Tinjauan pers kali ini mengangkat pemerasan buruh pabrik tekstil India, perdana menteri Inggris mengambil cuti setelah anaknya lahir dan 'perang' Indonesia Malaysia.
H&M dan C&A dua konglomerat toko pakaian Eropa ternyata menjual pakaian yang diproduksi oleh anak-anak di India. Yang menjadi masalah, anak-anak ini diperas oleh majikan mereka KPR MILL. Mereka tidak boleh meninggalkan kompleks pabrik dan seperempat dari upah mereka disimpan dan baru dibayar tiga tahun kemudian dengan alasan tabungan untuk mas kawin.
Pabrik yang terletak di negara bagian Tamilnadu ini memperkerjakan sembilan ribu anak muda dengan usia minimal 16 tahun. Para buruh tidak punya kontrak kerja dan memecat buruh yang berhubungan dengan serikat buruh. Demikian diberitakan Harian Belanda De Volkskrant.
Konglomerat Hennes & Mauritz mengakui di tahun 2009 mereka memproduksi sejumlah pakaian di tempat itu. Tapi kemudian dihentikan setelah ada laporan situasi buruh yang buruk. Tahun ini mereka memulai kerjasama lagi dan setelah laporan terakhir mengatakan akan mengunjungi dan menyelidiki tuduhan terlebih dulu sebelum mengambil keputusan. Sementara konglomerat Belanda C&A menyatakan akan menghentikan kerjasama dengan KPR Mill karena tidak sesuai dengan persyaratan mereka.
Cuti Anak
Perdana Menteri Inggris David Cameron akan mengambil cuti dua minggu setelah kelahiran putrinya Florence Rose, beberapa minggu lalu. Ini untuk pertama kali seorang perdana menteri Inggris mengambil cuti setelah kelahiran anak. Florence adalah anak keempat sang perdana menteri dan istrinya Samantha dan menutup bab menyedihkan dalam hidup mereka. Putra sulung mereka Ivan, yang cacat berat, meninggal dunia tahun lalu setelah serangan epilepsi. Tutur Koran Belanda Algemeen dagblad.
Cameron beberapa kali menyatakan akan mengambil cuti jika anaknya lahir dan sekarang memenuhi janji tersebut, walaupun mungkin tidak sekaligus. PM baru ini memang dalam kampanyenya mengatakan akan membuat Britania, 'negara yang paling memperhatikan keluarga di Eropa.' Keputusannya ini disambut positif di Inggris, termasuk dari serikat buruh dan majikan. Menurut mereka ini adalah contoh terbaik, bahwa pemerintah benar serius menjalankan kebijakan. Demikian Algemeen Dagblad.
'Perang' Indonesia Malaysia
Harian De Volkskrant juga memuat berita; 'Perang" antara Indonesia dan Malaysia. Diceritakan bagaimana media, baik televisi maupun cetak turut membangun rasa ketidaksukaan terhadap Malaysia melalui talk show dan acara lainnya. "Kita punya 114 kapal perang, malaysia hanya 24. Kita punya 67 pesawat tempur, mereka 18. 243 ribu tentara sementara mereka hanya 135 ribu".
Selain itu slogan lama yang dipakai sewaktu era Soekarno, 'ganyang Malaysia' juga terdengar di mana-mana. Konflik perbatasan yang sekira pemerintah bisa diselesaikan lewat perundingan, menjadi tema nasional. Pemerintah Jakarta tidak memperkirakan sebelumnya bahwa kebencian warga Indonesia sebegitu besarnya. Kedua negara memang sudah sering bertikai, tapi tidak sampai separah ini. Pidato Presiden SBY malam kemarin di mabes TNI, juga tidak menenangkan suasana.
Seruan untuk berperang tidak disambut kalangan TNI. Malaysia mungkin punya lebih sedikit senjata, tapi bersekutu dengan Australia, Selandia Baru dan Singapura, yang akan membantu jika Indonesia menyerang. Selain itu kemarahan reda dengan sendirinya ketika media memberitakan rencana DPR membangun gedung parlemen baru dengan restoran mewah, sauna dan fitness. Berita ini mengambil-alih kebencian dengan Malaysia, dan rakyat Indonesia mulai memaki wakilnya. Demikian De Volkskrant.





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.