Apa alasan Adolf Eichmann atau Osama Bin Laden melakukan kejahatan? Sakit jiwakah anggota satuan nazi Jerman SS serta pemimpin teroris Islam itu? Ataukah mereka sama seperti Anda dan saya?
Jawaban terakhir adalah jawaban yang tepat, kata psikiater forensik Antoine de Kom. Dalam bukunya “Het Misdadige Brein” atau “Otak Kejahatan”, ia berusaha memperkenalkan sosok pelaku. Batas antara baik dan buruk sangat tipis.
De Kom sudah bertahun-tahun bekerja sebagai psikiater forensik di Pieter Baan Centrum, klinik observasi di Utrecht. Ia ditugaskan hakim menganalisa tersangka kejahatan keji. Karena dilarang membahas pasiennya, De Kom dalam bukunya menulis tentang kehidupan penjahat-penjahat kondang.
Ia ingin mengerti apa yang menggerakkan mereka untuk berbuat jahat.
“Sebenarnya tidak ada kekhasan otak jahat,” kata De Kom. “Otak pada umumnya mampu memutuskan melakukan kejahatan. Setiap manusia diperlengkapi kemampuan mengambil keputusan salah, berakibat buruk dan tercela. Kadang-kadang mereka bisa dikenai hukuman karena keputusan yang diambil itu.”
Bertahap
Psikiater forensik De Kom menjelaskan proses orang memilih berbuat jahat, berlangsung secara bertahap.
“Kebanyakan orang sudah menyerap beberapa norma, kemampuan untuk mengendalikan diri, sehingga mereka tidak berbuat jahat. Tapi ada juga orang normal yang menempuh jalan salah dan memilih melakukan hal buruk. Contohnya penjahat yang secara bertahap berhubungan dengan lingkungan kriminal dan lambat laun ikut kejahatan terorganisir. Mereka sulit sekali kembali menempuh ke jalan yang benar. Untungnya kebanyakan orang tidak memilih jalan itu.”
Menurut De Kom, penjahat tidak punya tampang penjahat. “Kebanyakan orang yang saya selidiki, penampilannya biasa. Mereka tidak beda dari orang-orang di sekitar kami.”
Namun ada beberapa perkecualian, misalnya mereka yang menderita gangguan jiwa berat. Menurut De Kom orang-orang tersebut ada kalanya berpenampilan mirip binatang.
Gangguan
Tapi kebanyakan penjahat tidak punya gangguan jiwa, walaupun telah melakukan perbuatan sangat keji. Itu yang mencemaskan, kata De Kom. Adalah tugas seorang psikiater untuk menggali lebih dalam, siapa sebenarnya orang di balik si penjahat dan apa motifnya.
Osama bin Laden, pemimpin teroris yang dibunuh tahun lalu, menurut De Kom, ternyata laki-laki yang menyenangkan, walaupun perbuatannya mengerikan.
“Ia pikir bisa mencegah penguasaan Barat. Di mata dia, hal itu jauh lebih jahat daripada kekerasan. Kemarahannya pada dunia Barat lahir dari kemarahan terhadap ayahnya yang sangat berkuasa.”
De Kom menjelaskan kejahatan yang dilakukan Robert Mugabe, Presiden ditaktorial Zimbabwe, sebagai berikut: Mugabe yakin Zimbabwe adalah anaknya. Tapi: “Sangat sulit menjadi Bapak negara, sementara dia sendiri dibesarkan tanpa seorang figur ayah.”
Masa kecil
De Kom tidak membenarkan perbuatan Bin Laden maupun Mugabe. Ia hanya ingin menjelaskan mengapa mereka berbuat demikian. Kendati masa kecil yang tidak bahagia, kedua pemimpin sebenarnya bisa membuat pilihan lain.
“Kebanyakan orang dengan masa remaja tidak bahagia, tidak menempuh jalan yang salah. Tapi secara emosional dan fisik ditelantarkan serta lingkungan yang tidak punya pengertian bisa menimbulkan agresi dan mungkin bahkan gangguan.”
Namun De Kom tidak menjumpai hal ini pada diri Bin Laden dan Mugabe.
Psikiater forensik ini tidak mau mengadili orang. Ia ingin tahu jalan pikiran tersangka dan karena itu harus menempatkan diri dalam posisi mereka. Hanya dengan demikian ia bisa merekonstruksi bagaimana dunia di dalam benak mereka. Akibatnya, kadangkala ia merasa dirinya “kotor”.
Pelaku menceritakan secara rinci dan eksplisit mengenai perbuatan-perbuatan mereka. “Beberapa pelaku pelanggaran susila tak henti-hentinya menceritakan nafsu mereka,” katanya.
Benci
Seringkali De Kom merasa sangat benci terhadap kliennya. Walaupun demikian, ia harus mencari tahu sisi manusiawi setiap tersangka. Hanya dengan demikian ia bisa berinteraksi dengannya.
“Jika orang tidak punya sentuhan apapun dengan manusia lain, maka dia akan 'hilang' selamanya. Oleh karena itu penting psikiater bersikap manusiawi serta punya keprihatinan terhadap tersangka. Akhirnya hanya satu hal penting, yaitu mengerti si pelaku.”
Tidak perlu berprofesi psikiater untuk kagum pada hal ini. “Ada kalanya kita melihat orang yang dituduh melakukan kekejaman. Kita bisa tertegun mendengar itu bahkan kadang-kadang harus mengakui sebetulnya ada juga benih-benih kejam itu pada diri kita, tapi tidak kita memperbolehkan benih itu tumbuh.”






















Dalam opini barat kafir boleh saja osama bin laden dibilang penjahat, tapi dalam opini dan konsep islam belum tentu. Seperti orang Indonesia menganggap Westerling pembantai/ penjahat kemanusiaan tapi belanda menganggapnya malah pahlawan. Dunkia adfalah tempat yang naif dan relatif, Nanti kita buktikan setelah kita mati.
Kenapa memberi contoh dengan nama
Adolf Eichmann atau Osama Bin Laden?
Apakah menurut psikolog tersebut
Pemimpin ♈ªϞƍ memerintahkan bangsanya
Untuk menjajah bangsa lain bukan penjahat?
Gorge Bush Jr contohnya?
Tokoh2 yahudi di israel?
Mohon kepada penulis untuk lebih kritis dalam
Membahas seorang tokoh.
Betul si Bush perlu diteliti otak tidak warasnya! Dia lebih banyak melakukan pembunuhan dibanding Osamah!
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.