Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Sahar dan Abiram
Map
Den Haag, Belanda
Den Haag, Belanda

Sahar dan Abiram Boleh Tinggal di Belanda

Diterbitkan : 23 Januari 2011 - 5:37pm | Oleh Erik Klooster (Foto: Sahar dan Abiram)
Diarsip dalam:

Kebijakan suaka politik Belanda akan lebih ketat, kata pemerintah baru pada saat pelantikan kabinet. Namun, jika sudah menyangkut kisah memilukan, yang melibatkan anak-anak, menteri yang bersangkutan terpaksa mengalah juga.

Nasib Sahar Hbrahim Gel, gadis asal Afghanistan berusia empatbelas tahun, juga menarik banyak pihak di luar Belanda. Gadis ini, bersama keluarganya, terancam akan dideportasi ke Afghanistan.

UNHCR
Namun, organisasi pengungsi PBB, UNHCR menyatakan, Belanda harus mengakui Sahar sebagai pelarian politik. Setelah menetap di Belanda selama sepuluh tahun, Sahar sudah sedemikian kebarat-baratan. Sehingga, jika ia dikembalikan ke Afghanistan, ia akan menghadapi bahaya.

Belum lama ini, hakim pengadilan Belanda memutuskan Sahar untuk sementara waktu masih boleh tinggal di Belanda. Juga hakim merujuk pada kenyataan bahwa Sahar mendapat pendidikan nilai-nilai Barat, di sekolah menengah Belanda. Gadis ini, pada masa bayinya, hanya pernah tinggal sebentar di Afghanistan, dan dengan demikian tidak mengenal kebiasaan di negeri tersebut.

Merujuk kasus Swedia
Paul Stieger, advokat yang mendampingi Sahar, juga mengutip bunyi vonis hakim di Swedia tahun lalu. Ketika itu, hakim Swedia memutuskan memberi izin tinggal bagi seorang wanita asal Afghanistan. Dengan pertimbangan, wanita tersebut sudah terlalu kebarat-kebaratan. Dan dengan demikian, jika kembali ke Afghanistan, ia tidak bisa hidup dengan aman.

Media Belanda juga mencurahkan perhatian pada nasib Sahar. Guru-guru dan rekan-rekan sekolah gadis ini di Leeuwaarden bersimpati pada nasib gadis ini. Menyusul pembacaan vonis hakim, semua murid sekolah langsung bersorak-sorai.

Abiram (8) Boleh Meninggal di Belanda
Kasus suaka politik lain yang juga bikin heboh adalah nasib Abiram, bocah pria berusia delapan tahun, asal Sri Lanka, yang sedang sakit parah. Karena alasan permintaan suaka politik Abiram dan ibunya tidak cukup kuat, mereka juga termasuk orang yang akan segera dideportasi oleh Dinas Imigrasi Belanda. Abiram dan ibunya datang di Belanda tujuh tahun lalu, setelah ayah Abiram tewas dibunuh.

Setelah media ramai-ramai menyorot kasus ini, Gerd Leers, Menteri Urusan Suaka Politik Belanda, Ahad pekan lalu menetapkan, Abiram dan ibunya boleh tinggal di Belanda, agar Abiram bisa meninggal di sini. Belanda juga akan memberi visa masuk bagi nenek Abiram, agar mereka bisa bertemu. Abiram mengidap penyakit tumor otak. Menurut perkiraan, usianya hanya tinggal beberapa pekan saja.

Surat Buat Ratu Beatrix
Menurut Dinas Imigrasi, pada dokumen permintaan suaka politik mereka, tidak ada informasi mengenai keparahan penyakit yang diderita Abiram. Namun, advokat bocah pria menyatakan, sudah sejak dua bulan lalu, semua pihak yang terlibat mengetahui, bahwa Abiram sakit sangat parah.

Juga teman-teman sekolah Abiram memperhatikan nasib yang menimpa bocah asal Sri Lanka ini. Mereka antara lain menulis surat pada Ratu Beatrix, menceritakan bahwa Abiram sedang sakit sangat parah, dan bahwa ia tidak lama lagi akan meninggal.

Memisahkan Anggota Keluarga
Selain kasus-kasus memilukan seperti itu, Menteri Gerd Leers juga mendapat kecaman keras, karena ia merencanakan pemisahan anggota keluarga. Yaitu pemisahan orangtua dan anak-anak, bagi semua keluarga, yang permohonan suaka politiknya ditolak. Anak-anak boleh tinggal di Belanda, sementara orangtua dideportasi ke negeri asal.

Mahkamah Agung Belanda di Den Haag melarang kebijakan seperti ini. Selain itu, memisahkan anak-anak dari orang tua mereka, melanggar hukum internasional. Hakim Agung juga menetapkan, harus ada tempat penampungan semua keluarga, yang permohonan suaka politiknya sudah ditolak.

Sejauh ini, lokasi penampungan masih belum diketahui. Yang jelas, Menteri Gerd Leers sudah menyatakan dengan tegas, tempat penampungan akan diupayakan 'sesederhana' mungkin.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET