Sekilas, tak ada yang istimewa dengan keluarga di desa Haryana, India utara, ini. Seorang gadis kecil berusia dua tahun menggelayut malu-malu di kaki ibunya, sementara sang ibu menyuguhkan teh dan ayah duduk memandang. Namun dari dekat, terlihat keriput di wajah sang ibu, rambut berubannya menyembul di balik kerudung.
Rajo Devi Logan, yang akhir 2008 lalu tiba-tiba menyandang gelar "ibu tertua di dunia" tersenyum lebar ketika bercerita soal putrinya.
"Saya bahagia sekali dengan putri saya! Sebelum ia lahir, saya merasa hidup saya kosong. Dulu, tetangga selalu merasa kasihan pada kami."
Rajo Devi tak suka mengingat-ingat masa-masa ketika ia dan suaminya, Balla Ram, belum punya anak. Seperti banyak orang di pedesaan India, Devi tak tahu persis berapa usianya. Tapi ia setidaknya berumur 70 tahun. Dan suaminya 80. Katanya. Dua setengah tahun lalu putri mereka Naveen lahir, 58 tahun setelah pasangan ini menikah.
Bayi Meagan
Belanda heboh menanggapi kelahiran Meagan dan ibunya yang berusia 63 tahun. Kehebohan ini disusul pro-kontra: apakah si ibu berhak punya anak pada usia setua itu. Sementara di India, pasangan-pasangan tua sudah sejak dulu pergi ke klinik inseminasi buatan (IVF). Di sana, punya anak bukan hanya keinginan pribadi, namun juga tuntutan masyarakat: stigma yang mereka hadapi jika tidak punya anak membuat mereka memutuskan pergi ke klinik.
Dulu Balla Ram mencoba segalanya, dari dokter di seluruh penjuru India, sampai terapi pengobatan alternatif. Setelah lima belas tahun menikah, Balla Ram bahkan menikah lagi dengan adik Rajo Devi, Omi, yang usianya sepuluh tahun lebih muda dari Devi. Omi juga tak punya anak. Ketika Balla membaca soal IVF di koran lokal, ia mengajak kedua istrinya ke klinik. Omi ternyata punya tekanan darah tinggi, dan dokter menolak memberinya IVF.
Proses kelahiran bayi Rajo Devi bukan tanpa masalah. Rahim Devi diangkat, sampai tahun lalu ia masih mengalami pendarahan dari luka operasi caesar. Dan sampai sekarang ia masih rutin mengonsumsi obat penghilang rasa sakit. Media massa India menulis, dokternya, Anurag Bishnoi dari klinik IVF di Hisar, Haryana, tidak memberikan cukup keterangan mengenai risiko kehamilan pada usia senja.
Nggak apa-apa, kok
Dokter Bishnoi menampik kritik itu.
"Masyarakat kami tidak keberatan. Semua bilang, "bagus, bagus!" Apa pun yang terjadi, dan apa pun yang akan terjadi, itu akibat usianya, bukan akibat IVF atau kehamilan usia tua. Tak seorang perempuan pun meninggal gara-gara IVF, atau gara-gara kehamilan usia tua. Jadi kami terus saja dengan perawatan ini."
Biaya perawatan IVF di klinik dokter Bishnoi adalah 1250 euro per siklus; jauh lebih murah dari perawatan di Eropa atau di kota-kota besar India, seperti New Delhi dan Mumbai. Petani-petani kaya di Haryana bisa membayarnya. Balla Ram harus pinjam uang, namun katanya, sebagian besar sudah dibayar.
Kehamilan di usia senja tak selalu lancar. Dokter Anurag Bishnoi mengatakan, di kliniknya, terdapat sekitar 50 pasien berusia di atas 50 tahun, dan 10 di atas 60. Tiga kehamilan dari kelompok usia 60 berakhir dengan kematian bayi. Tahun lalu, klinik ini jadi perhatian internasional karena seorang ibu berusia 66 tahun, Bhateri Devi, melahirkan kembar tiga. Tak lama setelah kelahiran, satu bayinya meninggal.
Usia maksimal
Walaupun risikonya tinggi, dan banyak pasien di India yang kurang informasi atau pengetahuan, sama sekali tak ada usia maksimal untuk menjalani IVF. Dan kemungkinan menentukan usia maksimal juga kecil. Dokter R.S. Sharma, ahli IVF di Delhi dan kepala sebuah komisi yang saat ini sedang menyusun undang-undang untuk ART - Assisted Reproductive Technology - menjelaskan alasannya:
"Ini sangat penting. Ada usia minimal, namun tak ada usia maksimal. Dan alasannya, yang juga telah kami bicarakan di komisi, adalah karena beranak-pinak adalah hak tiap orang. Yang jadi masalah penting, tentu saja, siapa yang nantinya merawat si anak jika sang ibu sudah terlalu tua, dan poin ini telah dibicarakan. Namun karena ini hak fundamental tiap orang, komisi tak bisa menentukan usia maksimal. Toh sampai sekarang debat masih berjalan."
Rajo Devi tak khawatir soal masa depan anaknya.
"Ada paman dan bibinya. Saya juga akan tetap berada di sisinya dan merawatnya. Semoga saja ia nanti bisa menyetir seperti Anda. Lalu jadi dokter atau orang penting."






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.