Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Joss Wibisono
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Reformasi Birma: Indonesia di Antara Amerika dan Eropa

Diterbitkan : 2 Februari 2012 - 12:48pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: Irrawaddy News)
Diarsip dalam:

Selain faktor dalam negeri, faktor internasional juga dianggap berperan pada perubahan tak terbalikkan lagi yang kini melanda Myanmar. Tapi mana yang lebih berperan, gaya ASEAN yang terus berunding atau gaya Eropa dan Amerika yang sama sekali mengucilkan Birma?

Eropa maupun Amerika kini tergopoh-gopoh membina hubungan diplomatik dengan Myanmar, sementara masing-masing negara ASEAN yang sudah punya hubungan diplomatik dengan tenang melanjutkan pendekatan dan pembicaraan.

Upaya diplomatis itu bukan hanya diarahkan kepada penguasa Birma, tetapi juga, bahkan terutama, kepada Aung San Suu Kyi, pemimpin oposisi. Itulah makna kedatangan Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton dan Menteri Luar Negeri Inggris William Hague belum lama berselang ke Birma.

Sepi protes
Langkah ini menyusul pelbagai perubahan di Birma: baik pembebasan banyak tahanan politik maupun perubahan UU Pemilu yang memungkinkan keikutsertaan oposisi, seperti NLD piminan Aung San Suu Kyi.

Pemenang hadiah Nobel Perdamaian ini juga menyatakan akan ikut pemilihan sela April mendatang. Kebebasan berserikat dan berekspresi bisa dikatakan mulai terwujud di Myanmar.

Menariknya, kalau perubahan di Arab berlangsung di tengah protes massa rakyat, di Myanmar perubahan ini justru sepi protes. Protes-protes sebelumnya yang terjadi pada tahun 1988 atau 2007 ternyata tidak membuahkan perubahan yang tak terbalikkan lagi ini. Bagaimana ini bisa dijelaskan?

Rafendi Djamin, sampai akhir tahun lalu menjabat ketua Komisi Hak-Hak Asasi Manusia ASEAN, berpendapat sebenarnya perubahan di Birma sudah dimulai tahun 1997. Waktu itu Myanmar diterima menjadi anggota ASEAN, asosiasi negara-negara Asia Tenggara.

Walaupun diterima, tapi tidak berarti keanggotaan itu berjalan mulus. Amerika Serikat dan Uni Eropa sangat menentangnya.

ASEAN dihalang-halangi untuk berunding dengan para jenderal yang berkuasa mutlak di Myanmar. ASEAN baru menuruti desakan itu pada tahun tahun 2005, ketika Birma dihalang-halangi untuk menjadi ketuanya. Jabatan itu baru boleh dipangku kalau sudah terjadi perubahan politik. Maka lahirlah apa yang disebut “Peta Menuju Demokrasi” yang mulai dianut Myanmar tahun 2006.

Gabungan pendekatan
Dengan begitu sebenarnya gabungan pendekatan ASEAN yang terus melibatkan dan pendekatan barat yang terus mengucilkan ternyata berhasil menggerakkan Birma. Ini dikemukakan oleh Priyambudi Sulistiyanto, ketua Kajian Asia pada Flinders University di Adelaide, Australia. Seraya menekankan desakan dan krisis ekonomi dalam negeri, Priyambudi melihat apa yang disebutnya inisiatif dari luar itu bergabung dengan inisiatif dari dalam untuk menggerakkan perubahan di Birma.

Bagi Priyambudi yang penting bukan saja desakan ASEAN supaya Myanmar tidak memangku jabatan ketua pada tahun 2005, tetapi juga kembali menawarkan jabatan itu pada tahun 2014. Ini disebutnya wujud tekad ASEAN yang terus melibatkan Birma dan tidak mengucilkannya seperti yang dilakukan oleh Uni Eropa atau Amerika.

“Dulu Myanmar memang dihalangi, tetapi sekarang malah didorong, tentu saja dengan syarat-syarat tertentu, termasuk demokratisasi,” demikian Priyambudi.

Membendung Cina
Baik Priyambudi maupun Rafendi juga menunjuk faktor penting berikut: perubahan geopolitik di Asia Tenggara. Selama ini Cina berpengaruh sangat kuat pada Birma.

“Bahkan boleh dikatakan Myanmar selalu dilindungi Cina dan India,” tegas Rafendi.

Dia menunjuk dalam Dewan Keamanan PBB Cina dengan hak vetonya selalu melindungi Myanmar, sehingga tidak pernah ada resolusi PBB untuk sanksi yang lebih berat. “Tapi saya kira Myanmar juga sadar gaya pemerintahan non demokratisnya tidak bisa dipertahankan terus menerus.”

