Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 24 Mei  
Avatar Heleen Sittig
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Tidak Naik Kelas, Diterima atau Memalukan?

Diterbitkan : 12 Juni 2012 - 2:44pm | Oleh Heleen Sittig (Foto: elizabeth albert/Flickr)
Diarsip dalam:

“Saya tidak menyangka ini bisa terjadi,” cerita Fabian, siswa 16 tahun di Amsterdam. Ia terkesan sangat heran. “Saya pikir pasti bakal naik kelas. Tapi, ternyata tidak. Sayang sekali.” Fabian harus mengulang kelas empat gymnasium (SMA) untuk kedua kalinya.

Setiap tahun hampir lima persen siswa di sekolah menengah Belanda tinggal kelas. Menurut serikat pekerja CNV hal ini harus berubah. Tidak naik kelas sangat menurunkan motivasi para murid, kata ketua CNV Michel Rog. Biasanya murid bersangkutan mendapat nilai jelek untuk beberapa mata pelajaran, tapi harus mengulang semuanya tahun berikut. Itu menghambat perkembangan seorang murid, kata Rog.

Sekolah musim panas
Karena itu Rog menuntut supaya murid-murid yang memang membutuhkannya, mendapat bimbingan tambahan dalam membuat pekerjaan rumah. Ia juga menuntut dibukanya sekolah musim panas, tempat para murid bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk mennyelesaikan PR.

Ini menguntungkan dua pihak, kata Rog. Inisiatif-inisiatif tambahan itu juga menghasilkan lapangan kerja untuk dosen.

Sekolah musim panas tersebut - suatu hal baru di Belanda - telah menghasilkan pengalaman positif. Beberapa murid SD di Amsterdam dan Rotterdam mendapatkan pelajaran tambahan di musim panas. Inisiatif-inisiatif ini dimaksud untuk anak-anak yang orangtuanya berpendidikan rendah.

Sekolah musim panas sangat menguntungkan anak-anak - yang pada bulan-bulan musim panas meluangkan waktu di rumah atau di jalan.

Mengulang satu tahun
Bagi kebanyakan warga Belanda, bukan masalah jika seorang murid harus mengulang kelas. Juga Fabian mengalami hal itu. Walaupun dia dan juga orangtuanya sangat kecewa ia tidak naik kelas, tapi orang dewasa lainnya seringkali berkata pada dia “Tidak apa-apa kan mengulang satu tahun?”

Malu
Sikap santai itu tidak akan ditemukan di Cina, kata Ying Chang, redaktur Radio Nederland seksi Cina. “Jika seorang murid Cina tidak naik kelas, dia akan sangat malu. Dia akan merasa kurang berusaha.”

Murid bekerja sangat keras di Cina. Semua hal yang ingin diterapkan Michel Rog di Belanda - pelajaran tambahan, kursus musim panas - sudah biasa di Cina. “Anak-anak tidak selalu menyukainya, tapi itu memang sudah biasa di sana. Di Cina, anak-anak tidak mempunyai banyak waktu luang,” kata Chang.

Suka bermain
Di Belanda - terutama di sekolah dasar - seringkali terjadi bahwa seorang guru menganjurkan orangtua agar anak mereka mengulang kelas, juga jika nilainya cukup bagus. Alasannya adalah bahwa si anak masih suka bermain. Menurut sang guru, tidak naik kelas merupakan langkah yang lebih baik untuk si anak.

“Saya tidak bisa membayangkan itu terjadi di Cina,” kata Chang.

Juga di Amerika Latin, orang tidak menganggap enteng jika murid tidak naik kelas. “Orangtua seringkali marah jika anak mereka tidak naik kelas. Mengulang satu tahun berdampak terhadap anggaran rumah tangga,” kata Fernando Cabrera dari Bolivia.

Cor Doeswijk dari Argentina menambahkan bahwa orang Amerika Latin, walaupun berpendidikan rendah, menganggap sangat penting anak mereka kuliah. Keingingan itu jauh lebih kuat daripada di Belanda.

Bodoh
Mohammed Abdulrahman dan Abir Sarras dari Radio Nederland seksi Arab menunjukkan bahwa di negara-negara Arab, orangtua dianggap bertanggungjawab jika anak mereka tidak naik kelas. “Jika anak tidak naik kelas, maka orangtua merasa kurang berusaha,” kata Abdulrahman.

Sarras menyebutnya sebuah stigma. Jika seorang anak berusia 18 tahun dan tidak lulus ujian akhir, maka dia dianggap bodoh, katanya. Topik ini sulit dibicarakan.

Serikat pekerja CNV ingin agar Kementerian Pendidikan menyediakan dana untuk melakukan ujicoba. Di waktu mendatang, rencana ini justru bisa menghasilkan uang, kata Rog, karena tidak naik kelas membutuhkan biaya. Menurut CNV, tidak naik kelas merugikan pemerintah 350 juta euro setiap tahun.

Dan Fabian? Dia bekerja sangat keras tahun ini agar mendapat nilai bagus. Dia tidak bermasalah lagi tinggal kelas.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...