Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar José Zepeda
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Tahanan Politik Instrumen Penekanan

Diterbitkan : 16 April 2010 - 1:43pm | Oleh José Zepeda (RNW)
Diarsip dalam:

José Zepeda menjabat direktur sebuah pemancar radio di Cile utara tahun 1973: Radio Atacama di Copiapó. Setelah kudeta berdarah Jenderal Augusto Pinochet, stasiun radio itu ditutup. Instalasi penyiaran dihancurkan dan semua furnitur dicuri pihak militer.

Pada 25 September 1973, dua minggu setelah kudeta, José Zepeda ditangkap dan disiksa. Dia dituntut hukuman lima tahun penjara atas tuduhan mendukung perlawanan terhadap penguasa militer, melanggar undang-undang keamanan dalam negeri dan aktivitas menentang masyarakat Cile. Akhirnya dia meringkuk selama dua setengah tahun di penjara dan pada bulan Februari 1976 dia dibuang ke Belanda.

Tahanan politik tidak muncul begitu saja. Sebelum ditangkap dia dituntut. Rezim tirani samar-samar atau blak-blakan, sudah jauh-jauh hari sebelumnya mencap dia sebagai seorang tersangka. Alhasil, di jalan teman atau tetangga langsung menjauhinya kalau melihat dia berjalan. "Supaya mereka jangan salah sangka saya dia".

Penyiksaan dan penghinaan
Pada suatu hari dia ditangkap. Penangkapan cenderung terjadi tengah malam. Seseorang telah membocorkan namanya atau dia masuk daftar hitam dinas rahasia. Sejak penangkapan, dia mulai diperlakukan khusus dengan maksud menghilangkan martabatnya. Dengan segala cara, mereka berupaya membuatnya merasa bersalah. Bagi para sipir dia adalah pengkhianat, orang terlantar, korup. Intinya adalah, ia tercela dan karenanya harus diperlakukan tanpa belas kasihan sedikit pun.

Dalam sebuah rezim diktator, penangkapan akan dilanjutkan dengan kekerasan fisik. Metode yang dipakai untuk mendapatkan informasi adalah penyiksaan. Orang lain pun bisa menjadi tersangka gara-gara pengumpulan informasi tersebut. Penyiksaan juga dilakukan terutama untuk merusak kesadaran etis dan moral korban. Pertama-tama matanya ditutup supaya dia tidak melihat apa-apa. Lalu dia disetrum, direndam di kotoran, digantung dan diperkosa. Ini sudah terbukti merusak fisik dan mental korban. Penyiksaan dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan. Banyak yang tidak selamat dari siksaan.

Penyiksaan dilanjutkan dengan segala jenis penghinaan. Misalnya sepanjang pagi memunguti puntung rokok; lari keliling penjara sampai akhirnya jatuh karena tidak kuat; ditendang, ditinju dan dihina dengan berbagai umpatan oleh para penjaga.

Tidak punya hak
Para tahanan politik tidak punya hak sama sekali: dia bisa dibunuh, dihilangkan, disidangkan, atau dibebaskan. Jika ada keraguan bahwa dia "membahayakan" penguasa, dia akan dibawa ke kamp konsentrasi atau diasingkan.

Secara luas masyarakat akan menyangkal keberadaan tahanan politik. Orang akan mengatakan: "dia mungkin melakukan sesuatu." Dan jika rezim itu jatuh, mereka akan bilang: "saya tidak tahu apa-apa, tidak seorang pun yang cerita kepada saya." "Saya tidak tahu kalau sampai separah itu." Tahanan politik hanya ada karena rezim didukung berbagai lapisan penting masyarakat. Tanpa dukungan ini pelanggaran hak azazi manusia tidak akan berlangsung lama. Menakut-nakuti dan teror tentu saja berperan penting dalam menekan oposisi. Tanpa ketakut-takutan itu tidak ada sistem penindasan yang bisa bertahan. Kehadiran tahanan politik memperkuat ketakutan itu.

Tidak seimbang
Jika bukan rezim diktator penuh, maka politik totaliter pemerintahan sipil akan bertindak lebih subtil. Penekanan dilakukan secara selektif dan hanya dilakukan jika mereka memang membahayakan pemerintah. Orang yang memang berani mengambil risiko masuk penjara dan disiksa; pria dan wanita yang mampu memobilisasi orang banyak. Mereka inilah yang akan diawasi, dimata-matai, dan semua ini dilakukan diam-diam. Jika mereka melanggar peraturan, melampaui batas, maka langsung ditangkap.

Batas itu hanya diketahui oleh pihak penindas. Setelah itu mereka akan dituntut hukuman yang tidak seimbang dengan pelanggaran. Menggangu ketentraman publik dan terlibat dalam organisasi ilegal: 10 tahun penjara. Berkomplot menentang pemerintah: 20 tahun penjara. Hukuman-hukuman semacam ini dimaksudkan mematahkan semangat mereka yang mau menjadi disiden. Dan jika pemerintah merasa tersangka sepertinya akan memenangkan proses, dia akan tetap ditahan dan proses itu tidak akan ada akhirnya. Kerancuan dan ketidakjelasan adalah ciri khas sebuah rezim yang tidak adil.

Selama masa tahanan kekerasan tetap dilakukan guna mematahkan semangat tahanan. Dia akan dibiarkan kelaparan, sehingga dia akan bertindak seperti seorang barbar. Dia hanya akan memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup. Beberapa akan menyadari bahwa keinginan untuk tetap hidup adalah sumber pelbagai pengkhianatan. Namun keyakinan moral dan politik begitu kuat, sehingga semua kesulitan teratasi. Para tahanan politik akan menemukan berbagai cara agar hati nurani dan kebebasan batin tetap kuat.

Menyadarkan orang lain
Di samping kesedihan dan kepedihan – dalam situasi semacam ini terlihatlah tabiat yang paling baik atau buruk dari seorang manusia – juga ada keceriaan dalam penjara di antara para tahanan atau bahkan gelagat simpatik salah satu penjaga. Tanpa saat-saat positif semacam ini situasi di sana akan sangat menyakitkan. Tanpa sebuah buku, suara atau musik di radio, kita bisa terbenam dalam kegelapan.

Tidak ada tahanan politik yang secara utuh bebas dari penjara. Dia punya ketakutan yang dalam, tetapi jika dia mengambil langkah yang benar, kebebasan pun akan muncul. Jika dia hidup tanpa rasa dendam maka masa depan pun akan tampak lebih baik: pengalaman akan membantunya bertahan hidup; bahasa menjadi senjata melawan tirani. Dan dia akan menjadi bukti hidup bahwa seorang diktator, apa pun itu bentuknya, tidak bisa menghancurkan satu jiwa pun. Dia akan tetap hidup untuk turut menyadarkan – dengan cara apapun - bahwa ketidakpedulian itu justru menciptakan rezim totaliter.

Terbaru

Sering dikunjungi

Ahmad Taufik bersama Xanana Gusmão di penjara Cipinang

Gerilyawan Serem dan Tapol Orde Baru

Orde Baru lahir sebagai rezim tapol. Begitu berkuasa, rezim otoriter ini sudah memenjara orang, bukan karena...
Hands Behind Prison Bars

Mereka Bukan Penjahat: Mengenang Tapol Orde Baru

Di zaman Orde Baru dulu, penjara Indonesia disarati tahanan politik, kalangan yang dipenjara karena keyakinan...

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET