Spanyol masih bergulat dengan warisan Perang Saudara tahun 1930an. 70an tahun kemudian, kenangannya masih terasa pedih, menjadi kontroversi, dan topik publik generasi lama dan baru.
Tak ada yang jadul dan layak untuk dilupakan selama bangsa ini belum berdamai dengan masa silamnya yang kelam.
Enggan baca? Dengar/unduh versi audio dengan mengklik ujung tanda panah berikut:
Dalam bagian pertama pekan lalu, dokumenter televisi Spanyol Los Caminos de la Memoria atau Lika-Liku Jalan Menelusuri Kenangan, telah kita ikuti upaya penggalian kuburan-kuburan massal yang dirahasiakan. Tapi Spanyol juga mengalami perpecahan bangsa akibat pembuangan mereka yang terlibat atau sanak saudara mereka yang kalah - mereka yang disebut 'Rojos', atau 'Kaum Merah'.
Spanyol telah maju selangkah dalam berdamai dengan masa lampaunya, sedangkan di Indonesia, Pengadilan HAM terhalang di DPR, dan Rancangan Undang Undang KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) masih macet. Berikut, bagian kedua laporan Aboeprijadi Santoso.
Kudeta membelah negeri
Bencana kemanusiaan itu terjadi akibat Perang Saudara - meski perang itu hanya berlangsung tiga tahun, dari 1936 hingga 1939. Semuanya bermula dari kudeta militer Francisco Franco, 17 Juli 1936, terhadap pemerintah yang sah. Kudeta dan perang yang membelah negeri. Antara kaum Falangis, kalangan Gereja, para ulamanya, dan kaum monarkhis yang mendukung Franco dari wilayah Selatan, di satu pihak, melawan pemerintahan Republik Kedua Spanyol, yang berbasis di Madrid dan bagian utara serta timur.
Pemberontakan Franco menjadi Perang Saudara yang sarat gelora, melibatkan para cendekia, sastrawan, seniman, bahkan sukarelawan, pejuang-pejuang asing. Tentu saja, juga perang propaganda. Di satu pihak disebut "perang tirani melawan demokrasi", di lain pihak disebut "perang antara Kaum Merah yaitu komunis dan anarkhis, melawan Peradaban Kristen". Yang pasti, kaum Marxis, sosialis, liberal dan anarkhis di pihak Republiken, melawan pendukung Franco yang menyebut diri 'Nasionalis'.
Akhirnya, Franco menang. Maka setiap hari kematian Franco, 20 November, mereka memperingatinya, hingga kini. "Hidup Franco," seru mereka.
Perang itu menuntut pengorbanan besar, besar sekali. Sekitar setengah juta korban tewas dan sisanya menjadi korban. Korban dalam arti luas. Korban dan pengorbanan bagi kedua pihak. Korban kekalahan perang, korban karena kehilangan keluarga, kerabat dan teman. Tapi juga korban dalam arti harus menanggung dampak psikologis, derita dan trauma yang tertanam, yang diwariskan oleh perang saudara. Pihak yang menang pun, tak luput, menjadi korban. Seluruh bangsa harus menghadapi kenyataan itu: kenyataan trauma yang terpendam pada sanubari bangsa.
Meskipun mereka semua terpaksa diam sampai 20 November 1975. Baru setelah kematian Franco itu, Spanyol melangkah, membangun demokrasi. Dan, baru seperempat abad kemudian, rekonsiliasi bangsa dapat diupayakan. Namun, mencari damai dengan masa lalu, menjadi kompromi politik di tingkat nasional.
Rekonsiliasi simbolis gagal
Kediktaturan dan kekejamannya kini resmi dikecam. Sebuah penjara besar, Kamp Carabanchel, simbol perjuangan melawan Franco, dihancurkan. Sebagai gantinya, di tempat itu akan dibangun sebuah museum, Pusat Memori dan Perdamaian. September 2004 pemerintahan PM José Luis Rodrígues Zapatero mengundang dua ikon bangsa, Angel Salamanca and Luis Royo. Salamanca, bekas pendukung Franco, dan Royo, bekas pejuang Republiken, diundang menjadi tamu dalam upacara parade nasional. Upaya rekonsiliasi simbolis itu gagal. Pihak yang satu menolak kehormatan negara bagi pendukung fasis, pihak lain menganggap parade itu "hanya membuka luka luka lama."
