Rabu (19/04), tepat setahun lalu terjadi bencana platform minyak Deepwater Horizon di Teluk Meksiko. Waktu itu, Belanda juga menawarkan bantuan untuk menangani bencana ini. Setahun kemudian bisa disimpulkan bahwa keahlian Belanda disia-siakan.
Penyia-nyiaan ini dimulai ketika Amerika langsung menolak tawaran perusahaan Belanda Koseq untuk memasok mesin penyaring minyak. Waktu itu, penolakan ini menarik perhatian banyak media. Tom Achterberg, manajer proyek di Koseq mengisahkan:
"Saat itu tangan kami langsung gatal ingin membantu. Kami telah menyiapkan mesinnya, dan dalam beberapa hari kami bisa mulai bekerja membersihkan minyak. Namun jika sekarang menengok ke belakang, saya mengerti sudut pandang mereka. Mereka meremehkan bencana ini. Dan saya juga mengerti kalau awalnya mereka ingin menggunakan alat dan teknik sendiri."
Tak ada pesanan ekstra
Toh akhirnya Koseq memasok 22 mesin penyaring minyak ke Amerika, dengan begitu 11 kapal Amerika yang bekerja di Teluk Meksiko bisa diistirahatkan. Mesin-mesin penyaring minyak itu harus secepat kilat diproduksi oleh Koseq, yang dalam situasi normal hanya memproduksi empat mesin per tahun. Enam dari mesin-mesin penyaring itu ditarik kembali dari Rijkswaterstaat, salah satu klien Koseq.
Itu adalah promosi bagus bagi perusahaan Koseq, baik di Belanda, di Amerika, maupun di seluruh dunia. Anda akan berpikir bencana macam itu meningkatkan pesanan mesin penyaring minyak - bahwa berbagai perusahaan minyak dan negara tersadar, untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana minyak mereka harus memiliki mesin semacam ini. Namun itu salah, kata Achterberg.
"Nyatanya, perusahaan tidak mau langsung menginvestasikan uang untuk hal-hal dari mana mereka tak akan mendapatkan keuntungan langsung. Benar-benar harus ada aturan dari pemerintah yang mewajibkan perusahaan memiliki alat macam ini. Selama tak ada aturan tegas, perusahaan tak akan membelinya."
Achterberg berharap, aturan macam ini akan diterapkan di Amerika dan di negara-negara lain.
Pengalaman Istimewa
Ketika Amerika setuju dengan pemasokan mesin penyaring minyak, prosesnya juga cepat, kata Achterberg. "Langsung ada pesawat Antonov untuk mengangkut mesin." Koseq memimpin operasi penyaringan minyak di Teluk Meksiko. Itu adalah pengalaman istimewa. Amerika punya Jones Act, aturan yang menentukan bahwa yang boleh bekerja di perairan Amerika hanya kapal dan awak Amerika. "Kami hanya boleh memberi petunjuk - namun tak boleh langsung bekerja sendiri."
Aturan Jones Act ini mengecewakan pihak lain, seperti lembaga penelitian Deltares dan perusahaan kapal pengeruk Van Oord. Mereka datang ke sana dan berencana membangun puluhan kilometer tanggul pasir dalam tiga minggu untuk melawan lumpur minyak. Tanggul ini juga bisa menawarkan perlindungan terhadap banjir pasca badai besar seperti Katrina.
Perlindungan pasar yang aneh
Toh akhirnya Amerika mengambil-alih sebagian besar rencana, kata Bert Groothuizen, juru bicara Van Oord. Amerika tidak tertarik menggunakan keahlian perusahaan Belanda. Menurut perusahaan pengeruk ini, Amerika menerapkan "perlindungan pasar yang aneh," padahal negara paman Sam ini selalu omong besar soal pasar bebas.
Menurut Groothuizen, warga Amerika Serikat sekarang mempertanyakan secara kritis mengenai kualitas dan biaya tanggul yang mereka bangun sendiri.
Setahun kemudian, Van Oord masih terkejut dan sedikit kesal dengan penolakan Amerika. "Kami bisa terus mendesak, namun jika Amerika terus menolak - seperti yang mereka lakukan selama puluhan tahun - mereka akan kehilangan teknik paling ekonomis, modern dan efisien dalam menangani proyek-proyek macam ini. So be it. Itu kan uang mereka. Jika mereka ingin membayar dua kali lipat lebih mahal, ya biarkan saja."





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.