Apa yang menamakan diri pemerintahan Maluku di pengasingan tidak lagi memperjuangkan kemerdekaan.
Demikan dikatakan oleh John Wattilete yang akan menjadi presiden RMS, dalam tanya jawab dengan harian Nederlands Dagblad.
Dengan demikian RMS sudah berubah haluan. Selama ini dari Belanda RMS terus memperjuangkan kemerdekaan Maluku. Wattilete yang akhir tahun ini akan menjadi presiden sekarang bersedia menerima otonomi khusus, seperti yang kini berlaku di Aceh. Yang penting adalah orang-orang Maluku dapat menentukan nasib sendiri, demikian Wattilete.
Pada tahun 1950 ada warga Maluku yang memaklumkan kemerdekaan, tetapi dihalangi oleh tentara Indonesia. Sejak itu ada saja orang Maluku yang memperjuangkan negara sendiri. Pada tahun 1970an di Belanda mereka melangsungkan aksi kekerasan, seperti pendudukan dan pembajakan kereta api, untuk meminta perhatian bagi masalah mereka.


















Tidak diragukan lagi Maluku adalah bagian darah Indonesia! Jujur saja saya khan belum lahir saat kemerdekaan Indonesia dan bergabungnya Maluku.Setelah saya baca sejarah mengapa Maluku adalah bagian Indonesia,ternyata salah satu pendiri negara Republik Indonesia adalah BAPAK KITA,BAPAK JOHANNES LATUHARHARY, ORANG MALUKU!Ini saya kutip bagian Sejarah tentang beliau:
Johannes Latuharhary adalah putra daerah Maluku pertama yang meraih gelar Meester in de Rechten di Universitas Leiden. Sepulangnya dari Belanda ia bekerja menjadi pegawai Hindia Belanda sebagai ketua pengadilan tinggi di Surabaya pada Desember 1927 – Maret 1929. Ia aktif dalam Sarekat Ambon dan pergerakan Nasional dan banyak membwa ide dan persepektif baru dari Eropa. Ia juga menjadi pemimpin umum media Sarekat Ambon “Haloean”. Ia diangkat menjadi Hakim di Surabaya, lalu menjadi Ketua Pengadilan Negeri di Jawa Timur selama 2 tahun, lalu ia memutuskan berhenti supaya dapat lebih aktif dalam organisasi pergerakan. Lalu ia diangkat menjadi Dewan Perwakilan Kabupaten Jawa Timur, kemudian ia pindah ke Malang dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Propinsi Jawa Timur di Surabaya. Ia juga mengetuai Fraksi Nasional sampai Jepang masuk ke Indonesia.
Johanes Latuharhary dilahirkan dalam satu keluarga guru pada tanggal 6 Juli 1900 di Desa Ullath Pulau Saparua. Ia keturunan keluarga besar Latuharhary dari Desa Haruku di Pulau Haruku. Setelah menamatkan pendidikan dasar pada “Eerste Europeesche School” di Ambon tahun 1917, Johanes melanjutkan studi ke Batavia (Jakarta) dan masuk Sekolah Menengah Umum “HBS” dan tamat pada tahun 1923.
Kemudian ke Negeri Belanda dan berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Leiden. Pada tahun 1927 berhasil meraih gelar “Master in de Rechten”. Mr. Latuharhary adalah putera Maluku pertama yang meraih gelar Master di Universitas Leiden Negeri Belanda. Setelah kembali ke Indonesia tahun 1927, Mr. J. Latuharhary segera bekerja dan diangkat sebagai Amtenaar Fer Beschikleing van Yustitie (pegawai yang diperbantukan pada President van de Rood van Justitie (Ketua Pengadilan Tinggi di Surabaya). Di sana ia bekerja sampai tahun 1929.
Sebagai pengacara (advokat) kawakan, Mr. Latuharhary berjuang menolong rakyat kecil dalam menegakan hukum dan keadilan melawan kesewenangan pemerintah Belanda. Mr. Latuharhary kemudian terjun ke dunia politik dan pemerintahan. Di Surabaya di segera aktif dalam organisasi politik “Sarekat Ambon” dan pergerakan nasional. Ide persatuan dan kemerdekaan yang dibawa dari Eropa (Belanda) dimasukkan dalam Sarekat Ambon yang kemudian dipimpinnya.
