Dua bahasa atau bilingual sedang nge-trend. Akibat globalisasi dan hubungan internasional, semakin banyak kita jumpai keluarga yang menggunakan lebih dari satu bahasa.
Sampai sekarang masih banyak kesalahpahaman yang ada mengenai cara mengajari anak berbicara satu bahasa atau multi bahasa. Sekelompok pakar bahasa dari Institut Linguistik Utrecht, Belanda, berusaha memberikan penjelasan mengenai hal ini melalui situs Tweetaligopgroeien.org.
Ruang yang disewa oleh Institut Linguistik Utrecht untuk menggelar lokakarya mengenai dua bahasa (bilingual) dan pendidikan dua bahasa tampak terlalu kecil. Banyak orang tertarik untuk mendapatkan tempat duduk di ruangan lokakarya.
Asisten peneliti Dafne van Leeuwen mengatakan: "Ada daftar antrian panjang. Bilingualisme berkembang di Belanda dan karena itu menjadi topik yang biasa dalam percakapan sehari-hari. Para ilmuwan juga meneliti pendekatan-pendekatan yang bisa diterapkan dalam praktek. Keluarga bilingual mengetahui hal ini."
Ganti bahasa tanpa masalah
Seorang wanita yang datang ke lokakarya mengaku, pada waktu kecil dia tumbuh di lingkungan yang berbahasa Kanton, Malaysia dan Inggris, kemudian setelah agak besar dia belajar bahasa Jepang dan Belanda.
Seorang lelaki kelahiran India, pindah ke Inggris saat masih anak-anak dan belajar bahasa Inggris. Namun dia kemudian lupa bahasa ibunya. Sebuah film di youtube memperlihatkan seorang balita yang lancar berganti bahasa dari Indonesia, Inggris dan Prancis, yang membuat kita tertawa dan terkagum-kagum.
Banyak peserta lokakarya menjalin hubungan dengan pasangan yang berbahasa lain, jadi mereka tidak asing dengan pendidikan multi bahasa bagi anak-anak. Mereka juga tahu bahwa kantor konsultasi anak, tempat para orangtua membawa bayi mereka untuk melakukan pengontrolan teratur, seringkali memberi penilaian negatif mengenai pendidikan multi bahasa.
Pakar bahasa Sharon Unsworth juga menyoroti bahwa kantor konsultasi cenderung menekankan untuk memberikan pendidikan bahasa tunggal kepada anak-anak berusia dini.
Masalah utama orangtua
Unsworth yang berbahasa asli Inggris berkata: "Saya setuju dengan pendapat bahwa kamu harus belajar bahasa Belanda kalau ingin hidup dan berfungsi dalam bahasa Belanda. Tapi bukan berarti Anda harus mengorbankan bahasa lain. Orangtua yang melakukan hal itu kehilangan kesempatan untuk bisa berkomunikasi lebih baik dengan anak mereka, jika mereka tidak menguasai bahasa itu. Mereka sebenarnya lebih baik berbicara bahasa ibu mereka, sehingga bahasa itu bisa menjadi dasar bagi bahasa Belanda. Penelitian menunjukkan bahwa ini pendekatan yang terbaik."
Tapi bagaimana kita menerapkan bilingualisme dalam praktek keseharian dalam keluarga? Apakah Anda memilih satu bahasa yang digunakan di rumah? Sharon Unsworth, suaminya yang berasal dari Belanda dan anak mereka menggunakan bahasa Inggris di rumah.
Meskipun kelihatannya mudah untuk memilih berbicara bahasa lain di rumah, ini tetap menjadi masalah bagi orangtua. Unsworth berpendapat: "Anak-anak belajar membedakan bahasa-bahasa yang digunakan di masyarakat."
Mulai dini
Dalam lokakarya para pakar bahasa ingin memberikan masukan mengenai beberapa kesalahpahaman seputar bilingualisme.
Kesalahpahaman pertama: Lebih baik memulai belajar bahasa kedua sedini mungkin.
