Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.
Theophilus Bela (70), Ketua Forum Komunitas Kristen di Jakarta, pengunjung setia situs web Ranesi. Selain Rakyat Merdeka dan Kompas, situs web Ranesi pun setiap hari pasti dikunjunginya. Theophilus yang juga disebut Theo, penasaran apa saja yang dibahas Radio Nederland. “Saya memang penggemar website ranesi.nl.”
Laki-laki yang tinggal di Bekasi, Jakarta Timur ini sering diwawancarai wartawan Radio Nederland tentang topik-topik yang mengangkat gangguan terhadap gereja dan kebebasan beragama di Indonesia.
Narsis
Walaupun lebih aktif membaca artikel-artikel di situs web Ranesi, Theo kadang-kadang juga mendengarkan radio, terutama untuk mendengarkan hasil wawancara dia dengan Radio Nederland. Itu ia lakukan lewat komputer. “Saya suka putar wawancara saya, dengar wawancara saya dengan Bari Muchtar atau kawannya yang interview saya.”
Theo mengaku dirinya memang sedikit narsis. “Saya ketik nama saya di Ranesi, lalu klik, ya keluar itu. Kemarin masih ada tiga, empat interview saya.”
Laki-laki yang sudah tujuh tahun aktif mengunjungi ranesi.nl menyatakan suka sekali membaca artikel-artikel yang disajikan situs web tersebut karena kritis dan bebas. “Saya enam, tujuh tahun hidup sebagai mahasiswa di Jerman, jadi biasa dengan pers bebas. Dan di Ranesi ada tentang sejarah, masa lampau,” tutur Theo ketika dihubungi Radio Nederland.
Rawagede
Theo khususnya tertarik pada artikel-artikel yang mengangkat kasus Rawagede. “Paman saya, adik dari ibu saya, sudah almarhum semua, itu adalah tentara Westerling. Dalam peristiwa Rawagede, di Ranesi itu suka ada foto, saya lihat ada satu anak muda orang Indonesia, kayaknya paman saya.”
Ketika pertama mendengar situs web Ranesi akan ditutup, Theo merasa sangat sedih. Dia sama sekali tidak bisa mengerti keputusan menutup redaksi Indonesia Radio Nederland. “Kenapa pemerintah Belanda begitu pelit sama sebuah institusi yang begitu bagus.”
Dia yakin kesedihan itu juga dirasakan semua pendengar Ranesi.
Ia sangat berterimakasih kepada Ranesi. “Banyak siaran Ranesi yang membantu saya. Ada kasus gereja yang genting, tapi setelah disiarkan Ranesi, akhirnya beres itu. Di Indonesia banyak yang mendengar. Membantu sekali.”















Bekasi bukan Jakarta Timur.
Tapi Jakarta Timur belah sonoan dikit.
Mengapa? Waarom?
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.