Bersama dengan para pemimpin organisasi-organisasi politik lainnya, Mr. Latuharhary dengan Sarekat Ambon membawa masyarakat Maluku ke pintu gerbang Kemerdekaan Indonesia. Bersama Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pada saat pembentukan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) Johanes menjadi anggota yang mewakili Maluku. Ia juga hadir pada saat perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Selain itu ia menjadi wakil ketua dalam KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat).
Setelah pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan negara boneka Belanda) dapat dihentikan pada tahun 1950,Latuharhary diangkat menjadi Gubernur Maluku.Gubernur Latuharhary dan stafnya menuju Ambon dan memimpin rakyat Maluku membangun daerah. Setelah menunaikan tugas pengabdiannya di daerah yang ia cintai melalui berbagai tantangan, pada akhir tahun 1954, Mr. J. Latuharhary menyerahkan jabatan gubernur kepada penggantinya dan kembali ke Jakarta dan memangku tugas barunya pada Kementrian Dalam Negeri. “TOKOH NASIONAL DAN PEJUANG KEMERDEKAAN” ini meninggal dunia pada tanggal 8 Nopember 1959 di Jakarta. Sebagai penghargaan dari negara dan bangsanya, Mr. Johanes Latuharhary dihargai sebagai seorang “MAHAPUTRA INDONESIA” dan dianugerahi bintang jasa tertinggi ‘MAHAPUTRA PRATAMA”
Dan saya
Pada saat pembentukan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) Johanes menjadi anggota yang mewakili Maluku. Ia juga hadir pada saat perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Selain itu ia menjadi wakil ketua dalam KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat).
Jadi ternyata orang Maluku: Bpk Johanes Latuharhary ikut andil sebagai founder father Republik Indonesia,pembuat, pendiri Republik Indonesia.Saya sangat kagum dan mari kita mengheningkan cipta dan berdoa utk Bapak Maluku kita,Johanes Latuharhary semoga Tuhan memberkatinya,Amin.
Selain itu,saya juga penasaran kenapa bisa ada RMS?Setelah saya baca sejarahnya,rupanya RMS didirikan oleh Belanda sebagai negara boneka karena tidak ingin melepas jajahannya melalui oknum orang Maluku yang haus kekuasan dan harta yaitu Pak Soumokil dan sisa2 KNIL tentara pribumi Belanda. Ini saya ambil sekilas sejarahnya:
MUNCULNYA RMS (Republik Maluku Selatan), berawal dari sebuah kekecewaan. Dedengkot RMS, dr. MR (Master in de Rechten) Chris Soumokil (Christian Robbert Steven Soumokil) pada waktu itu, berharap jabatan penting dan fasilitas tinggi di pemerintahan NKRI, namun tidak kesampaian. Demikian dituturkan Jacob Jack Ospara, STh, MTh, anggota DPD RI Provinsi Maluku, ketika berbincang dengan Danny Siagian dari wartamerdeka.com, Sabtu (22 Januari 2011).
Jack, panggilan akrab anggota DPD yang ramah ini, mengatakan, waktu itu, Chris Soumokil tidak mendapatkan apapun, setelah Pemerintahan RIS dibubarkan dan kembali menjadi Republik Indonesia. Dengan perasaan sakit hati. "Dia datang ke Maluku, untuk memproklamirkan RMS (Republik Maluku Selatan), bersama mantan pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) yang juga kecewa, ,” ujarnya menceritakan.
Diceritakan, Soumokil belajar hukum di Universitas Leiden, Belanda hingga 1934. Tahun 1935 ia kembali ke Indonesia dan menjadi pejabat hukum di pulau Jawa.
Namun ketika penjajahan Jepang tahun 1942, Soumokil ditangkap oleh tentara Jepang dan diasingkan ke Burma dan Thailand. Setelah perang usai, ia kembali ke Indonesia dan menjadi Jaksa Agung dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT) negara bagian RIS.
“Karena merasa berjasa, dan sakit hati, Soumokil dengan orang-orang bekas prajurit KNIL dan pro-Belanda di antaranya Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu, kemudian mendirikan RMS, dan diproklamasikan 25 April 1950. Soumokil menjadi Menteri Luar Negeri RMS. Kemudian dia ditunjuk sebagai Presiden RMS pertama. Dia menjabat dari 3 Mei 1950 sampai 1966,” lanjut Jack.
Ketika RMS didirikan, Maluku dipimpin Gubernur pertamanya, MR. Johannes Latuharhary, yang masih berkedudukan di Yogyakarta. Akan tetapi, Residen Ambon, J. Manuhutu waktu itu ditodong untuk menandatangani Proklamasi RMS, oleh Soumokil dan mantan KNIL (yang terdiri dari orang-orang Ambon-pasukan khusus Belanda), di markas militer Ambon.
