Pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal sedang giat-giatnya mendatangkan investor asing. Namun berbelitnya birokrasi menjadikan seorang warga Belanda mendirikan biro perjalanan di Thailand.
Ia adalah Tina Eissing, warga negara Belanda keturunan Indonesia. Tina pernah tinggal di negeri kincir angin selama kurang lebih tiga puluh tahun. Ia dan suaminya (warga Belanda) pada mulanya ingin mendirikan biro perjalanan di Indonesia. Namun apa boleh buat mengurus perizinan di tanah air sangatlah sulit, terlebih buat warga negara asing.
"Saya pernah mencoba beberapa tahun yang lalu. Tapi sayang kertas-kertasnya atau izinnya tidak selesai-selesai". Walhasil pasangan itu mencoba mendirikan biro perjalanan di Thailand. Di negeri gajah putih itu Tina dan suaminya berhasil mendapatkan izin dengan mudah. "Saya di sini memiliki visa setiap satu tahun dan juga izin kerja, jadi mendirikan izin travel agency (biro perjalanan-red) juga gampang."
Kantor biro perjalanan milik Tina Eissing, The Flying Dutchman terletak di pinggiran pantai Pattaya, Thailand. Dengan memiliki beberapa karyawan, Tina Eissing berhasil mewujudkan impiannya dan sudah menjalankan usahanya itu selama satu tahun terakhir.
Tina yang lahir di Surabaya dan pernah ikut orang tuanya tinggal di Belanda, merasakan sulitnya dalam meminta izin mendirikan biro perjalanan di Indonesia. Padahal pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal sedang giat-giatnya melancarkan promosi agar para pengusaha asing menanamkan modalnya di Indonesia."Selain mahal, juga tidak ada jaminan kalau saya bisa mendirikan kantor di Indonesia."
Khusus Turis Belanda
Biro perjalanannya The Flying Dutchman, khusus mengurus turis-turis Belanda yang berminat melancong di Thailand. Dengan spesialisasi itu, Tina tidak memiliki saingan di Pattaya, karena sebagian besar biro perjalanan domestik hanya mengurus turis Thailand saja. "Saya juga menjual paket dari Belanda ke sini (Thailand--red) dan juga ke Bali. Banyak orang Belanda yang datang kesini itu juga melanjutkan perjalanan ke Bali."
Alasan turis Belanda mampir ke Bali cukup sederhana. Di Thailand menurut Tina, para wisatawan Belanda hanya mendapat visa selama tiga puluh hari. Setelah itu mereka ke luar sebentar yaitu Bali dan kembali lagi menikmati liburannya di Thailand. Menurut Tina, turis Belanda terutama pelanggannya lebih banyak yang pergi berlibur ke Thailand dibanding ke Indonesia.
Hal itu karena visa masuk Thailand gratis, di samping itu suasana di Thailand cocok dengan kegemaran orang Belanda. "Semua hiburan, seperti misalnya bar, restauran ada di luar gedung. Sementara di Indonesia itu di dalam ruangan"
Di samping mengurusi visa dan rencana liburan warga Belanda di Thailand, Tina Eissing tidak ketinggalan pula repot mengurusi turis Belanda yang tertimpa masalah di Thailand. "Kan banyak orang Belanda yang suka mabok, nah ketika mereka berurusan dengan polisi, saya membantunya dengan memberi tahu kedutaan besar Belanda."
Tina Eissing yakin, biro perjalanan yang dikelolanya akan meraih sukses di masa depan. Dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan pemerintah Thailand dalam menarik turis, apakah Indonesia juga akan mengikuti langkah negeri tetangganya itu dengan memberikan kemudahan sama?. Bukankah alam Indonesia tidak kalah indahnya dengan alam Thailand?














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.