Sekarang orang merasa lebih bebas di jalan-jalan Tunisia, kata Adrianus Koetsenruijter, laki-laki Belanda yang sejak empat tahun memimpin delegasi Eropa di Tunisia dan Libia. Mereka lebih banyak tertawa dan sering membuat lelucon.
Bagi Uni Eropa kemungkinan untuk bekerja sama menjadi lebih besar setelah Revolusi Musim Semi Arab. Proyek-proyek demokratisasi memperoleh banyak dukungan Barat. Namun Koetsenruijter juga memperingatkan, Tunisia yang baru seharusnya tidak menjadi “taman bermain”: “Jangan orang berbuat semaunya.”
Setelah diktator Tunisia Zinedine ben Ali dilengserkan Januari 2011, negeri tersebut harus menemukan jati dirinya kembali. Tunisia harus menggelar pemilu. Ekonomi negeri tersebut menghadapi pukulan berat dan situasi keamanan sangat buruk. Selain itu Tunisia dibanjiri banyak media dan LSM baru.
Ketika Ben Ali masih memimpin negeri itu, Uni Eropa telah berada di sana, yakni sebagai mitra dagang dan donor. Setelah lengsernya diktator tersebut, Eropa memutuskan melipatgandakan bantuan keuangan, dari 80 juta hingga 160 juta euro.
Eropa membantu dalam penampungan pengungsi Libia di Tunisia. Selain itu Tunisia, sebagai negara pertama, menggunakan dana baru yang dimaksud untuk melaksanakan reformasi di kawasan. Dana SPRING didirikan Uni Eropa pasca revolusi Arab.
Tekanan terhadap Uni Eropa
“Pasca revolusi, tekanan delegasi kami, semakin besar,” ungkap Koetsenruijter. Di satu pihak Eropa bersama antara lain Bank Dunia membantu mengurangi ketimpangan ekonomi antara pelbagai regio di Tunisia.
Di pihak lain Eropa menyumbang dana kepada pemerintah dan organisasi untuk melakukan pelbagai proyek demokratisasi. Dana itu antara lain dipakai untuk memberikan pelatihan kepada wartawan, mendorong keikutsertaan organisasi perempuan dalam persiapan pemilu serta penyelenggaraan festival film hak-hak asasi manusia.
“Semua pihak berbuat semaunya, Tunisia menjadi semacam taman bermain,” kata Koetsenruijter. “Jika banyak pihak ingin berbuat terlalu banyak, pada akhirnya anda hanya sibuk mengurusi prosedur.”
Kadangkala wakil Uni Eropa dari Belanda itu menghadapi banyak kritik. “Orang tahu Uni Eropa bekerja sama dengan rezim lama. Kami dikritik tidak berbuat apa-apa.” Kendati demikian, Koetsenruijter berpendapat Uni Eropa turut “menyumbang pada proses modernisasi” dengan terus berinvestasi antara lain di bidang pendidikan.
“Warga telah menjadi independen dan berani mengungkapkan pendapat. Mereka tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan diktator.”
Kebebasan pers
Harapan terhadap Uni Eropa juga tinggi: Masyarakat berharap kalau kami juga bisa menciptakan lapangan kerja, tapi kami tidak bisa berbuat semua." Menurut Koetsenruijter kendati banyak kritik yang dilancarkan, Uni Eropa sebagai ksatuan punya kemungkinan sukses lebih besar, dibandingkan jika upaya itu dilakukan negara anggotanya masing-masing. "Prancis dan Jerman tidak dapat menyakinkan Tunisia soal posisi perempuan yang harus dicantumkan di Undang-undang atau misalnya kebebasan pers yang harus dijamin. Saya berbicara atas nama wakil Eropa kepada para menteri dan mereka mendengarkan."
Sementara kondisi ekonomi di Tunisia juga tidak lebih baik. Pada 2011 pertumbuhannya negatif, dan untuk tahun 2012 kondisinya juga masih goyah. "Sedikit memang investor yang meninggalkan Tunisia, namun tak seorang pun yang menginvestasikan uangnya di negara yang tak memiliki arah yang jelas. "Menurut Koetsenruijter, pemerintah Tunisia tak memberikan arah yang jelas." Setelah pemilu Oktober lalu, partai islam moderat Al-Nahda yang menang dalam menang dalam pemilu membentuk koalisi bersama dua pertai lainnya yang lebih kecil.
Optimis
Saat ini amandemen UUD sedang berlangsung, namun partai-partai politik lebih tertarik dengan debat soal jatidiri bangsa dibanding memecahkan masalah yang sesungguhnya. Mereka belum terbiasa untuk memerintah," kata Koetsenruijter.
Kendati demikian ia optimis dengan pembangunan kembali dan perkembangan demokrasi di Tunisia. "Itu tak bisa dibandingkan dengan Libya yang harus benar-benar memulai dari awal. Tunisia, sudah punya UUD sesaat setelah kemerdekaan dan itu merupakan dasar yang baik. Hanya saja UUD itu digunakan sebagai senjata untuk menindas rakyat."
Selain perbaikan ekonomi, hal lain yang tak kalah penting mengarahkan Tunisia pentingnya kebebasan pers dan hak perempuan. Ia melihat banyak kekuatan politik menyerukan untuk menerapkan sensor pribadi.
Lebih konservatif
Namun ia sendiri tidak begitu khawatir Tunisia akan menuju ke arah yang salah. "Sekarang ada kebebasan, walaupun semakin jelas bahwa masyarakat ternyata lebih konservatif. Di jaman Ben Ali perempuan mengambil keuntungan dari kebijakan pemerintah yang liberal. Saat ini ideologi itu terancam. Namun saya rasa itu hanya sementara."
Ia melihat di jalan bahwa masyarakat merasa lebih bebas. "Ada tawa, dan saya lihat ada canda, dan cara bekerja mereka juga berubah. "Dulu saya tdak bisa mendapatkan orang yang bisa bekerja sama di rumah, karena setiap orang Tunisia saling mencurigai. Sekarang saya sudah memilikinya."














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.