Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Belinda van Steijn
Map
Amsterdam, Belanda
Amsterdam, Belanda

Saat Kelam bagi Keluarga Belanda-Israel

Diterbitkan : 18 Oktober 2011 - 4:14pm | Oleh Belinda van Steijn (Foto: ANP)
Diarsip dalam:

"Gila." Itulah predikat yang diberikan Meir Schijveschuurder untuk kesepakatan menukar lebih dari 1000 tahanan Palestina dengan satu tentara militer Israel. Schijveschuurder kehilangan orangtua, dua saudara kandung perempuan dan saudara laki-laki akibat serangan bom di Yerusalem tahun 2001. Otak di balik serangan itu dibebaskan berdasarkan kesepakatan. Hakim Israel tidak mengabulkan keberatan sanak saudara korban.

Warga Israel seksama menonton televisi untuk menyaksikan pembebasan serdadu Gilad Shalit. Tapi ada juga kecemasan tentang harga yang dibayar demi kebebasan Shalid: dengan segera, hampir 500 warga Palestina dibebaskan. Jumlah itu ditambah 500 orang dua bulan lagi.

Ke hakim
Sanak saudara korban serangan teror Palestina sampai saat-saat terakhir berupaya menggagalkan perjanjian antara Israël dengan gerakan Palestina Hamas. Mereka takut warga Palestina akan kembali melakukan serangan.

"Saya rasa 1000an orang tewas 20 tahun terakhir karena serangan teror Palestina. Banyak sekali pelakunya yang sekarang dibebaskan," ujar Ronnie Naftaniel, direktur Pusat Dokumentasi Informasi Israel CIDI.

"Misalnya lima angota keluarga Schijveschuurder, keluarga Belanda-Israel, tewas akibat serangan sepuluh tahun lalu. Dilema-dilema serupa itulah yang mencuat sekarang, karena masalah ini sebagian besar menyangkut masalah humaniter."

Naftaniel menunjuk kepada serangan terhadap sebuah toko pizza di Yerusalem tahun 2001. Motty dan Tsira Schijveschuurder beserta tiga anak mereka tewas bersama 10 tamu restoran lainnya. 130 lainnya, termasuk dua anak keluarga mereka juga, luka-luka.

Warga Palestina Ahlam Tamimi divonis hukuman penjara 16 kali seumur hidup karena merencanakan serangan teror itu. Dia menyerahkan bom tersebut kepada pria yang akhirnya melakukan aksi bunuh diri. Lima anak keluarga Schijveschuurder yang selamat tidak bisa menerima kenyataan Ahlam Tamimi kini bebas. Shvuel, sang putra, beberapa hari lalu melumuri monumen Presiden Yitsak Rabin dengan cat putih untuk melampiaskan kemarahan.

Bukan kakap
Menurut Radi Suudi, pakar politik Belanda Palestina, teroris-teroris Palestina itu akan disambut sebagai pahlawan.

"Di kalangan warga Palestina pemenjaraan adalah masalah yang selalu dibicarakan, mulai dari pemenjaraan karena serangan sampai pemenjaraan karena keanggotaan organisasi politik. Ini aktivis 'biasa', orang-orang jalanan."

Perasaan dendam
Dalam wawancara dengan surat kabar Reformatorisch Dagblad, Ben Zion, putra sulung Motty dan Tsira, berkata, sebelumnya tidak punya rasa dendam terhadap pelaku bunuh diri Palestina.

"Tidak perlu untuk mempunyai perasaan tertentu terhadap orang ini, termasuk juga perasaan dendam. Saya juga tidak marah terhadap orang Palestina pada umumnya. Semasa perang, orang Jerman membunuh lebih dari separuh keluarga kami, tapi saya tidak keberatan berbicara dengan orang Jerman. Itu juga berlaku untuk orang Palestina."

Harian Israel Haaretz melaporkan perdana menteri Benjamin Netanyahu mengirim surat kepada ratusan sanak saudara korban teror. Di dalamnya tertera, Netanyahu mengerti perasaan mereka tentang pertukaran tahanan. Tapi perdana menteri juga menjelaskan ia "wajib memulangkan militer yang dikirim ke lapangan untuk melindungi Israel."

Mahkamah Agung
Keluarga Schijveschuurder tidak bisa mengerti pendapat seperti itu dan bersama sanak saudara lain mengajukan petisi kepada Mahkamah Agung guna mencegah pembebasan tahanan Palestina.

"Dengan petisi ini kami ingin menghentikan keadaan kacau tersebut. Kami takut, teror nantinya akan menguasai lagi jalan-jalan, bahwa mereka akan kembali membunuh kami di restoran, kafe, pada malam hari ketika kami tengah tidur, di tempat penitipan anak dan sekolah," kata Meir Schijveschuurder kepada acara televisi Belanda, RTL Nieuws.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET