Banyak orang tua di desa Beieren, dekat Munchen, kebingungan melihat tingkah putra-putri mereka yang kini ikut-ikutan kelompok ekstrim kanan Neonazi. Menurut harian Belanda Trouw, gerakan ini tidak hanya berjangkit di kota-kota besar, tapi juga di desa-desa kecil di Jerman.
"Belakangan ini banyak orang tua yang datang ke konseling karena malu. Mereka juga bingung, kenapa anaknya bisa berubah jadi Neonazi?" ujar Nicola Hieke, koordinator jaringan penasehat orang tua di Beieren.
Menurut Hieke kelompok ini sekarang menjadi trend. Anak muda memang suka mengikuti gaya hidup apapun yang beken. Namun sekarang sulit mengenali anak-anak Neonazi baru ini. Mereka tidak lagi berpenampilan garang dengan kepala botak, jaket kulit dan sepatu boot. Tapi malah seperti anak muda biasa.
Ciri khas yang akhir-akhir ini muncul adalah pengunaan angka 88. Berarti dua kali huruf ke delapan di alfabet, yaitu H, menjadi Heil Hilter! Kultur Neonazi ini juga bisa diketahui lewat musik. Berbagai CD grup musik ekstrim kanan, dengan lugas menyampaikan pesan-pesan Neonazi dalam lirik lagu mereka.
Lebih ekstrim lagi, Neonazi sekarang menginfiltrasi lewat propraganda ide. Mereka masuk dalam kelompok belajar mahasiswa jurusan sejarah, gerakan perempuan atau feminisme, juga kelompok konservatif.
Pertanyaannya adalah mengapa anak muda desa juga ikut Neonazi? "Pastinya mereka ikut-ikutan budaya yang lagi ngetrend. Ingin dikenal orang lain. Pencarian jati diri, frustasi dan ingin memprotes," jelas Hieke. "Orang tua mengira, gerakan seperti ini hanya bangkit di bekas DDR di timur sana, tapi tidak, mereka sudah merebak ke mana-mana," demikian Trouw.
Dari Jerman kita ke Indonesia. Nicolas Jouwe mulai menata kehidupan barunya di Indonesia, demikian tulis NRC Handelsblad. Wartawan harian sore Belanda itu, Elkse Schouten, mewawancarai Jouwe di apartemen sementaranya di Jakarta. Dalam waktu dekat dia akan pindah ke Jayapura.
Setelah 47 tahun berada di pengasingan, Jouwe, pendiri Organisasi Papua Merdeka, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya. Di sana, banyak yang akan mengurusnya, cucu, cicit, keponakan, atau sepupu. Ketika ditanya apakah dia benar-benar meninggalkan secara penuh perjuangannya selama ini, Jouwe menjawab, "Yah, pertanyaan seperti ini tidak gampang menjawabnya," ujar Jouwe. "Saya tidak ingin di'panggang' di Belanda. Saya ingin di kubur saja," tambahnya. Jouwe merujuk pada kebiasaan orang Belanda sekarang lebih memilih dikremasi daripada dikubur.
Hari-hari Jouwe di Papua tidak untuk bersantai sambil berkebun. Dia akan membantu rakyat Papua. Dia ingin mendidik rakyat Papua menjadi lebih modern, seperti untuk masalah jaminan kesehatan dan sekolah.
Memerdekakan Papua sepertinya bukan lagi agenda intinya. "Ini tidak mungkin lagi. Masyarakat Internasional tidak lagi memberi dukungan," ujar Nico, putra Jouwe yang selalu mendampingi. Namun tidak semua rakyat Papua serealistis Jouwe. Di Belanda sendiri banyak yang menyebutnya pengkhianat. "Mereka tidak ingin mengerti bekerjasama dengan Indonesia lebih praktis daripada melawan." Lanjut Nicolaas Jouwe.
Demikian NRC Handelsblad, dan sekian tinjauan pers.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.