Selama ratusan tahun orang Afrika Selatan sudah mengunyah tanaman yang dikenal dengan sebutan kanna, channa atau kougoed.
Tanaman berfungsi sebagai obat anti depresi semisal Prozac. Sebuah perusahaan farmasi ingin memasarkan tanaman pembawa bahagia ini.
Dukun Hendrick Jap Jap Klaase mengambil sejumput batang dan daun kering dari kantong raminya. Dalam ruangan kecil tersebut bertebaran botol kecil berisi ramuan tanaman, rempah dan akar.
"Ini rumpun tanaman kanker, asma dan aambeien," katanya sambil menunjuk apa saja yang ada di hadapannya. Ini bukan bualan semata. Klaase tahu cara membasmi bisul secara alamiah, dengan menggunakan tanaman.
Mabuk
Pria Afrika Selatan berusia 63 tahun tersebut mengosok-gosok tanaman kering di antara jari-jarinya hingga halus. Berfungsi layaknya tanaman tembakau, baik daun maupun cabang tanaman harus dikunyah. Rasanya pahit. Seorang perempuan terkantuk-kantuk di kursi selagi mengunyah tanaman tersebut. "Apa kamar ini seperti berputar? " tanya sang dukun. Dinding dan langit-langit bergerak berirama, seperti mengayun. "Ini rasanya seperti mabuk brandy," kata Klaase tergelak.
Masyarakat lokal menyebutnya tanaman kougoed (kunyah) atau kanna. Nama latinnya sceletium tortuosum. Sang dukun meresepkan tanaman ini untuk gangguan perut kembung, gangguan tidur, mengurangi rasa sakit, atau mereka yang merasa sedih. Tanaman bisa mempengaruhi susunan syaraf dan mengandung mesembrine,salah satu zat penting yang bisa membantu mengatasi depresi.
Simon van der Stel
Walaupun Afrika Selatan hanya menguasai 2% dari seluruh permukaan bumi, di sana terdapat hampir 10% dari 24 ribu spesies yang hidup di muka bumi. Dukun Klaase bisa menyebut 30 tanaman yang berkhasiat menyembuhkan, hanya dari wilayahnya saja.
Tanaman kanna sudah dikonsumsi selama berabad-abad, terutama oleh kelompok yang disebut San atau Pria Semak Belukar. Kelompok pemburu ini mengunyah tanaman selama berburu. Gubernur Belanda untuk Cape, Simon van der Stel membuat gambar dalam buku hariannya di tahun 1685, ketika berkunjung ke Namaqualand. Dia menggambarkan orang-orang San tersebut terlihat seperti dalam keadaan high (mabuk obat bius, red).
Tingkat Stres
Dengan semakin tingginya tingkat stres kehidupan masyarakat jaman sekarang, perusahaan farmasi HGH Pharmaceuticals yakin ada pasaran untuk tanaman ini. "Kami sudah minta ijin pemerintah Afrika Selatan untuk mempelajari dan membudidayakan tanaman tersebut," kata dokter dan ahli tanaman Nigel Gericke, direktur perusahaan.
HGH berencana memasarkan ekstrak tanaman kanna yang mereka sebut Zembrin, ke Amerika di tahun 2012. Penyimpanan tanaman kanna dalam jumlah besar sudah mulai terlihat di pelabuhan Cape Town. Perusahaan sudah membuktikan, tanaman aman dikonsumsi. Sekarang mereka hanya perlu membuktikan khasiatnya, sebelum tanaman dikapalkan.
Yang menarik dari komersialisme tanaman ini adalah, jika penjualan sukses, tidak cuma perusahaan yang untung, masyarakat awam juga. Dukun Klaase yang miskin akan ikut menikmati laba dan masyarakat sekitarnya bakal menerima uang atas pengetahuan mereka akan tanaman tersebut.
Imbalan Pengetahuan
Seluruh dunia saat ini berusaha mengkampanyekan penghargaan akan pengetahuan turun temurun dan memberantas pembajakan biologis. Yang dimaksud pembajakan biologis adalah perusahaan mengambil materi dari negara dunia ketiga, mengkomersilkan dan mematenkan produk, untuk kemudian meraih laba sebanyak-banyaknya, sementara komunitas di sekitar lokasi materi, tidak mendapat apapun.
Misalnya seperti produk pemutih jeans yang dihasilkan dari sejenis bakteri dari danau di Kenya, dimana hanya produsennya saja, yaitu sebuah perusahaan Amerika, yang menikmati untung.
Afrika Selatan mencoba melindungi pengetahuan tentang tanaman obat secara hukum. Dibutuhkan ijin untuk mempelajari, membudi daya dan mengkspor materi. HGH sudah memegang hak untuk tanaman kanna, yang sebenarnya banyak dijual secara ilegal. Menurut hukum, pihak perusahaan harus memberi imbalan mereka yang punya pengetahuan soal materi yang dipelajari.
Tambang Emas
Dalam hal tanaman kanna, pengetahuan dipegang orang San dan penduduk dua desa di provinsi North Cape, yaitu Paulshoek dan Nourivier. Mereka membantu riset HGH. "Mereka akan mendapat royalti dari HGH," demikian pengacara Roger Chennels, yang menjadi perantara orang San dalam perundingan dengan perusahaan.
"Seberapa banyak uang yang didapat, tergantung seberapa sukses penjualan tanaman," kata Chennels. Ini berarti, kedua desa yang sangat tertinggal dalam pembangunan tersebut, bisa jadi sedang menduduki sebuah tambang emas.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.