Namun Parlemen Spanyol berhasil mensahkan Undang Undang Memori Historis, yang memungkinkan kampanye penyuluhan, diskusi publik dan penggalian. Sejak itu, kuburan-kuburan massal yang dirahasiakan, dan terserak di seantero negeri, mulai digali.
Seorang bapak, kini berusia sekitar 60an, sudah lama mencurigai di tempat itu ayahnya dibunuh. Diam-diam dia mencari, tapi tutup mulut. Dan, benar, dia temukan sejumlah tulang belulang. Kemudian menutupnya kembali. Sampai, baru-baru ini, saat tim kampanye penyuluhan dan tim forensik datang untuk menggali. Seorang rekannya, butahuruf dan anak petani miskin, menghabiskan separo hidupnya di penjara. Dia menuangkan kalbunya dalam puisi. "Puisi menjadi senjataku melawan fasisme," katanya.
Tak punya apa-apa
Warisan kelam, juga tersimpan mendalam di kalangan mereka yang terbuang. Ratusan ribu pejuang, aktivis, keluarga dan sanak saudara mereka yang kalah -kaum Republiken- dibuang ke Prancis Selatan, atau ikut diangkut Nazi Jerman dari Eropa Barat ke Polandia. Bagi mereka, ini bukan hanya derita, tapi juga suatu tata cara kehidupan yang sama sekali lain. Lain cara hidup, lain bahasa, lain kebiasaan. Dan tanpa harta benda apapun yang semula mereka miliki di negeri mereka, Spanyol.
"Harta benda orang tuaku semua disita," ujar seorang perempuan yang terbuang di Prancis. "Kami ini Rojos, orang Merah, tak punya apa-apa." Baru pada usia 71 tahun dia pertama kali kembali ke kampung halamannya. "Salahkah kalau hatiku selalu melekat pada kenangan kelam di masa lalu?" tukas perempuan itu. Kaum Merah itu harus mencari tempat berlindung. Nasibnya tinggallah: di buang ke Prancis, atau diangkut Nazi Jerman ke kamp Buchenwald.
"Fasisme," jelas seorang sejarawan, "menanam keburukan, kejahatan di dalam sistim. "Dalam fasisme, orang merasa unggul di atas sesamanya, karena itu merasa boleh melakukan segalanya. Apa yang kami inginkan adalah membangun strukur kehidupan baru yang terbuka, demokratis, dan pluralis".
Stigmatisasi berlanjut
Perjalanan Spanyol banyak miripnya dengan Indonesia. Kudeta militer mengawali Perang Saudara Spanyol. Sejenis itu pula yang membuka Prahara 1965-1966 di Indonesia. Namun di Spanyol, upaya rekonsiliasi bangsa demi berdamai dengan masa silam, telah bergerak maju, betapa pun tersendat-sendat pula. Undang Undang Memori Historis di Spanyol membuka era baru.
Di Indonesia, Rancangan U.U. Rekonsiliasi tahun 2006 ditolak Mahkamah Agung. Di Spanyol, kediktaturan dan kejahatan kediktaturan resmi dikecam Parlemen, dan membuahkan upaya penyuluhan, diskusi publik dan penggalian kuburan-kuburan massal. Sebaliknya, di Indonesia diktatur dari masa kelam, Soeharto, orang kuat orde baru, bahkan diusulkan menjadi pahlawan nasional. Seminar atau konperensi tentang masa lalu, tentang tahun 1960an, diserang kelompok ekstremis, buku penulisan tafsir sejarah baru dibakar. Dan penggalian kuburan massal yang pernah diprakarsai kalangan masyarakat, ditentang. Maka, stigmatisasi, berlanjut.
Ada optimisme di kalangan perancang hukum yang menyiapkan UU KKR, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Tetapi di kalangan korban 65, seperti ibu Sulistyowati, istri ketua Pemuda Rakjat Soekatno, yang diekskusi, tetap pesimis.
Sulistyowati: Kami sangat pesimis. Padahal tuntutan kami, korban 65, rehabilitasi, supaya menghilangkan stigma-stigma masyarakat, keluarga. Dua, reparasi. Kami kan sudah usia lanjut, ya. Secara menyeluruh itu menimpa kami. Nah, ini yang membuat kami pesimis.
Spanyol butuh waktu 60 tahun lebih dalam berupaya berdamai dengan masa lampau kelamnya. Indonesia baru menjalanani 40an tahun.





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.