Rafendi mencatat, dengan perubahan sekarang, Myanmar tidak mau lagi tergantung pada Cina. Pemerintahnya berani mengambil langkah sepihak yaitu membatalkan kontrak sebuah dam dengan Cina, dengan alasan hak-hak asasi manusia. Cina marah karena menilai pembatalan ini melanggar perjanjian antara dua negara. Yang jelas gengsi Birma di luar negeri meningkat.

Priyambudi menunjuk satu faktor lagi, kecurigaan Amerika bahwa Myanmar menjalin hubungan dengan Korea Utara. Menurutnya, kepentingan Amerika adalah mendorong perubahan di Birma sehingga bisa membendung pengaruh Cina yang sudah begitu kuat.

Meniru dwifungsi?
Lalu bagaimana dengan peran Indonesia? Pada zaman Tan Shwe, penguasa terdahulu, Birma menganggap Indonesia sebagai teladan, tentu saja Indonesia zaman Orde Baru. Dwifungsi ABRI dan Golkar sebagai kendaraan politik Soeharto merupakan model yang ingin mereka tiru. Apalagi karena militer Myanmar begitu aktif berpolitik.

Ketika sekarang Indonesia tidak mengenal dwifungsi lagi dan Golkar menjadi partai politik biasa, Birma ternyata juga mengalami perubahan. Di luar teladan ini, Rafendi berpendapat Indonesia masih berperan penting. Perubahan di Myanmar terjadi ketika Indonesia menjabat ketua ASEAN, kedua negara juga membina hubungan bilateral. Beberapa kali pejabat kedua negara saling berkunjung. Desember lalu Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa berkunjung ke Myanmar.

Dalam kunjungan itu Menlu Marty tidak hanya bertemu dengan pejabat pemerintah, tetapi juga dengan Aung San Suu Kyi dan kelompok masyarakat sipil yang lain, terutama kelompok etnis minoritas yang masih dalam situasi konflik. Dari sini lahir kesepakatan menjalin kerjasama, antara lain kerjasama politik yang menyangkut tiga hal.

Pertama, pusat kajian strategis. Kedua, kerjasama Komisi Pemilihan Umum, KPU dan ketiga, bidang hak-hak asasi manusia. Komnas HAM Myanmar akan bekerja sama dengan Komnas HAM Indonesia.

“Tiga hal ini merupakan bentuk kongkrit bagaimana Myanmar menganggap penting Indonesia dalam periode transisi ini,” demikian Rafendi Djamin.

Peran Menlu Marty
Bagi Priyambudi yang penting adalah peran Menlu Marty, walaupun ia lebih suka menggabungkannya dengan tekanan dari barat.

“Saya kira nuansanya tidak terlalu jelas, mana yang lebih kuat. Tapi kalau ASEAN tidak didukung Amerika maka perubahan di Birma juga tidak secepat ini,” demikian ketua Kajian Asia pada Flinders University ini.

ASEAN memang sudah melakukan diplomasi bertahun-tahun terhadap Birma, tapi tidak ada perubahan yang mendasar. Di sinilah Priyambudi menunjuk pada tekanan dunia internasional, baik Amerika maupun Uni Eropa.

Di lain pihak ketika sekarang Uni Eropa menghadapi krisis, Rafendi melihat ASEAN sebagai alternatif yang menarik. “ASEAN itu paling berhati-hati untuk tidak menjadi seperti Uni Eropa,” tutur aktivis hak-hak asasi manusia ini.

Uni Eropa ada badan supra, negara-negara anggotanya menyerahkan kedaulatan kepada badan ini. Itu tidak dilakukan oleh ASEAN. Ini mungkin merupakan alternatif yang menarik untuk pengembangan regionalisme. Demikian Rafendi Djamin.
 

Diskusi

Bung Leo 14 Februari 2012 - 7:50am

***** UTANG LUAR NEGERI INDONESIA mencapai Rp. 2.295 triliun. ****
*
Menurut p4enjelasan President SBY pada tanggal 13 Februari 2012 diIstanah Negara Binagraha Jakarta kemarin bahwa, "Utang luar negeri kita telah mencapai Rp. 2.295 triluun" 8tahun silam utang NKRI sebesar Rp. 1.299 triliun dengan Produk Domestik Bruto mencapai Rp.2.295 triliun.
*
Lalu sekarang utang itu berada dalam angka Rp. 1.816 triliun dengan Produk Domestik Bruto mencapai Rp. 7. 226 triliun. Kapankah utang ini, bisa lunas terbayar? sampai ayang tumbuh gigi sekalipun, utang ini akan terus menawan dan menjajah apa yang dinamakan Indonesia atau NKRI. Kenapa? Baca www.ambon.com no. 56854 dan saudara dapat mengertinya dengan tepat dan adil.
*
Jadi apakah NKRI itu negara yang telah merdeka ataukah masih terus dijajah? NKRI adalah negara yang tetap dan terus dijajah dan bukan oleh bangsa asing lainnya, melainkan oleh pemerintahnya sendiri kepada semua bangsa asing. Karena apa? Karena DUIT. Akibatnya, hilanglah kejujuran dan kebenaran dan keadilan pada pemerintahnya dan rakyatlah yang menjadi korban kegenasan pemerintahnya seperti di Syria, Libia, Tunisia, Mesir dan negarqa negara Arab lainnya. Itulah Indonesiamu.

