Seratus sepuluh kepala negara tidak hadir di sini untuk gagal. Dunia bergantung pada kita, demikian Presiden SBY mengawali pidatonya dalam KTT Iklim di Kopenhagen Kamis (17/12).
Presiden menekankan pentingnya fleksibilitas baik dari negara maju dan negara berkembang untuk bisa mencapai kesepakatan tentang kebijakan iklim yang mengikat dan bisa diterapkan pada 2010. ‘Mari kita sama-sama berpikir di luar kotak sempit negara maju melawan negara berkembang,’ seru SBY.
Presiden SBY menekankan pentingnya mencapai target penurunan suhu bumi sebesar 2 derajat Celcius. ‘Dalam hal ini tidak ada kompromi lagi,’ tegas SBY. Untuk mencapai hal tersebut menurut SBY harus dicapai kesepakatan antara berbagai pihak.
Sindir
Kepada negara maju SBY meminta agar mereka mau memikul tanggung jawab untuk mematok target reduksi emisi CO2 yang ambisius. ‘Negara maju harus berani menurunkan tingkat emisi sampai 40 persen seperti perhitungan IPCC.’ SBY menyindir perpecahan yang terjadi dalam kubu negara-negara maju yang masih saja belum bisa mencapai kesepakatan tentang target penurunan emisi.
Selain itu SBY juga mengkritik kecilnya dana yang diturunkan oleh negara-negara maju untuk membantu negara-negara miskin dalam menghadapi dampak pemanasan bumi. Janji beberapa negara kaya untuk memberikan bantuan dana yang dikeluarkan selama COP 15 di Kopenhagen merupakan awal yang bagus.
‘Tapi jumlahnya masih sangat kecil mengingat pentingnya agenda lingkungan ini untuk masa depan dunia,‘ kata SBY.
Menurut SBY jumlah dana yang ideal setidaknya antara 25 sampai 35 milyar Dollar setiap tahunnya sampai 2020. ‘Negara-negara kaya bisa, ini hanya masalah komitmen politik,’tambah SBY.
Komitmen
Presiden SBY juga menekankan pentingnya peran negara berkembang dalam langkah global dalam menurunkan pemanasan bumi. Dunia berkembang tidak boleh mengulang kesalahan yang dilakukan oleh negara-negara industri maju sehingga memperparah pemanasan bumi.
Ia kembali menegaskan komitmen Indonesia seperti yang sudah disampaikan September lalu untuk menurunkan emisi sebesar 26 persen pada 2020. Menurut SBY, apabila negara kaya membantu, Indonesia siap menaikkan target sampai 41 persen.
SBY menutup pidatonya dengan kembali menyerukan perlunya langkah global untuk mencapai solusi atas masalah iklim dunia. ‘Ini bukan lagi waktunya untuk dogma dan konfrontasi. Ini adalah waktunya kita mengambil langkah nyata. Dogma satu-satunya yang menyatukan kita semua adalah kelanggengan hidup umat manusia.’






















kelemahan yang muncul dari konperensi atau rezim seperti protokol kyoto, konferensi rio, hingga KTT kopenhagen sendiri adalah tidak adanya "polisi" untuk menegakkan kesepakatan yang ada. semua itu hanya bersifat moral. dalam tataran konsep bentuk bentuk rezim tersebut sangat amat baik, namun dalam tataran praktek bisa dikatakan masih jauh dari yang di harapkan. negara-negara berkembang jika melakukan "violation" terhadap rezim bisa ditindak dengan cepat, namun jika negara maju yang melanggar, sangat sulit untuk menyentuh mereka.
bukan saya pesimis, namun saya sebagai individu dan bagain dari indonesia serta masyerakat dunia yang "aware" dengan isu lingkungan seperti ini ingin melihat sejauh mana moral ini dapat berpengaruh. moral itu harus benar-benar "dimoralkan", bukan sekedar angin lalu, karena tanggung jawab kelangsungan lingkungan dan manusia sendiri ada di tangan kita masing-masing dan bersama-sama.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.