Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Sabtu 18 Mei  
internet
Avatar Willemien Groot
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Setiap Negara Punya Intranetnya Sendiri

Diterbitkan : 18 April 2012 - 11:57am | Oleh Willemien Groot (Foto: Enrico Bertuccioli , Cartoon Movement)
Diarsip dalam:

Internet tak lagi menjadi tempat di mana orang bisa mengambil dan membagi informasi secara bebas dan tak terbatas. Semakin banyak negara menerapkan peraturan dan larangan.

Cina membangun Great Firewall, Iran sedang menciptakan “internet halal”, Pakistan ingin menerapkan “sistem blokade” yang diatur secara terpusat dan negara-negara Barat membatasi kebebasan pengguna internet untuk memerangi porno anak-anak dan pembajakan.

Apakah setiap negara nantinya punya intranetnya sendiri?

Internet bebas?
Saat ini hampir setiap negara di dunia berusaha membatasi lalu lintas internet bebas. Penelitian terbaru menunjukkan 47 persen dari semua pengguna internet tidak punya akses penuh terhadap informasi yang tersedia di internet.

Sekitar 30 persen dari mereka tinggal di sebuah negara yang mengenal sensor online secara berlebihan. Penelitian dilakukan OpenNet Initiative dalam kerja sama dengan antara lain Harvard University.

Sensor tidak hanya terbatas pada rezim penindas. Di Amerika Serikat dan Eropa, kebebasan internet menghadapi tekanan akibat Undang-Undang Anti Pembajakan Online. Sementara Australia sedang membuat filter yang terutama dimaksud untuk memberantas porno anak-anak.

“Rezim yang meremehkan kekuatan internet, mengejar ketertinggalan. Mereka berusaha merebut kembali kekuasaan melalui intimidasi, pengembangan teknologi sendiri dan dengan mengatur akses internet,” kata aktivis internet Amerika, Rebecca MacKinnon.

“Apakah mereka berhasil melakukan itu, tergantung dari perlawanan publik. Dalam hal ini publik sebaiknya didukung perusahaan peranti lunak, yang seharusnya beroperasi demi kepentingan si pengguna.”

Database
Perusahaan-perusahaan software sudah bertahun-tahun menyerahkan database jutaan “alamat internet yang tidak diinginkan” kepada pemerintah; itu biasanya menyangkut situs web judi dan porno.

Dengan menambahkan data lawan-lawan politik pada database tersebut, maka paket ini cocok dipakai di dalam negeri. Arab Saudi salah satu negara yang memakai database tersebut.

Tapi order menguntungkan dari pemerintah Pakistan dianggap melampaui batas. Pakistan mencari sekutu yang bisa memasok database 50 juta URL yang telah diseleksinya.

LSM-LSM internasional memohon para pemeran penting di pasar untuk menyatakan secara terbuka tidak menandatangani pernyataan tersebut. Para aktivis mengimbau masyarakat memboikot perusahaan yang menolak melakukan itu. Penanganan itu berguna dan Pakistan mencabut lagi usulan tersebut.

Provider internasional dalam negeri kini harus bekerja lebih keras lagi untuk memblokir situs-situs web yang tidak diinginkan satu per satu.

Kuba
Masalah ini sudah diselesaikan oleh Kuba dengan menawarkan internet kepada warganya. Bagi para pengguna internet Kuba, yang jumlahnya tidak begitu banyak, kegiatan internet baru berupa mengirim dan menerima email saja.

Hanya kelompok profesional tertentu, seperti bankir dan ilmuwan, boleh mengakses internet lebih banyak. Dan pemerintah mengetahui siapa mereka.

Intranet
Iran tidak mencari teknologi dari luar, tapi membangun sendiri. Negeri ini kini tengah mengembangkan apa yang disebut internet halal. Ini adalah internet yang berdasarkan prinsip Islam, yang tertutup dari dunia luar. Jadi, ini semacam intranet berskala besar dan nasional.

Tanpa mesin cari Barat, tanpa lalu lintas email internasional atau social media, dan dikontrol sangat ketat serta memilki teknologi terbaru untuk memerangi blokade anti internet. Kapan internet Islam beroperasi, belum jelas.

Pemerintah Iran sebenarnya sangat memerlukan kontak dengan dunia internasional. Namun warga Iran juga belum tentu suka, kalau situs-sits ditutup. Mereka sudah terbiasa menggunakan proxy dan vpn dan tahu di mana bisa membelinya.

Hampir 40 persen warga Iran bisa mengakses internet. Ini persentase terbesar di kawasan.

Tiga internet
Mungkin Iran akhirnya akan mengikuti jejak Myanmar, kata Lucie Morillon, kepala Nieuwe Media di Reporters Without Borders di Paris. Myanmar kini sedang mengembangkan sistem yang terdiri dari tiga provider internet: untuk pemerintah, untuk tentara dan untuk warga.

Great Firewall
Great Firewall milik Cina dianggap teladan bagi rezim-rezim represif. Negara yang pengguna internetnya terbanyak di dunia itu, memblokir Facebook, Twitter dan YouTube. Cina juga menciptakan variasi sendiri.

Selama ini warga Cina boleh online dengan nama rahasia. Tapi hal ini dilarang setelah terjadi sejumlah insiden, seperti kasus penyebaran isu kudeta. Tapi anehnya, tindakan sensor tidak banyak berdampak bagi rasa tidak puas online.

Meski filter diperbaiki, tapi warga Cina sangat inventif untuk mencari akal. Misalnya mereka menggunakan sinonim untuk kata-kata terlarang. Pengawas internet Cina kini sibuk menghilangkan website-website dan konten yang terlarang.

Bahaya
Pembentukan blok-blok internet secara nasional agak gampang ditinjau dari segi teknik. Lagi pula pelanggaran ini tidak mudah diketahui. Tapi untuk mengubah ini semua, tidak cukup kalau mengandalkan laporan PBB yang menyatakan bahwa penggunaan internet adalah bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM).

“Bahaya terbesar adalah diversifikasi internet,” kata Lucie Morillon. “Kalau kita tidak hati-hati, internet akan menjadi ajang untuk membagi informasi terbatas yang berbeda bagi semua orang. Akibatnya, orang tidak bisa benar-benar berkomunisasi lagi.”

Diskusi

elyazar manuhuwa 20 April 2012 - 1:16am / indonesia

teknologi informasi ibarat pisau bermata dua ,,,,, dapat menguntungkan karena lewat internet hubungan personal dilakukan secara instan ,,,,, informasi yg diperlukan tersedia sesaat ,,,,, dilain pihak disalahgunakan olh banyak pihak utk meraih keuntungan karena belum banyak rambu2 atau filter dlm melindungi konsumen agar tdk dirugikan ,,,, banyak gadis remaja yg kandas dikaki lelaki hidung belang ,,,,, ibarat kotak pandora,,,,, kebebasan lewat internet harusnya bertanggungjawab ,,,,,, yaitu moralitas seseorang ,,,,,

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...