Penelitian Institut Kebijakan Bumi atau Earth Policy Institute menunjukkan, 80% perempuan di India menjalani sterilisasi untuk mengatur kelahiran.
Kebanyakan perempuan memilih sterilisasi tubektomi saat mereka berusia 20-an. Salah satu alasan utama karena mereka tidak tahu cara lain. Di samping itu laki-laki India tidak mau dilibatkan dalam program keluarga berencana. Demikian tutur pakar kesehatan Dr. Payal Laad.
Sterilisasi perempuan, atau tubektomi, adalah prosedur bedah di mana kedua saluran tubi falopi dipotong atau diikat guna mencegah sel telur mencapai uterus atau rongga rahim. Dua pertiga dari perempuan India memilih sterilisasi bersifat permanen ini. Rata-rata usia peserta, 25 dan 26 tahun.
“Melihat dari sisi budaya, orang India tidak terbiasa dengan ide menunda kehamilan. Tidak ada konsep menghentikan pengaturan kehamilan selama beberapa tahun. Jadi mereka memutuskan memiliki anak dalam kurun waktu tertentu, lalu memilih metoda kontrasepsi permanen,” ungkap Dr. Payal Laad, asisten profesor bidang pengobatan masyarakat di salah satu rumah sakit umum terbesar Mumbai.
Pilihan
Rumah sakit umum juga menawarkan cara kontrasepsi lain kepada perempuan, seperti penggunaan kondom, pil KB, suntikan hormon serta IUD. Tapi kontrasepsi ini tidak populer.
“Ada keluhan tentang pendarahan dan rasa nyeri setelah penggunaan Copper T. Jadi perempuan tidak mau mengambil risiko. Kontrasepsi pil serta suntikan hormon harus dilakukan secara reguler. Sebaliknya, kontrasepsi tubal ligation – sterilisasi wanita – merupakan prosedur satu kali dengan hasil definitif. Cara yang terpopuler," tandas Dr. Laad.
Bantuan
Di India, hampir semua rumah sakit milik pemerintah menawarkan nasihat keluarga berencana kepada perempuan mengandung. Kontrasepsi tubektomi dilakukan sewaktu proses persalinan, jika perempuan melahirkan melalui proses caesar, atau dua hari setelah proses persalinan normal.
Konsultasi tentang sterilisasi diberikan sebelum seorang perempuan hamil.
Dalam upaya mempromosikan program keluarga berencana, pemerintah India memberi bantuan finansial kepada pasangan yang menjalani sterilisasi di rumah sakit umum atau klinik swasta.
Perempuan yang memilih kontrasepsi tubektomi diberikan sekitar 500 rupi (sekitar 85.000 rupiah). Kontrasepsi vaksektomi atau sterilisasi laki-laki, lebih besar bantuan finansialnya, yakni 1400 rupi (sekitar 251 ribu rupiah).
Satu persen
Walaupun mendapatkan bantuan finansial lebih banyak, di India hanya satu persen pasien memilih vasektomi sebagai cara kontrasepsi. Demikian hasil penelitian Survei Kesehatan Keluarga Nasional tahun 2005 (angka terbaru yang tersedia).
Padahal vasektomi merupakan prosedur lebih sederhana yang bisa dilakukan dengan anestesi lokal. Sementara sterilisasi perempuan harus dilakukan dengan anestesi umum. Hasil penelitian tersebut terkait sifat patriarkal masyarakat India, ungkap Dr. Laad.
“India merupakan masyarakat yang didominasi laki-laki. Laki-laki menganggap bukan tanggungjawab mereka terlibat dalam keluarga berencana. Adalah tugas perempuan melahirkan dan merawat anak. Tidak ada partisipasi dari pasangan laki-laki.”
Kesalahpahaman tentang vasektomi membuat KB tidak populer, kata Dr. Laad menjelaskan.
“Beberapa laki-laki berpikir KB bisa membuat mereka mandul. Laki-laki lain menganggapnya sama dengan kastrasi. Diperlukan lebih banyak edukasi dan kesadaran di bidang ini."
Pengetahuan
''Jika laki-laki turut terlibat dalam program KB, anda bisa melihat perbedaannya." Tapi pemikiran seperti ini terutama terdapat di antara kalangan laki-laki berpendidikan yang tinggal di kota. Pengetahuan adalah kuncinya, kata Dr Laad.
"Meskipun perbedaannya hanya marjinal, bisa dikatakan pria yang punya pengetahuan lebih, lebih terbuka untuk sterilisasi laki-laki, atau keterlibatan dalam keluarga berencana."














India, Indonesia, Pakistan perlu mengikuti langkah Cina, 1 keluarga hanya 1 anak & 1 istri. Lebih dari 1 anak, masuk penjara. Lebih dari 1 istri, langsung kebiri.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.