Sharon Unsworth berkata: "Memang lebih baik memulai belajar bahasa kedua pada usia dini, tapi tidak ada usia kritis, misalnya tidak benar jika anak berusia empat tahun maka dianggap sudah terlambat untuk belajar bahasa kedua."
Dia menekankan bahwa belajar bahasa kedua sangat tergantung pada banyaknya jam anak terekspos bahasa tersebut. Semakin sering anak bisa mendengar bahasa itu digunakan untuk berbicara, membaca dan bahkan menggunakan sendiri, maka akan semakin baik. Tidak masalah berapa umur anak tersebut.
Kesalahpahaman 2: Bilingualisme menyebabkan kebingungan di kepala anak.
Unsworth mengatakan bahwa itu hanya omong kosong saja. "Di seluruh dunia ada lebih banyak anak yang berbahasa dua atau lebih daripada anak berbahasa tunggal. Kenyataan ini membuktikan bahwa tidak akan ada kebingungan jika anak belajar dua bahasa. Seorang anak itu bisa ibarat mesin yang siap belajar bahasa sejak dia lahir. Ini bisa satu, dua atau multi bahasa.
Kesimpulan
Tidak ada yang menghalangi Anda untuk mendidik anak dua bahasa. Tapi harus jelas mengenai siapa yang berbicara bahasa apa dan kapan bahasa tersebut dipakai. Supaya anak nantinya bisa memenuhi fungsi bahasanya misalnya berkomunikasi dengan keluarga di luar negeri dan berbicara dengan teman sebaya di luar rumah, maka penting bagi anak untuk mendapat ekspos bahasa yang cukup melalui membaca dan mendengarkan.
Multi bahasa
Di seluruh dunia ada sekitar enam ribu bahasa. Kurang dari dua puluh lima persen negara-negara di dunia memiliki dua bahasa resmi atau lebih. Memang tidak ada data yang pasti, tapi pakar bahasa yakin bahwa ada lebih banyak orang yang multilingual daripada mereka yang berbahasa tunggal. Jadi bahasa tunggal atau monolingual bukan lah yang paling umum.
Dalam pendidikan dua bahasa ada dua sistem dasar: OPOL dan ML@H. Sistem OPOL (satu orangtua, satu bahasa) sehingga orangtua berbicara kepada anaknya menggunakan bahasa ibunya sendiri. Jadi misalnya seorang wanita Belanda menikah dengan lelaki Cina, maka wanita tersebut akan berbicara Belanda kepada anaknya dan suaminya berbicara bahasa Cina. Ini harus dilakukan secara konsisten dalam keadaaan apapun.
Sistem ML@H (bahasa minoritas di rumah), dalam sistem ini kedua orang tua harus menggunakan bahasa minoritas di rumah. Ini terjadi misalnya bagi keluarga Cina yang hidup di Belanda. Yang jelas, kedua orangtua harus bisa cukup baik berbahasa Cina.
Pada akhirnya mayoritas anak akan menguasai dengan paling baik hanya satu bahasa saja. Umumnya bahasa ini yang dipakai di lingkungan, misalnya dengan teman-teman di sekolah.






















Link youtubenya, setelah di klik kok tdk ada video?
Di Indonesia ada sekolah yang namanya RSBI(Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) atau malah sudah SBI(Sekolah Berstandar Internasional) sekolah ini menerapkan dwibahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tentu tujuan sampingan sekolah tersebut nantinya siswa dapat berbahasa asing selain bahasa Indonesia. Selain itu di kurikilum sekolah tercantum muatan lokal dan ini salah satunya adalah bahasa daerah setempat, jadi untuk siswa RSBI/SBI/Reguler minimal harus menguasahi 2 bahasa.
Isi tulisan bagus, tapi bahasa Indonesianya agak aneh. Tapi inti tulisan bisa dipahami.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.