Dalam perjalanannya, RMS kemudian ditentang oleh pemerintah pusat. RMS dianggap memberontak,dan diyakini bahwa RMS adalah cara baru Belanda ingin menjajah Indonesia kembali dengan membuatkan negara2 boneka dengan memanfaatkan orang2 sakit hati seperti Pak Soumokil (RMS),Andi Aziz (Permesta),Sultan Hamid (APRA),dll,Karena RIS bentukan Belanda telah bubar dan menajdi NKRI. Karena Soumokil dan kawan2nya adalah merupakan rekan2 sama2 berjuang, Pemerintah Pusat mencoba menyelesaikan secara damai, dengan mengirim tim yang diketuai Dr. J. Leimena sebagai misi perdamaian ke Ambon.
Tapi kemudian, misi yang terdiri dari para politikus, pendeta, dokter dan wartawan, gagal dan pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas RMS, lewat kekuatan senjata, baik dari darat, laut maupun udara.
Oleh Pemerintah pada waktu itu, dibentuklah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.E. Kawilarang. Disana ada juga Soekowati, dan Slamet Riyadi. Mereka kemudian menyerbu Maluku dan menumpas habis RMS.
“Ketika diserang tentara, mereka ada yang lari ke gunung, ke Pulau Seram, ada yang nyeberang ke Papua, ada yang lari ke Australia, bahkan ke Belanda,” ungkap Jack melanjutkan.
Akhirnya, pada 2 Desember 1963 Soumokil ditangkap pasukan Siliwangi, bekerjasama dengan Kodam Pattimura, dipimpin Brigjen Busyiri. Setelah ditangkap, ia diasingkan ke Pulau Buru dan Pulau Seram. Mahkamah Militer Luar Biasa menjatuhkan hukuman mati bagi Soumokil. Ia kemudian dieksekusi oleh peleton tembak pada 12 April 1966 di Pulau Obi, Halmahera Selatan.
RMS Hanya Bayang-bayang
Setelah Soumokil ditembak, diketahui, RMS dikendalikan dari pengasingan di Belanda. Diketahui pula, Soumokil digantikan oleh Johan Manusama yang menjadi presiden RMS pada 1966-1992, kemudian digantikan Frans Tutuhatunewa hingga 2010 dan dia digantikan oleh John Wattilete.
Namun, Jack mengatakan: “Dapat dipastikan, praktis sejak tahun 1965-1999, yang namanya RMS itu, hanya tinggal bayang-bayang. Sebenarnya tidak ada lagi itu,” tegasnya serius.
Bahkan dikatakan, RMS itu hanya stigma saja. “ Itu hanya opininya saja yang dibesar-besarkan. Di Maluku sendiri, itu tidak ada dianggap berbahaya. Karena gerakan bersenjata sebagaimana dianggap separatispun, itu tidak ada. Kalaupun ada yang menaikkan bendera RMS, itu hanya ‘uneg-uneg’, sebagai luapan kekesalan karena makin parahnya KKN sejak zaman Suharto tumbang hingga sekarang.
Demikian,akhirnya saya dapat gambaran jelas.
heheheheheee...ini dongeng dri mana lagi...blanda dan indonesos itu sama saja...sama2 penjajah...1 org maluku yg duduk di dalam pemerintahan ri belum tentu mewakili semua org maluku atw bangsa maluku....kami bangsa maluku se dari awal adalah bangsa yg merdeka sebelum para penjahat2 dri daratan eropa datang dgn alasan dagang padahal kalian adalah perampok dan di teruskan oleh indonesos....sapa yg kasih hak atw pangakuan buat oknum yg mengatasnamakan maluku bahwa maluku adalah bagian dari indonesos.....tanya dong org maluku sana..kalau memang RMS dalah bentukan blanda lalu mangapa sebagian tentara eks knil malah di bawah kabur k blnda dengan alsan akan di pulangkan kembali ke maluku padahal merka tidak mau krna yg mereka mau adalah di plngkan ke maluku untuk bantu sdra2nya yg lagi prang dengan indonesos.....lalu dri mana pemerinta indonesos mandapatkan kapal2 prang yg di pakai ontuk blokade laut maluku kalau bukan dri pemerintah blanda.....jang crita omong kosong di sini eee...blnda dan indonesos sama2 perampok...org maluku yg tdk mau mengakui itu krna taku nasi jatu dri mulut alias panjilat......lain tidak...kami adalah ALIFURU... ABUKAN BANGSA PENGEMIS KAYA INDONESOS
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.