tuanya pendidikan Belanda itu pasti, pasti ya. Artinya, generasi saya pasti mengenal beberapa kata bahasa Belanda. Meskipun makin lama kita makin jauh, karena kita udah lebih dekat sama bahasa Inggris. Tapi generasi yang usianya 35 ke atas, itu orang tuanya pasti punya tuh, sisa-sisa pendidikan Belanda. Jadi dari hal yang kecil-kecil kalau ketika mereka menggerutu, sampai hal-hal ketika mereka bertemu dengan teman-temannya.
Wawancara ini juga bisa didengar (diunduh) dengan mengklik ujung tanda panah berikut:
Artinya orang tua saya kalau ketemu teman-teman segenerasi, mereka pasti bahasa Belanda. Pasti. Meskipun campur-campur ya. Tapi pasti, gitu. Itu sudah satu hal yang masuk ke dalam tubuh saya secara tidak sengaja barangkali ya. Nah, kedua, juga cerita-cerita, gitu. Memang ada sebagian yang saya ambil di dalam Nadira. Itu kisah-kisah waktu dulu, ketika masih di zaman Belanda. Inilah yang terjadi.
Kemudian Jepang masuk. Ketika Jepang masuk kita harus pindah rumah, karena itu rumah diambili, kayak gitu-gitu ya. Dan tentara Jepang itu seperti apa. Itu berulang-ulang orang tua saya. Dan bukan hanya orang tua saya, tapi tante-tante saya bercerita bagaimana penderitaan mereka ketika Jepang masuk. Dari soal makanan, dari soal sembako pas zaman Jepang. Kan Anda pasti juga udah dengar itu. Dan kejamnya tentara Jepang waktu itu ya.
Jadi, itu berulang-ulang. Itu satu hal yang tidak ingin mereka alami lagi. Kelihatannya begitu. Saya enggak tahu kenapa baru keluarnya sekarang. Setelah saya berusia 47 tahun saya baru kemudian merasa ini harus saya keluarin, gitu. Sebagai latar belakang Nadira. Karena begini, ada yang perlu anda ketahui.
Diperkosa
Orang selalu bertanya, kenapa sih tokoh Anda selalu perempuan, urban. Saya bilang itu satu pengamatan yang betul. Valid. Saya sendiri berharap bisa menulis sesuatu tentang pembantu rumah tangga atau seseorang di desa yang datang ke kota, diperkosa dan sebagainya. Atau penderitaan TKI, di mana gitu. Mau saya. Tapi harus jujur. Artinya apa? Saya harus bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh saya. Saya harus bisa menciptakan satu sosok yang benar-benar cara berpikirnya seperti tokoh yang saya ciptakan itu. Misalnya seorang TKI ya saya mesti tahu. Dia itu perasaannya seperti apa, bahasanya seperti apa.
Nah, tokoh yang saya ciptakan ini sering kali memang perempuan, tidak selalu ya, kadang-kadang ada laki-laki. Tapi sering perempuan dan memang dia anak kota. Nah, buat saya penting untuk menggambarkan Nadira ini latar belakangnya dia memang anak kota, dia seorang wartawan, tapi begini nih latar belakangnya. Jadi, itu tidak berarti bahwa kita anak kota, terus semuanya sama latar belakangnya.
Ini ada sesuatu di dalam dirinya yang membedakan dia dengan yang lain-lainnya. Yang stereotip. Kalau anak kota itu begini. Ini dia dari latar belakang seperti ini, nih. Jadi saya ingin sekali orang-orang jangan melihat segala sesuatu hanya berdasarkan lokasi lahirnya dan besarnya di sini, terus udah tingkah lakunya seperti ini. Gitu lho. Ada sesuatu di dalam diri seseorang yang membuat mereka unik, antara satu dengan yang lain.
Radio Nederland [RNW]: Jadi Anda ingin menceritakan asal usulnya Nadira ini kan? Dengan segala macam yang berbau Belanda dan Eropa, gitu?
LSC: Bukan asal usul. Gini. Ini kan dimulai dari kematian ibunya, ya? Jadi cerita-cerita berikutnya itu menggambarkan tindakan-tindakan Nadira dan semua langkah dia, cara berpikir dia sebagian ada yang sebelum dan setelah ibunya bunuh diri. Yang saya ingin ceritakan di dalam 9 Dari Nadira ini adalah Nadira, bukan ibunya. Dia yang menjadi tokoh utama. Sebagai orang yang sebetulnya ingin berusaha hidup. Tetap berusaha ingin menghargai hidup.
Ingin hidup
Kemarin juga ada diskusi, ada yang bertanya pada saya, Nadira ini kelihatannya kok punya kecenderungan bunuh diri juga. Dan saya bilang, kita bisa interpretasikan begitu, mungkin saja begitu. Ada beberapa yang sudah berinterpretasi begitu dan terus terang saya sendiri sebagai penciptanya juga membuat dia cenderung ingin begitu. Karena gampang sekali punya seorang ibu yang dia temukan dalam keadaan mati, dia gampang terjerumus ke situ juga, gitu.
Tetapi yang ingin saya gambarkan dia ingin sekali hidup. Dia ingin sekali, dengan segala kesalahan-kesalahannya, dia tahu dirinya salah milih, salah langkah, tapi dia tetap ingin hidup. Nah, itu buat saya suatu yang sulit. Karena menurut saya lebih gampang buat dia untuk putus asa dan lebih gampang buat dia untuk berpenderian, saya mendingan susul saja ibu. Ya? Selesai, kan?
Tapi lebih susah untuk mencoba bertahan. Itu keputusan karena perlu perencanaan panjang. Apa perlu tasbih juga, apa perlu yang lainnya. Kalau saya lagi ada halangan terus mau apa. Iya, kan? Harus ada perencanaan panjang dan apakah kita sanggup. Menurut saya pribadi jauh lebih susah untuk bertahan hidup daripada memutuskan mati seperti ibunya.
Itu yang ingin saya gambarkan. Karena banyak orang yang juga mengatakan, kok kayaknya lebih menarik si Kemala, ibunya Kayaknya dia kan orangnya menyenangkan. Dia kan memang orangnya lebih hidup. Saya bilang, itulah masalahnya. Dia lebih hidup, tapi kemudian dia memutuskan bahwa saya ingin mengontrol hidup saya dan saya ingin memutuskan kapan saya mati. Saya merasa lebih susah Nadira. Menjadi Nadira itu lebih susah, menurut saya. Sebenarnya bukan dia saja, tetapi kedua kakaknja juga ya. Trauma bagi orang yang ditinggalkan itu jauh lebih susah, buat saya.
Kembali lagi ke soal Belandanya, ya Belandanya itu baru sekelumit tentang orang tuanya. Tapi nantinya saya akan menceritakan di satu bagian lagi ya, di satu novel.
RNW: Ya, ketika Kemala itu bunuh diri, kemudian anak-anaknya menemukan catatan hariannya, itu yang tampaknya akan dikembangkan sebagai novel, kan? Pertanyaannya adalah: adakah perbedaan antara kalau Anda membuat setting di Indonesia dengan misalnya setting di Amsterdam?
Di pinggir kanal
LSC: Sebenernya, bukan Amsterdam saja ya. Kota-kota lain yang tidak saya tempati sebagai domisili saya. Artinya, kalaupun saya bercerita dengan setting Surabaya, itu saya akan membuat riset, seperti halnya saya juga membuat riset tentang Belanda atau Paris.
Atau katakanlah ada salah satu cerpen saya yang settingnya Cirebon. Itu kota yang hanya beberapa kali saya datangi. Tapi itu kan tanah air ayah saya. Saya beberapa kali datang ke sana. Buat saya menarik. Jadi, saya kira cara saya untuk meriset itu akan sama geloranya. Saya akan melakukan berbagai riset, tidak hanya riset pustaka. Tapi juga bertanya pada banyak orang. Itu satu. Kedua, seberapa jauh ketertarikan saya dengan kota tersebut.
Misalnya gini ya. Bali itu menarik, tapi saya tahu Bali sudah terlalu banyak ditulis orang. Jadi, kayaknya kalau ada yang tanya kamu akan menulis dengan setting Bali, enggak? Kayaknya dalam waktu dekat ini enggak. Bukan karena saya enggak tertarik, tertarik, tapi mungkin saya masih ke bagian lain di Bali yang jarang didatangi orang. Jadi bukan Kuta, mesti ke bagian-bagian yang jauh. Kan itu banyak bagian Bali sebenarnya yang agak terperosok.
Nah, itu satu. Jadi saya harus punya gelora terhadap tempatnya. Saya sangat senang Amsterdam, pertama kali saya dateng, bukan hanya karena sejarah orang tua saya, tapi juga karena kota ini kecil dan menarik. Saya langsung jatuh cinta sama beberapa kafenya yang di pinggir kanal itu. Dan semua kafenya kecil-kecil. Saya tahu di kota-kota Eropa lain juga kecil-kecil ya. Tapi di situ saya juga merasa nyaman karena semua orang juga bisa bahasa Inggris, kalau di Belanda, ya, di Amsterdam. Kalau di Paris kan mereka enggak mau bahasa Inggris ya.
Kemudian ada yang bisa dikenal, gitu. Karena mereka biasa dengan orang Indonesia. Mereka sering bertemu dengan orang Indonesia. Mereka tidak akan, "woo, ini siapa nih orang asing?" Enggak begitu. Di beberapa kota Eropa lain kan saya harus hati-hati. Indonesia? Apa? Tapi kalau Belanda, mereka sudah terbiasa. Dan belum apa-apa saya jadi merasa aman. Mereka oke, biarpun saya baru pertama kali ke sini, kok saya merasa oke-oke saja, saya merasa aman, saya enggak merasa bahwa akan ada sesuatu, sesuatu yang buruk. Itu enggak.
Dan juga saya orang yang seneng makan. Nah, itu saya cocok dengan berbagai tempat makan, apapun, saya itu cocok. Masuk saja. Itu penting buat saya, bahwa makanannya harus enak. Terus, ya itu, terutama orang-orangnya. Semua bersedia bicara bahasa Inggris. Bahkan ada yang mencoba menggunakan bahasa Indonesia sama saya. Jadi saya senang. Ramah mereka. Ya udah, itu membuat saya terdorong untuk benar-benar menulis sesuatu dengan latar belakang Amsterdam. Yang penting saya bergelora dengan kotanya.
RNW: Di khazanah sastra Indonesia belum banyak yang menulis tentang Amsterdam. Sepengetahuan saya hanya satu penulis sastra ya, itulah Iwan Simatupang yang menulis sebuah cerpen berjudul Patates Frites. Itu tentang satu jalan di pusat kota Amsterdam. Rokin dan Damrak. Itu sebenarnya satu jalan tapi pakai dua nama. Anda kan mengatakan sudah terlalu banyak orang menulis dengan setting Bali, tapi kayaknya memang untuk Amsterdam belum banyak nih?
Seru jadinya
LSC: Ya, saya enggak begitu memperhatikan. Waktu Anda ngomong gitu, baru saya ngeh ya, Iwan Simatupang. Mungkin saya enggak tahu, apa ada urusannya dengan masa lalu ya. Saya enggak tahu. Seharusnya dengan hubungan kita dulu, mestinya banyak cerita-cerita tentang itu. Karena saya kan sedang meriset meskipun masih pelan-pelan, sedikit-sedikit, karena saya sebenarnya lagi ngerjain novel lain, yang latar belakangnya ada Parisnya juga.
Tapi novel saya berikutnya yang Catatan Kemala Suwandi itu kan kelanjutannya Nadira. Itu sekitar 50 persen di Belanda. 50 persen Indonesia, 50 persen Belanda. Itu Belandanya di tahun 1950an, jadi itu kan pergulatan orang-orang Indonesia, pelajar Indonesia yang belajar di Belanda itu menarik di situ. Terus ada orang-orang yang kemudian menjadi pemimpin kita, itu kan pada belajar di situ. Sjahrir, ya?
Menurut saya kalau itu diceritakan seru jadinya. Dan gimana sih hubungan mereka dengan orang Belanda. Gimana hubungan mereka dengan sesama mahasiswa di Indonesia. Terus perjalanan mereka dari Indonesia ke Belanda itu gimana? Hal-hal seperti itu. Kelompok-kelompoknya gimana? Kan ini ada PSI, ada yang lainnya. Itu seperti apa? Terus guyon-guyon di antara mereka.
Itu saya sedang riset. Karena ada beberapa buku, termasuk bukunya Poeze, tentang orang-orang Indonesia yang di Belanda. Itu kan menarik itu ya. Tapi memang itu lebih sejarah. Jadi saya lagi mencari bagaimana dari sisi sosialnya. Kayak apa sih? Apakah ada perbedaan kelas. Bahwa ini nih yang kelompok apa, ada enggak? Kalau mahasiswa Indonesia yang di luar negeri, zaman saya, itu ada. Ini yang anak-anak bea siswa, ini yang anak-anak pejabat. Ada lagi anak-anak penguasaha. Itu akan kelihatan dari penampilannya.
Kalau anak pengusaha pasti sekolahnya di universitas yang yaaahh, gitu deh. Terus pakai mobil. Mobilnya yang kerèn-kerèn. Kalau anak pejabat di tengah-tengah. Karena walaupun mereka pejabat uangnya tidak sebanyak anak pengusaha, jadi mereka di tengah-tengah. Nah, anak bea siswa kayak saya, ya udah, pasti naik bus. Selalu kelaperan dan selalu harus belajar terus supaya bea siswanya enggak hilang, dsb. Nah, itu ada kelasnya. Jadi saya ingin tahu zaman itu bagaimana?
Itu salah satunya juga kenapa saya gambarkan juga si Kemala itu anak orang kaya, sementara si Bram itu anak bea siswa. Saya gambarkan, gitu, karena itulah memang yang terjadi. Dan saya ingin mengetahui yang lebih jauh lagi, banyak enggak sih anak-anak seperti Kemala, dan banyak enggak sih mahasiswa seperti Bram, gitu lho. Kalau menurut orang tua saya sih iya.
Mungkin tidak setajam zaman sekarang, karena mereka menganggap itu sama-sama orang Indonesia yang di luar negeri. Indonesia waktu itu baru saja merdeka. Merdekanya pun juga masih penuh perjuanganlah. Jadi, persoalan itunya tidak terlalu kental seperti zaman saya. Nah itu saya pingin tahu. Mungkin literaturnya enggak ada. Kalau saya ada rejeki dan waktu, saya kepingin sekali ke Belanda untuk mencari literaturnya.
RNW: Jadi Anda lebih ke novel sejarah ya, tentang masa lampau, yang Kemala itu?
LSC: Bagian itunya 50 persen, tapi kan nantinya dia kembali ke Indonesia. Dia kawin, dia kembali ke Indonesia dengan tiga anak. Itu kan juga udah saya gambarkan di Nadira. Kemudian sampai dia bunuh diri dong. Bunuh dirinya kan tahun 2001. Jadi selesainya nanti ketika dia bunuh diri.
RNW: Tapi unsur sejarahnya itu? Dalam khazanah sastra Indonesia juga enggak terlalu tertarik, kan, penulis-penulis untuk melihat itu.
Pengkhianatan
LSC: Saya lupa tuh. Enggak ada ya? Itu saya terus terang enggak ngerti kenapa. Padahal mestinya ya menarik, gitu lho. Jadi, waktu Nadira ini muncul banyak sekali yang tertarik cerita itu. Bagian yang itu. Ya ada yang menganggap itu karena romantis, mereka suka. Ada romantisme tahun 1950an, dan sebagainya. Tapi juga ada yang seneng karena ada sedikit sentuhan pergulatan partai politik yang bukan tempelan tapi memang udah menjadi bagian dari perbincangan keluarga.
Karena kan di keluarganya si Bram, lho kok kamu milih Masyumi, padahal kita semua udah NU. Dan itu memang yang kurang lebih, meskipun sebenarnya enggak setegang itu sih, tapi sebetulnya memang bener, ayah saya itu keluarganya adalah keluarganya yang deket sama NU dan ketika dia milih Masyumi ya mereka agak kaget. Tapi ini kan fiksi, jadi saya bikin lebih tegang. Itunya dibikin seolah-olah sebuah pengkhianatan, gitu. Padahal enggak begitu amat sih. Cuma, lho kok tumben, kita semua nih NU.
Kebetulan salah satu adiknya nenek saya ada yang Muhammadiyah. Makanya kan disebut, itu enggak papa kan Muhammadiyah, memangnya kenapa? Yang penting pokoknya kita memilih partai Islam. Gitu aja.
RNW: Jadi masa lampau sebagai acuan untuk masa kini?
LSC: Ya acuan! Tapi kalau untuk Kemala itu, itu bukan acuan ya. Karena memang dia nanti peran utamnya. Dia dan Bram ya. Jadi mau menceritakan Kemala. Ini mau menceritakan hidup dia. Dari dia remaja, remaja umur 13, gitu, sampai nanti dia bunuh diri. Jadi itulah kisahnya.
RNW: Terima kasih atas penjelasan Anda dan semoga sukses dengan novel-novel yang sedang dipersiapkan.
LSC: Kembali sama-sama.
Demikian bincang-bincang Joss Wibisono dengan penulis Leila Chudori tentang setting Eropa, khususnya Amsterdam dan Paris dalam cerpen-cerpen karya penulis Indonesia ini.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.