Tinjauan pers kali ini mengangkat kebebasan pers di Sri Lanka dan nasib Belanda di Festival Lagu Eropa.
Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa merasa posisinya kuat dan karena itu memberi sedikit ruang gerak kepada para jurnalis di negaranya, selama mereka tidak menulis atau mengkritik dirinya dan keluarganya. Demikian judul artikel di harian Belanda de Volkskrant.
Setahun lalu, pemred koran minggu The Sunday Leader Ahimsa Wickrematunge ditembak mati di mobilnya, tidak jauh dari tempatnya bekerja. Pembunuhan ini adalah bukti kesekian kali bahwa hampir tidak ada kebebasan pers di Sri Lanka. Tiga hari sebelum pembunuhan, pemred itu menulis sebuah kolom kritis: dalam usaha membungkam pers, pemerintah Sri Lanka tidak ragu memakai jalan kekerasan.
Macan Tamil
Pada saat pembunuhan, angkatan bersenjata Sri Lanka sedang berusaha keras memukul mundur pemberontak Tamil di Utara. Semua kritik terhadap pemerintah dan militer dianggap sebagai pengkhianatan.
Sekarang, setahun setelah Macan Tamil menyerah, media Sri Lanka diberi sedikit lebih banyak ruang gerak. Selama sang presiden dan keluarganya tidak disinggung, para wartawan boleh menulis dengan bebas. Tetapi mereka harus tetap berhati-hati, karena masih ada sensor awal. Demikian lanjut de Volkskrant.
Uni Eropa
Alasan lain dari perubahan sikap adalah ancaman Uni Eropa untuk memberlakukan boikot perdagangan apabila Sri Lanka tidak membenahi masalah pelanggaran HAM. Eropa ingin menyelidiki apakah terjadi pelanggaran HAM dan kejahatan perang dalam peperangan melawan Macan Tamil. Presiden Rajapaksa tidak suka urusan dalam negerinya dicampuri pihak asing, karena itu memulai sendiri penyelidikan.
Langkah itu dikecam masyarakat internasional, karena komisi yang dibentuk dianggap tidak independen. Demikian de Volkskrant.
Festival
Kita ke Eropa. Kamis malam ini dilangsungkan babak penyisihan Eurovisi Songfestifal, atau lomba lagu se-Eropa. Belanda ikut serta dalam festival ini sejak tahun 1956, dengan hasil 4 kali memang dan 4 kali duduk di tempat terendah. Sukses terbesar Belanda dalam Eurovisie adalah pada tahun 1975, ketika grup Teach Inn menang dengan lagunya Ding a Dong.
Festival lagu ini menggantungkan penilaian pada publik, yang harus memilih empat negara yang dianggap punya lagu dan penampilan terbaik. Negara yang mendapat suara terbanyak keluar sebagai pemenang.Negara yang mendapat nilai rendah tidak diperbolehkan ikut lomba ini di tahun berikutnya.
Semifinal
Sejak tahun 2002, Belanda selalu kandas di babak semifinal, walaupun sudah banyak rumus dicoba. Mulai dari gaya sederhana hingga glamour, laki-laki tampan hingga penyanyi seksi dengan kostum menantang. Semua berakhir tanpa hasil. Tahun ini, Sinneke - seorang penyanyi lagu-lagu rakyat yang tidak dikenal - dipilih sebagai wakil Belanda. Ia akan membawakan lagu yang dianggap banyak orang di Belanda tidak punya kemungkinan untuk lolos.
Diragukan
Lagu Sha-la-li ik ben verliefd, dianggap banyak orang memalukan dan tidak pantas mewakili Belanda di ajang internasional. "Di banyak media Belanda, Sinneke dipermalukan dan dihina, karena lagunya dinilai terlalu 'ndeso," demikian harian pagi Metro. Sementara harian de Pers menulis, "Hanya 11% persen warga Belanda yang yakin Sinneke bisa lolos ke babak final." Spits menambahkan, Sinneke harus terus-menerus tersenyum manis di depan kamera, untuk mendapat simpati publik.
Tetapi ada juga media yang berkomentar positif, "Diam-diam banyak orang berharap, Sinneke bisa lolos ke babak final di Oslo," tulis harian Trouw. Lagu Sha-la-li yang dianggap sederhana, justru menarik perhatian, karena lagu-lagu lain justru dinggap berlebihan. Wajah Sinneke yang manis dan kekanakan malah menarik simpati banyak orang yang bosan dengan penampilan seksi. Demikian Trouw.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.