Margono Betawi 5 Februari 2012 - 2:12pm

Beberapa hari berlalu, mentri luar negeri NKRI Marty Natalagewa mendesak Pemerintah USA agar meratifikasi Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Ledakan Nuklir (CTBT). Yang mengherankannya ialah, mereka mendesak Amerika meratifikasi CTBT sementara pelanggaran perjanjian KMB dan UNCI dan Piagam Atlantik (Atlantic Charter) 14 Agustus 1941 mereka abaikan. Apakah itu keadilan dan kebenaran yang dijalankan dan dimainkan oleh politik pemerintah NKRI selama ini? Dapatkah politik pemerintah Indonesia itu, diakui dan dibenarkan seenaknya saja? Ini benar benar nuangsa penipuan dan kebohongan.

Anonymus 10 Februari 2012 - 8:03am / Asal dari Arab

Pertanyaanku ialah, bolehkah Mentri Luar Negeri INDONESIA berkunjung ke Syria untuk membicarakan perdamaian dengan President Azat? Jangan cuma di Asia saja, tapi bolehkah juga datang melihat penderitaan ribuan jiawa yang dikorbankan oleh regimnya Azat ini? Saudara saudara kita sesama muslim membutuhkan bantuan dan pertolongan. Bisakah dibantu oleh pemerintah Indonesia ataukah tidak? Tolonglah, tolonglah bangsa Syria. Terimakasih

Margono Betawi 10 Februari 2012 - 1:54pm

Sebelum bapak bepergian keluar negeri hanya untuk membuang buang duitnya Rakyat, alangkah baiknya bapak duduk tenang sejenak lalu bacalah dan dengarlah bagaimana para ahli hukum sedunia berkomentar tentang konsep pemerintah NKRI dan tanggungjawabnya. karena pada akhirnya, semuanya Kriminal dan bajingan sontoloyo. Baca saja pada www.ambon.com massage no. 56848 dan 56837. Tolong membacanya agar jangan membuat perjalanan bapak keluar negeri terhambat ketakutan karena terlibat dalam konsep KKN.

Anonymous 6 Februari 2012 - 9:26am

Ha...haa..ha.haaaaaaaaaa !!!

Anonymous 7 Februari 2012 - 10:04pm

Apakah bisa, kebaikan dan kebenaran serta keadilan datangnya dari INDONESIA? Apakah ada harapan yang bisa dinantikan datangnya dari Indonesia? Apakah ada bantuan yang bisa diharapkan datangnya dari Indonesia? Apakah ada kejujuran dan ketulusan datangnya dari NKRI? Mustahil bin Ajaib.
*
Apakah mentri luar negeri Indonesia ini (Marty) orangnya bisa juga jujur dalam membicarakan suatu persoalan menyangkut perdamaian dunia atau perhubungan antar negara? Apakah mentri luar negeri Indonesia itu, dia bisa jujur dan dipercayai?

Anonymous 7 Februari 2012 - 10:00pm

Apakah bisa, kebaikan dan kebenaran serta keadilan datangnya dari INDONESIA? Apakah ada harapan yang bisa dinantikan datangnya dari Indonesia? Apakah ada bantuan yang bisa diharapkan datangnya dari Indonesia? Apakah ada kejujuran dan ketulusan datangnya dari NKRI? Mustahil bin Ajaib.

Anonymous 3 Februari 2012 - 11:44pm / Indo

Sebenarnya pemerintah Indonesia itu, ada apa yang bisa diharapkan dari mereka untuk penyelesaian Birma? Apakah cuma dengan gaya SILATURAHMI lalu bisa disebut sebagai alasan membuat hubungan dengan Burma? Konyol, konyol, konyol. Peran politik pemerintah Imndonesia, tidak pernah mendapat perhatian negara manapun. Mereka hanya berpura pura baik didepan, tapi kenyataannya, Indonesia tidak mereka hargai. Kalau Amerika dan Eropa tidak memberikan ultimatum kepada penguasa militer Burma, samapi kapanpun keadaan di Burma tetap saja begitu. Apa peran pemerintah Indonesia di Burma? berbagai jenis kejahatannya sendiri tidak teratasi, lalu mau bicara tentang orang lain? Itu namanya omong kosong.

Flints 8 Februari 2012 - 12:24pm / Myanmar

Membaca komentar anda seperti membaca jeritan orang yang tidak pernah didengar. Telepon 112 supaya ada yang mendengar kamu Nak.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET