Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Heleen Sittig
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Tak Ada Yang Ingin Kehilangan Bahasa Ibu

Diterbitkan : 21 Februari 2011 - 4:04pm | Oleh Heleen Sittig (unesco.org)
Diarsip dalam:

Dari sekitar 6000 bahasa yang ada di dunia, sebagian besar terancam punah. Pakar bahasa yang optimis berpendapat, dalam 100 tahun mendatang, sekitar separuh bahasa akan hilang. Sedangkan kalangan yang pessimis berpendapat, sembilan dari 10 bahasa akan segera lenyap.

Itu adalah bahasa bangsa yang kecil. Ada bahasa yang hanya dipahami oleh beberapa ribu orang, atau bahkan hanya oleh 15 orang. Demikian Pieter Muysken, pakar bahasa pada Universiteit van Nijmegen di Belanda timur. Ia meneliti bahasa di Bolivia. Di negeri Amerika Latin ini hanya tersisa 34 bahasa. Muysken khawatir, sebagian besar akan hilang. Bahasa-bahasa itu tidak lagi diteruskan pada generasi baru. Kalau bahasa itu hanya digunakan oleh begitu sedikit orang, maka pasti akan hilang juga.

Laknat ilahi
Banyak orang melihat bahasa sebagai salah satu wujud jati diri mereka. "Banyak orang berpendapat, akan terjadi malapetaka kalau sebuah bahasa sampai hilang. Kalau mereka tidak berhasil mempertahankan bahasa, maka itu dirasakan sebagai kekalahan," kata Muysken.

"Bahkan ada yang menganggap itu malapetaka. Atau laknat ilahi." Muysken bertutur tentang seorang pria Bolivia yang berpendapat bahwa bahasa Urunya hilang bersamaan dengan hilangnya benda keramat dan wahyu. Warga desa itu berpendapat, kalau mereka tidak lagi bertutur kata dalam bahasa Uru, maka kekuatan magis mereka akan hilang.

Bahasa ibu adalah pencerminan tradisi dan budaya bangsa penuturnya. Walaupun seseorang fasih dalam dua bahasa, maka bahasa ibunya adalah bahasa yang paling mudah dituturkan. Seorang perempuan Peru pernah berkata pada Muysken dirinya bangga anaknya bisa masuk sekolah berbahasa Spanyol, tetapi si anak tidak bisa lagi berbicara dengan neneknya yang hanya fasih berbahasa Quecha.

Ada juga bahasa-bahasa yang tampaknya hilang, tetapi ternyata berhasil muncul kembali. Pada abad XIX, banyak orang beranggapan bahasa Baskia akan hilang dalam beberapa generasi. Tetapi karena Baskia mengalami industrialisasi pesat, bahasa dan jati diri Baskia mengalami perkembangan luar biasa. Sekarang orang sudah tidak khawatir lagi terhadap musnahnya bahasa Baskia. Bahasa ini berhasil diselamatkan berkat pertumbuhan ekonomi dan kekuatan sendiri di wilayah itu. Demikian Muysken.

Ketimpangan bahasa

Selain itu juga muncul bahasa baru. Pada abad 16, 17 dan 18 muncul beberapa bahasa baru, apa yang disebut bahasa-bahasa Kreol. Bahasa seperti ini muncul karena pada budak dan kemudian buruk kontrak dipindah dari satu tempat ke tempat lain. Dan di tempat kerja mereka, misalnya di Suriname atau Antila, mereka harus bertutur dalam bahasa baru. "Karena itu dalam wilayah kerajaan Belanda, bahasa Papiamentu belum ada pada tahun 1600, tetapi sekarang merupakan bahasa penting di Antila," tutur Muysken.

Walau begitu, Muysken memperingatkan soal ketimpangan antara munculnya bahasa baru dan hilangnya bahasa yang ada. Bahasa yang hilang masih terlalu banyak dibandingkan dengan bahasa yang muncul.

Siapa yang patut disalahkan? Globalisasi dan makin dominannya bahasa Inggris? Muysken tidak sependapat. Bahasa Inggris memang maju pesat, tetapi tetap sebagai bahasa kedua. Sebagai reaksi terhadap perkembangan ini, pakar bahasa Pieter Muysken melihat sekarang ada beberapa bahasa yang tampil lebih kuat. Salah satu bahasa itu adalah bahasa Belanda.

Orang Belanda takut dominannya bahasa Inggris, karena itu bahasa Belanda mendapat banyak dukungan dari pemerintah. Itu perkembangan terbaru. Pada tahun 1960an, seorang pakar bahasa Belanda masih berharap bahasa ini akan lenyap dalam beberapa generasi. Demikian Muysken. Waktu itu banyak orang mengernyitkan dahi, sementara sekarang hal semacam itu sudah tidak terbayangkan lagi. Di Belanda siapa saja masih berpendapat bahasa Belanda penting.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET